Alexa Metrics

Belajar Toleransi di Vihara Dharma Bhakti Kelenteng Tertua di Jakarta

Belajar Toleransi di Vihara Dharma Bhakti Kelenteng Tertua di Jakarta GIAT KERJA-Salah satu pengurus Vihara Dharma Bhakti bernama Ayung. Foto: Purwoko/ INDOPOS
Kawasan Kota Tua Jakarta sangat majemuk. Satu kawasan banyak agama. Ada kawasan Pecinan yang beragama Konghucu dengan berbagai klentengnya. Salah satunya adalah Kim Tek Le atau Vihara Dharma Bhakti, yang merupakan kelenteng tertua di Jakarta, selain Klenteng Ancol.
Purwoko, INDOPOS
KLENTENG Kim Tek Le dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng. Kata Kwan Im Teng kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi klenteng.
INDOPOS yang berkunjung ke klenteng tersebut ditemui seorang pengurus bernama Ayung. Menurut Ayung, Vihara Dharma Bhakti baru kembali dibuka pada hari Minggu 7 Juni lalu. Sebelumnya, klenteng ditutup karena masa PSBB.
“Kami bersyukur klenteng kembali dibuka, sehingga warga yang ingin sembahyang bisa kembali datang,” ujar Ayung, belum lama ini.
Saat INDOPOS menanyakan soal toleransi dengan masyarakat sekitar, Ayung mengatakan, Vihara Dharma Bhakti menjadi simbol toleransi. Karena, meski sebagai tempat sembahyang warga Tionghoa, namun Vihara Dharma Bhakti selalu bersosialisasi dengan warga dari agama lain. “Kami yang setiap hari mengurus vihara selalu berbaur dengan warga sekitar,” ujarnya.
Dalam berbagai kesempatan, vihara juga mengadakan bakti sosial membantu masyarakat yang membutuhkan. “Jadi soal toleransi kami sangat menjaganya,” kata dia.
Ayung menjelaskan, dia punya banyak teman dari latar belakang suku dan agama yang berbeda. “Semuanya hidup rukun dan saling menghargai,” katanya.
Di tempat yang sama, INDOPOS menemu anggota Linmas bernama Ahdori. Ahdori setiap hari ikut bertugas menjaga kawasan kelenteng. Dirinya juga ikut menjaga kendaraan para pengunjung kelenteng dari hal-hal yang tidak diinginkan.”Kami sangat menjaga toleransi dan saling menjaga satu sama lain,” katanya.
Ahdori yang beragama Islam, mengaku tidak mempersoalkan untuk menjaga kelenteng. Karena ia berkeyakinan setiap orang adalah saudara. “Saya bekerka ihlas,” ucapnya.
Berdasarkan sejarahnya, sebelum Perang Dunia II, Vihara Dharma Bhakti ini merupakan salah satu dari empat kelenteng besar yang berada di bawah pengelolaan Kong Koan, selain Kelenteng Kuan Im Tong, Kelenteng Ancol, dan Kelenteng Hian Thian Shang Te.
Kelenteng ini dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan dinamakan Kwan Im Teng. Letaknya di Glodok, sebelah barat daya kota.
Kelenteng pernah dipugar pada tahun 1755 oleh Kapitan Oei Tji-lo dan diberi nama “Kim Tek Ie”. Pada abad ke-18, seiring dengan perkembangan kota yang semakin pesat, Kim Tek Ie dikenal sebagai tempat ibadah masyarakat Tionghoa yang terpenting di Batavia. Setiap pemuja diterima dengan terbuka dan menjadi tempat ibadah yang banyak dikunjungi pejabat-pejabat. Seorang Mayor Tionghoa pernah menyumbangkan dana untuk pemugaran kelenteng.
Semenjak berdirinya, Kim Tek Ie dikelola oleh sebuah organisasi masyarakat Tionghoa yang dibentuk oleh Belanda.
Setelah tahun 1740, Gubernur Jenderal Von Imhoff (1743-1750) membentuk dewan catatan sipil. Untuk masyarakat Tionghoa Batavia, dibentuklah Kong Koan. Kong Koan mengelola kelenteng-kelenteng besar dan pemakaman Tionghoa. Opsir Dewan Kong Koan ikut menyumbangkan dana untuk kegiatan upacara dan pemugaran. Selain itu, pada tahun 1900-an, Kim Tek Ie tercatat menerima uang sewa dari rumah-rumah yang dibangun di atas tanah milik kelenteng.
Setelah kemerdekaan Indonesia, dukungan terhadap Kong Koan merosot. Ketika lembaga itu bubar, pengelolaan diteruskan oleh Dewan Wihara Indonesia (DEWI). Kelenteng Kim Tek Ie dikelola oleh seseorang yang menjabat Kepala Pedupaan (Lu-zhu) bersama asistennya. Mereka mulai mengambil alih berbagai kegiatan kelenteng, seperti mengumpulkan dana dan penyelenggaraan upacara. Kemungkinan Lu-zhu dipilih dari kalangan pengusaha.
Sejak peristiwa tahun 1965, terjadi tindakan pemutusan terhadap akar ketionghoaan dan pembauran dengan masyarakat Indonesia dianjurkan kepada orang Tionghoa. Hal yang sama terjadi dengan kelenteng dan kuil yang memiliki nama Tionghoa. Tempat-tempat ini dianjurkan untuk menghilangkan atau menyembunyikan unsur-unsur Taois yang ada dan menonjolkan sifat Buddhis kelenteng. Nama Sansekerta dipilih oleh lembaga Dewan Wihara Indonesia (DEWI). Nama Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Nama Indonesia hasil terjemahan adalah Kelenteng Keutamaan Emas.
Kelenteng Kim Tek Ie sejak lama dikenal sebagai pusat perayaan hari-hari raya Tionghoa, antara lain Cioko yang dilaksanakan di halaman kelenteng. Sebelum Perang Dunia II, pada Hari Raya Waisak, diadakan suatu Opera Tionghoa Peranakan dalam Bahasa Indonesia yang ikut diramaikan dengan permainan musik Keroncong.
Kelenteng Kim Tek Ie adalah kelenteng bercorak Buddhis-Taois. Itu ditunjukkan dengan tokoh-tokoh kedua kepercayaan yang banyak dipuja di dalam dan di bangunan kelenteng kecil di halamannya, antara lain: Shakyamuni (Buddha), Guanyin, Bodhidharma, Maitreya, Delapan Belas Arhat, Guanyu, San Yuan, Xuan Tian, Shang Di, Cheng Huang Ye, Fu-de, Zheng-shen, Xuan Tan Gong, Mazu, Hua Gong Hua Po, Qing Shui Yan, Can Kui Zu Shi, Cai Shen Ye, Mbah Djugo. (wok) 



Berita Terkait


Apa Pendapatmu?