Dukung Hilirisasi Riset, Kembangkan Produk Kecantikan Berbahan Dasar Biologi

indopos.co.id – PT Phapros Tbk, anak usaha PT Kimia Farma Tbk saat ini sedang mengembangkan produk kecantikan berbahan dasar biologi atau sekret metabolit stem cell bersama Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Direktur Utama PT Phapros Tbk, Barokah Sri Utami (Emmy) mengatakan, pasar kosmetik kini menjadi peluang besar. Maka dari itu, emiten berkode saham PEHA ini menggandeng pusat pengembangan dan penelitian stem cell Unair dalam mengembangkan serum anti penuaan dini berbahan dasar non kimia ini.

“Ini merupakan salah satu dukungan kami terhadap hilirisasi riset. Dalam mengembangkan produk ini, kami juga telah mendapatkan pendanaan dari Kemenristek Dikti (Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi) sebesar Rp20,2 miliar sejak 2017. Kami harapkan semester dua tahun ini sudah siap diproduksi,” ujar Emmy kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Jumat (19/6/2020).

Emmy mengatakan, di sini pihaknya membidik kalangan menengah ke atas sebagai target konsumen serum kecantikan berbahan dasar biologi pertama di Indonesia ini. Sebab, prosesnya cukup rumit, membutuhkan penelitian yang cukup lama dan menggunakan sel yang diambil dari tubuh manusia.

Baca Juga :

“Sehingga produk ini dibandrol dengan harga di atas Rp1 juta per botol. Kami juga berencana bekerja sama dengan klinik kecantikan untuk memasarkan produk ini,” tuturnya.

Saat ini, target penjualan produk ini masih di bawah Rp3 miliar. Namun ke depannya Phapros optimistis jumlah tersebut akan meningkat seiring dengan tren kecantikan yang berkembang saat ini dan permintaan pasar.

Baca Juga :

“Serum ini masih diproduksi secara manual oleh Universitas Airlangga. Sehingga, untuk saat ini kami belum mematok target yang tinggi untuk penjualan,” katanya.

Ke depannya Unair berencana memproduksi sekret metabolit stem cell sebagai bahan baku produk ini di dalam mesin bioreaktor yang akan disertifikasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia (RI). Setelah itu, Phapros akan melakukan formulasi bahan baku tersebut dengan memanfaatkan fasilitas produksi anak perusahaan, PT Lucas Djaja yang terletak di Bandung.

Sebelumnya, pada akhir 2019 lalu Unair dan BPOM RI telah menandatangani nota kesepahaman di gedung Rektorat Unair, Surabaya terkait pendampingan perizinan edar hasil risetnya.

Adapun tiga produk hasil hilirisasi riset yang siap diproduksi adalah stem cell yang bisa digunakan sebagai produk kecantikan hasil hilirisasi riset bersama Phapros, cangkang kapsul dari rumput laut dan allergen.

Rektor Unair, Prof. Muhammad Nasih mengatakan, produk hasil riset untuk masyarakat tidak cukup hanya skala laboratorium. “Untuk produksi massal dan legalitas peredaran produk, dibutuhkan pendampingan dan dukungan dari BPOM,” katanya.

Sementara, Kepala BPOM RI, Penny Lukito menjelaskan, kerja sama yang dilakukan dengan Unair berupa pendampingan dan pembinaan dalam mempercepat perizinan.

“Khususnya pendampingan uji klinis karena dalam proses mendapatkan izin edar ada beberapa produk yang harus diuji klinis dulu untuk melihat keamanan, khasiat dan mutu,” bebernya.(mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.