Monumen Pancasila Sakti Kenang Pahlawan Revolusi, Saksi Bisu Kekejaman PKI

indopos.co.id  Perjuangan ABRI, khususnya TNI-AD, dalam mempertahankan Pancasila sebagai Ideologi negara dan bangsa, menjadikan Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin memusuhi TNI-AD. Akhirnya PKI menculik dan membunuh secara keji terhadap beberapa Perwira Tinggi TNI-AD dalam peristiwa G 30 S/PKI pada 1 Oktober 1965. Perwira-perwira tersebut dibunuh, kemudian jenazahnya dikubur dalam sebuah sumur di Desa Lubang Buaya, Jakarta Timur.


————–

Baca Juga :

PKI Sejarah Kelam Indonesia

Ruas Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, terlihat lengang, Jumat (19/6) siang. Aktivitas masyarakat masih belum terlalu banyak. Mungkin masih masa pandemi COVID-19. Namun, tak jauh dari lokasi, terdapat tempat wisata sejarah yang baru beroperasi. Tempat itu bernama Monumen Pancasila Sakti. Berlokasi di RT001/002, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Masuk ke lokasi, terlihat para pegawai sibuk membersihkan dedaunan yang jatuh dari puluhan pohon besar. Kicau burung terdengar merdu dari pucuk pepohonan. Terlihat baru beberapa pengunjung berwisata ke sini. Rata-rata masih pelajar. Tak mahal masuk ke tempat bersejarah ini. Cukup dengan membeli tiket Rp10 ribu.
Karena pandemi COVID-19, pengunjung harus mengikuti protokol kesehatan. Senyum dan keramahan pegawai dan pekerja membuat pengunjung betah berlama-lama. Mereka berkeliling untuk mengetahui momen bersejarah di lokasi ini.

Baca Juga :

Ketika INDOPOS asyik melihat-lihat monumen, terlihat seorang pria duduk di bawah pohon rindang. Peluh memenuhi wajah dan tubuhnya. Kulit sawo matang dengan rambut pendek itu membuat lelaki ini tegap seperti anggota TNI. Sembari menikmati angin sepoi-sepoi, dia selalu menyapa ramah setiap pengunjung. Mengenakan kaos abu-abu dengan paduan celana bahan hitam serta selop jawa, dia kembali lagi dengan aktivitasnya.

INDOPOS mendekati pria itu. Dia mengaku bernama Niman, 45. Berdomisili tak jauh dari Monumen Pancasila Sakti. Dengan santai dia pun bercerita tentang semua pengalamannya bekerja di monumen yang digagas Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Bapak dua anak itu mulai bekerja di Monumen Pancasila Sakti sejak 1990. Selama 30 tahun bekerja, tentu banyak pengalaman yang tidak dapat dia lupakan.

’’Saya pekerja paling lama yang ada di sini, hampir 30 tahun. Tugas saya membersihkan sumur tua dan dua bangunan lain yang ada di sini. Ya tiap hari aktivitasnya seperti itu yang saya lakoni,’’ katanya polos kepada INDOPOS.

Pria berdarah Betawi ini menjelaskan, setiap kali bekerja membersihkan sejumlah bangunan, dia selalu membaca dokumen yang terpampang di dinding bangunan. Karena keseringan itu Niman dapat menghapal semua kalimat di setiap gedung itu. Bahkan, dia pun tahu sejarah pemberontakan G30 S PKI tersebut.

’’Ya di luar kepala semua bisa saya hapal. Bagaimana tidak hapal tiap hari ketemu dan baca. Kalau ada orang yang tanya ya saya hanya bisa kasih tahu itu. Tentu sangat senang bekerja di sini karena ini tempat bersejarah dari bangsa kita,’’ ungkapnya tersenyum.

Niman mengungkapkan, selama bekerja di Monumen Pancasila Sakti, ada hal yang tak bisa dia lupakan. Yakni, dirinya mendapatkan pengetahuan detail tentang sejarah pemberontakan dari pengikut komunis. Bahkan pengetahuan yang didapatkan di luar bangku sekolah ini kerap dibagi ke anak dan para tetangga.
’’ Saya kadang membagi pengetahuan itu ke anak-anak dan teman anak yang datang ke rumah. Biar mereka tidak lupa akan sejarah yang pernah terjadi di negeri ini. Jika pengetahuan sejarah mereka benar, maka tidak ada lagi yang melakukan pemberontakan,’’ ucapnya.

Masih segar dalam ingatan Niman. Pengalaman yang tidak pernah dapat dilupakan. Selama bekerja di tempat sejarah seluas 14,6 hektare ini dirinya dapat melihat langsung, berjabat tangan, hingga berfoto bersama pejabat penting di negeri ini. Mulai Presiden Orde Baru hingga Presiden Milenium. Puluhan menteri, petinggi TNI dan Polri, sampai duta besar dari sejumlah negara. Kedatangan pejabat penting itu untuk memperingati hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober.

’’Tiap tahun mereka akan ke sini menggelar upacara. Momen ini yang selalu kami nanti. Dengan bersalaman dan foto sama petinggi negeri ini sudah membuat saya bahagia. Tentu bagi kami warga kecil pasti susah ketemu sama pejabat penting ini,’’ imbuhnya.

Gayung bersambut. Usai Niman petugas kebersihan yang berbagi cerita, salah satu pegawai lain pun ingin melakukan hal serupa. Dia bernama Rotua Elisabet, 52, yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Perempuan sawo matang dengan rambut sebahu ini menjadi pegawai monumen sejak 1992. Dia didapuk mengurusi bagian informasi. Selama bekerja di monumen di bawah naungan TNI ini, banyak pengalaman menarik yang didapat. Yakni kerap ditanyai pengunjung mengenai apa saja isi bangunan di lokasi itu.

Dengan pengetahuannya selama bekerja Rotua dapat menjawab itu. Pertanyaan itu kerap datang dari sejumlah wisatawan dari luar kota yakni para pelajar.

’’Terkadang sambil mereka menunggu rombongan yang masih jalan di museum ada saja pertanyaan yang diajukan ke saya. Ya bangga bisa menjelaskan ini ke pengunjung. Jadi ini yang juga menambah wawasan saya tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lampau di tempat ini,’’ celotehnya dengan logat Sumatera Utara.

Rotua bercerita, selama hidup dirinya cukup mengetahui detail apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa pemberontakan pengikut Komunis. Dan tempat sejarah itu pun dapat ditemuinya setiap hari selama bekerja. Dia berharap dengan adanya lokasi ini membuat masyarakat dapat menjaga keutuhan hidup bernegara.

Tak jauh dari lokasi terlihat sosok lelaki tegap berdiri mengawasi lingkungan. Pakai loreng yang dikenakannya itu membuat banyak pegawai cukup mengenalnya. Dia adalah Mayor CAJ Edy Bawono SS, MT. Jabatannya di Monumen Pancasila Sakti sebagai Kasubsi Bim Informasi.

Hampir setiap hari dirinya bercengkerama dengan pengunjung, pegawai, pekerja, dan masyarakat di sekitar monumen yang diresmikan pada 1 Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto ini. Baginya menjaga monumen itu merupakan penghargaan terhormat sebagai sebagai seorang prajurit TNI.

’’Tentu saya bangga dapat tugas untuk mengelola dan mengurusi tempat sangat bersejarah bagi negeri ini. Dari tempat inilah bangsa ini mengetahui adanya kekejaman komunis. Makanya kami sangat senang bekerja di sini,’’ katanya.

Yang membuatnya terkesan bekerja di tempat sejarah itu adalah kedekatan para pekerja dan pengawai untuk memberi edukasi kepada pengunjung mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi di Desa Lubang Buaya itu. Apalagi saat memberikan pelatihan bagi pegawai yang akan memandu pengunjung dalam mengetahui detail kejadian itu secara terperinci.

’’Ada kedekatan emosional di antara kami. Semua saling memahami apa artinya menjaga NKRI ini. Kesadaran ini sulit terbangun jika seseorang tidak tahu secara detail apa yang pernah terjadi di masa lampau,’’ imbuhnya.

Di tempat terpisah, salah satu warga sekitar Monumen Pancasila Sakti, Singit Sumarno, menuturkan ada pengalaman unik yang didapatkan di tempat itu. Yakni sejarah terjadinya kudeta dan pemberontakan yang dilakukan pengikut komunis. Sepeti memaksakan paham yang sulit ditegakkan di negeri yang majemuk ini. Kata dia, hal ini pula yang membuatnya selalu menghormati perbedaan demi menjaga persatuan negara ini.

 

Monumen Pancasila Sakti menjadi saksi bisu kekejaman PKI. Mereka menculik dan membunuh secara keji terhadap beberapa Perwira Tinggi TNI-AD dalam peristiwa G 30 S/PKI pada 1 Oktober 1965. Perwira-perwira tersebut dibunuh, kemudian jenazahnya dikubur dalam sebuah sumur di Desa Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Sebagai penghargaan kepada mereka, Pemerintah memberi gelar Pahlawan Revolusi. Mereka adalah Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI MT Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, dan Perwira TNI Lettu Pierre Tendean Ajudan AH.Nasution.

Untuk mengenang, menghormati, dan menghargai jasa-jasa para pahlawan Revolusi, Jenderal TNI Soeharto sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, mempunyai gagasan. Yaitu membangun monumen sekaligus peringatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Khususnya bagi generasi muda terhadap bahaya laten komunis. Supaya peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Berdasarkan Surat Keputusan Menpangad No. Kep 977/9/1966 tanggal 17 September 1966, setiap tahun dimulai tradisi Hari Peringatan Kesaktian Pancasila. Bersamaan dengan pembangunan Monumen ini dibangun  pula cungkup  sumur, yang digunakan untuk mengubur jenazah tujuh Pahlawan Revolusi oleh PKI.

Menurut situs sejarah-tni.mil.id, PKI melakukan kekejaman tidak hanya di Jakarta tetapi di beberapa daerah di Indonesia. Di antaranya di Madiun. Untuk memvisualisasikan kekejaman tersebut dibangunlah Museum Pengkhianatan PKI (Komunis). Pembangunan museum ini atas prakarsa Kepala Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Brigjen TNI Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dan disetujui oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf dan Presiden Soeharto. Museum yang diresmikan pada 1 Oktober 1992 oleh Presiden Soeharto ini, menyajikan peristiwa-peristiwa kekejaman PKI dalam bentuk diorama, yaitu penyajian tiga dimensi yang berjumlah 34 diorama.

Di samping itu di Monumen Pancasila Sakti juga terdapat Museum Monumen Pancasila Sakti yang menyajikan 9 buah diorama mulai dari rapat persiapan pemberontakan sampai dengan tindak lanjut pelarangan PKI oleh pemerintah dan tiga rumah bersejarah, yang pernah digunakan PKI, yaitu rumah penyiksaan, rumah pos komando, dan dapur umum.

Untuk melengkapi koleksi, di Monumen Pancasila Sakti juga disajikan benda-benda bersejarah lain. Di antaranya, pakaian-pakaian asli milik 7 pahlawan Revolusi di ruang relik dan kendaraan-kendaraan yang ada di pameran taman. Yaitu Panser Saraceen yang digunakan untuk membawa salah satu jenazah Pahlawan Revolusi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, replica Truk  Dodge yang digunakan anggota-anggota PKI untuk membawa Jenazah Jenderal D.I. Pandjaitan ke desa Lubang Buaya, Jeep Toyota Kanvas, kendaraan dinas Pangkostrad dan sedan, dan kendaraan dinas Men/Pangad Jenderal TNI Ahmad Yani. (cok)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.