Mengunjungi Museum Bersejarah Sasmita Loka Ahmad Yani

indopos.co.id – Museum Sasmita Loka Ahmad Yani adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di Jalan Lembang No. 58 dan Jalan Laruharhari No. 65, Jakarta Pusat. Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.

INDOPOS yang berkunjung ke museum tersebut bertemu pengelola museum Sunardi. Sayangnya, saat diutarakan maksud Indopos ingin meliput, menurut Sunardi, untuk peliputan harus meminta izin dulu kepada Dinas Sejarah TNI AD di Bandung. “Mohon maaf, untuk peliputan media harus ada izin dulu,” ujar Sunardi.

Kemudian, INDOPOS pun mewawancarai pegawai museum, Hilmi. Yang bersangkutan juga tidak bersedia diwawancarai. “Peraturannya untuk wawancara harus izin mas,” katanya.

Dari pantauan mata, museum terlihat sepi. Tidak ada satu tamupun yang terlihat. Hanya ada seorang penjaga berbadan tegap, yang menanyai keperluan Indopos. Saat diutarakan untuk meliput, penjaga yang tak mau menyebutkan namanya itu, meminta Indopos untuk izin kepada pengurus.

Dari pantauan, di pintu masuk terpampang mobil milik Jenderal TNI Ahmad Yani jenis sedan Impala berwarna biru. Mobil itu tersimpan dalam sebuah ruangan kaca.

Saat hendak keluar, Indopos bertemu dengan salah seorang warga, Jackson. Menurutnya, museum Sasmita Loka selalu mengingatkan pada kekejaman PKI. Sehingga, sampai kapanpun dirinya tidak akan setuju jika komunis bangkit lagi.

Baca Juga :

Adanya RUU HIP menurutnya menjadi pertanda akan adanya kebangkitan PKI. Sehingga dirinya menolak keras. “Saya pribadi tidak setuju dengan RUU HIP,” jelasnya.

Terkait sosok Jenderal Ahmad Yani, menurutnya, adalah sosok pahlawan yang patut dikenang jasa-jasanya. “Beliau menjadi korban kekejaman PKI. Sehingga kita harus menolak kembalinya PKI,” tegasnya.

Berdasarkan sejumlah sumber, museum ini Dibangun sekitar tahun 1930 – 1940an pada saat pengembangan wilayah Menteng dan Gondangdia, semula gedung ini dipergunakan sebagai rumah tinggal pejabat maskapai swasta Belanda/Eropa.Pada tahun 1950-an dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara, kemudian dihuni oleh Letjen Ahmad Yani sebagai perwira tinggi TNI AD dengan jabatan terakhir Menteri/Panglima Angkatan Darat RI. Rumah ini menjadi tempat bersejarah karena Letjen A. Yani dibunuh dan diculik oleh gerombolan Partai Komunis Indonesia pada tanggal 30 September, 1965, yang kemudian dikenal dengan peristiwa pemberontakan Gerakan Satu Oktober, sebelum akhirnya sekarang dijadikan museum.

Berdasarjan sumber lainnya, Seorang Jenderal TNI Ahmad Yani sempat berdebat sengit saat rumahnya dikepung tentara yang ternyata antek PKI

Namun, perdebatan itu justru membuat sang jenderal bersimbah darah karena ditembak oleh para tentara tersebut

Dalam sejumlah sumber diceritakan, ‘Kala Anak Ahmad Yani Kisahkan Detik-detik Mendebarkan G30S/PKI, Irawan Sura Eddy: Pak Bangun Pak, Ada Tjakrabirawa Mencari Bapak’, tragedi ini terjadi di Jalan Lembang, Jakarta pada Jumat (1/10/1965)

Rumah yang ditinggali oleh Panglima Angkatan Darat kala itu, Letnan Jenderal Ahmad Yani menjadi saksi bisu peristiwa berdarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Putra Ahmad Yani, Irawan Sura Eddy kala itu berusia 7 tahun terbangun dan mendapati ia sendirian kemudian bergegas mencari ibundanya.

Tetapi sang ibunda tak ada, karena sedang berada di rumah lainnya di Jalan Taman Surapati.

Maka ia membangunkan Mbok Mirah, pembantu di rumah Ahmad Yani kala itu untuk menemaninya duduk di ruang keluarga belakang.

Eddy ingin menunggu sang ibu pulang ke rumah agar bisa melanjutkan tidur malamnya. Detik selanjutnya, terdengar suara gaduh dari tempat penjagaan rumah dinas Panglima Angkatan Darat tersebut.

Heningnya malam itu terpecah oleh kegaduhan tersebut oleh kedatangan sepasukan tentara tak dikenal dengan cepat masuk ke halaman rumah. (wok)


loading...

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.