Alexa Metrics

Banjir di Jepang Tewaskan 18 Orang

Banjir di Jepang Tewaskan 18 Orang Banjir di selatan Kyushu menghancurkan rumah-rumah, menyapu kendaraan dan menyebabkan jembatan runtuh, membuat banyak kota terendam dan komunitas terputus.

Indopos.co.id – Petugas penyelamat di Jepang mulai mencari para korban yang selamat setelah belasan orang tewas atau hilang akibat banjir besar yang dipicu oleh curah hujan tinggi di pulau selatan Kyushu.

Pihak berwenang setempat mengkonfirmasi setidaknya 18 orang tewas dan 14 orang hilang di prefektur Kumamoto dan Kagoshima. Foto-foto dari daerah yang paling terkena dampak memperlihatkan rumah-rumah yang hancur akibat banjir.

Pada Sabtu (4/7/2020), Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan akan adanya curah hujan tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Badan itu juga menyerukan penduduk Kyushu untuk mengambil tindakan pencegahan maksimum. Setidaknya 270.000 orang diperintahkan untuk mengungsi di empat prefektur yang ada di seluruh pulau.

Menurut Badan Meteorologi Jepang, Desa Kuma di Kumamoto mengalami curah hujan sebanyak 83,5 mm dalam satu jam pada Sabtu pagi. Sementara itu, kota Kanoya di Kagoshima mengalami curah hujan sebanyak 109,5 mm dalam satu jam pada Senin (6/7/2020). Itu merupakan curah hujan tertinggi dan belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang.

Peringatan hujan lebat masih berlaku di beberapa bagian Kumamoto dan Kagoshima pada hari Senin, dengan perkiraan banjir yang lebih besar masih mungkin terjadi.

Para pejabat di prefektur Kumamato mengatakan bahwa 16 orang lainnya dalam keadaan kritis saat ini dan dikhawatirkan meninggal. Itu terjadi setelah sebuah panti jompo di Desa Kuma tengah mengalami banjir dan Sungai Kuma yang ada didekatnya meluap pada hari Sabtu.

Pasukan Bela Diri Jepang dan otoritas keamanan melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan di prefektur Kumamato dan Kagoshima. Namun, upaya penyelamatan dipersulit oleh kondisi di lapangan. Banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah pegunungan membuat komunikasi dengan ratusan komunitas terputus.

Dalam konferensi pers pada hari Senin, Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan bahwa lebih dari 800 orang telah diselamatkan sejauh ini oleh layanan darurat.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang, ribuan rumah tangga telah diisolasi dan 20.000 petugas pemadam kebakaran saat ini sedang berusaha menjangkau mereka. Pihak berwenang menggunakan 28 helikopter, empat pesawat dan dua kapal pencarian untuk mensurvei wilayah tersebut.

Para pejabat mengatakan kepada CNN bahwa mereka masih mengumpulkan informasi tentang jumlah kematian dan berharap untuk memperbarui angka mereka dalam beberapa hari mendatang. (fay)



Apa Pendapatmu?