Alexa Metrics

Serahkan Bantuan 2,7 Ton Ikan, KKP Edukasi Masyarakat tentang Ikan Patin

Serahkan Bantuan 2,7 Ton Ikan, KKP Edukasi Masyarakat tentang Ikan Patin Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo (kanan) berfoto bersama warga Purwakarta dan ikan patin yang disumbangkan. Foto: Humas KKP.

indopos.co.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyerahkan bantuan 2,76 ton ikan segar untuk masyarakat Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Penyerahan bantuan ini dalam rangka kampanye Gerakan Memasyarakatan Ikan (Gemarikan) yang berlangsung di Kecamatan Pondoksalam dan Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta.

Total bantuan paket Gemarikan berupa ikan segar sebanyak 2,76 ton itu terdiri dari ikan gurame, patin, ikan mas, grass carp, dan ikan nila. Ikan-ikan tersebut dibeli dari usaha tambak masyarakat di Waduk Jatiluhur, Waduk Cirata, Sadang dan sekitarnya.

Di samping mengkampanyekan makan ikan untuk meningkatkan daya tahan tubuh di masa pandemi Covid-19, KKP sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang ikan patin dan ikan dori  yang akhir akhir ini ramai diperbincangkan masyarakat.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo mengatakan, setiap kegiatan kampanye Gemarikan selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat makan ikan serta kandungan gizi di dalamnya.

”Selain edukasi kita juga mengenalkan kepada masyarakat ikan-ikan lokal Indonesia. Untuk itu setiap bantuan ikan yang kita berikan pasti berupa ikan-ikan lokal baik berupa ikan segar maupun produk-produk olahannya yang diproduksi oleh UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) setempat,” ujar Nilanto, Senin (6/7/2020).

Dalam kegiatan Gemarikan kali ini, KKP memberikan edukasi tentang ikan dori. Nilanto menerangkan bahwa nama dori yang selama ini dikenal masyarakat adalah merek dagang yang digunakan Vietnam untuk memasarkan produk fillet ikan patin. Bukan ikan Jhon Dory yang hidup di laut.

”Ini merupakan salah satu praktek mislabelling atau pelabelan nama ikan yang salah. Hal ini bisa dimasukan kedalam kategori penipuan terhadap konsumen,” imbuh Nilanto.

Nilanto lantas mengajak masyarakat untuk membeli produk patin dalam negeri. ”Indonesia sudah punya brand yang bernama Indonesian Pangasius-The Better Choice sejak dua tahun lalu. Pangasius Indonesia dikembangkan dengan probiotik, bukan dengan antibiotik sehingga menjadi pilihan yang sehat. Selain itu, pangasius Indonesia dibudidayakan di kolam dengan air tanah yang bersih dengan kepadatan yang lebih rendah,” urai Nilanto.

Ia menambahkan, ikan patin fillet menduduki posisi sebagai produk populer di retail modern untuk konsumen rumah tangga, industri jasa makanan, hotel, restoran, catering (horeca) dan penerbangan. ”Kendala utama adalah masyarakat yang sudah terlanjur salah kaprah, ditawarin dori mau tapi begitu ditawarin patin gak mau. Inilah yang akan kita lurusin,” tegas Nilanto.

Edukasi terkait dori dan patin ini sangat penting dilakukan, sambung Nilanto, karena milenial mulai menggemari produk olahan ikan. Fillet patin termasuk yang sering disajikan di restaurant atau kafe sebagai makanan fish and chips. ”Pengelola restaurant atau cafe harus memastikan bahwa fillet patin yang diolah adalah patin dalam negeri dan bukan impor dari Vietnam,” pungkasnya.(ind)



Apa Pendapatmu?