Pesan dari Langit yang Jernih

Indopos.co.id – Namanya Bao Zheng. Seorang pejabat dan hakim terkenal di Tiongkok pada masa Dinasti Song Utara. Selama masa tugasnya, Bao yang hidup sejak 999-1062 Masehi ini berjuang keras melawan korupsi.

Dia menyelesaikan banyak kasus rumit dan menghukum gubernur korup, keluarga pejabat tinggi yang kejam, dan pengusaha licik.

Baca Juga :

Bao Zheng mendapat rasa hor- mat dan popularitas luas dari orang-orang di daerah yang dia layani. Sikap jujur, tidak me- mentingkan diri sendiri, dan pe- nilaiannya yang tidak memihak membuatnya mendapatkan julu- kan ‘Bao dari Langit yang Jernih’ (Bao Qingtian) Dilansir TheEpochTimes, Bao Zheng ber- beda dari hakim lain dan pejabat kekaisaran yang sering menggunakan penyiksaan un- tuk memaksa orang-orang mengakui dosa. Hal itu mengakibatkan banyak orang tak bersalah yang dihukum secara tidak adil.

Sebagai hakim yang adil dan cerdas, Bao menyelesaikan kasus-kasus yang melibat- kan rakyat jelata dan bangsawan melalui penyelidikan menyeluruh. Dia mengan- dalkan keterampilan pengamatannya yang tajam, deduksi, kecerdasan, dan kesabaran dibandingkan harus menggunakan pe- nyiksaan. Terkenal sebagai hakim bijak- sana yang dapat memecahkan kasus apa pun, Bao menjadi sosok legendaries. Dia detektif Tiongkok pertama dan mungkin paling terkenal.

Baca Juga :

Legenda tentang Hakim Bao dan kasus- nya telah diteruskan selama ribuan tahun melalui budaya populer, seperti dongeng, novel, drama panggung, acara TV, dan film.

Kisah-kisah Bao Zheng dan kasus-ka- susnya membentuk genre sastra klasik Tiongkok Gong’an, yang merupakan versi Tiongkok dari seri detektif dalam bentuk novel.

Baca Juga :

Kemensos Salurkan Bansos bagi Lansia di Konawe

Pengaruh abadi Hakim Bao dan tradisi gong bahkan dapat dilihat dalam kisah- kisah detektif Tiongkok modern abad ke- 21 yang bercampur dengan formula novel detektif barat seperti Sherlock Holmes. Kisah paling terkenal dan populer adalah Huo Sang Tan’an karya Zheng Xiaoqing, yang berlatar di Shanghai awal 1900-an.

Saat ini, sebagai karakter populer dalam berbagai bentuk seni pertunjukan, Bao sering digambarkan sebagai wajah hitam buram dengan tanda lahir berbentuk bulan sabit ringan di dahinya, bersama beberapa seni- man bela diri yang luar biasa siap melayani.

Bao dilahirkan dalam keluarga terpelajar dan rajin belajar sejak muda. Pada akhirnya, dia lulus ujian pegawai negeri kekaisaran pada usia 29 dan segera ditawari pekerjaan pemerintah sebagai hakim daerah.

Namun, orang tuanya yang berusia lanjut sedang sakit pada waktu itu dan Bao Zheng memutuskan untuk menjadi anak berbakti. Dia mengundurkan diri dari jabatan terse- but dan kembali ke rumah dan merawat orang tuanya selama hampir satu dekade sampai keduanya meninggal.

Bao kemudian kembali ke pemerintahan dan ditugaskan melayani sebagai pejabat setempat.

Dikenal sebagai orang jujur dan bijaksana, dia segera dipromosikan menjadi hakim di ibukota Song, Kaifeng, yang merupakan tempat paling menantang untuk memerin- tah karena banyak bangsawan dan keluarga kuat tinggal di sana.

Namun, dengan mengimplementasikan serangkaian reformasi, Bao mengubahnya menjadi tempat yang tertib hanya dalam waktu satu tahun. Misalnya, secara tradis- ional, seorang penggugat harus menyiap- kan klaim secara tertulis dan meneruskan- nya ke pengadilan melalui petugas panitera. Namun, seringkali keluarga yang kuat akan menyuap pegawai untuk menjatuhkan atau memblokir gugatan tersebut.

Bao lalu mengizinkan orang-orang untuk membuat keluhan secara lisan tanpa harus menyelesaikan dokumen. Dengan cara ini, orang-orang berpendidikan rendah dapat menghindari beberapa ketidakadilan yang dilakukan pejabat yang akan memanipulasi fakta-fakta dalam dokumen.

Pendekatan baru tersebut diketahui sangat meningkatkan ketertiban umum di ibukota. Hal itu karena setiap keluhan serius, tidak peduli siapa yang terlibat, akan ditangani secara adil dan tidak memihak Hakim Bao. Dia juga kemudian dikenal se- bagai Hakim Berwajah Besi.

Suatu kali, kota Kaifeng kebanjiran dan penyelidikan Bao Zheng mengungkapkan bahwa penyebabnya berasal dari banyaknya kebun dan paviliun yang dibangun secara ilegal di atas sungai oleh keluarga-keluarga kuat dan menghalangi air sehingga tidak mengalir deras.

Bao lalu memerintahkan agar bangunan-bangunan tersebut dihancurkan dengan tenggat waktu tertentu. Namun, salah satu pelanggar mengabaikan perintah itu. Ketika ditanyai, dia mengajukan akta tanah dan mengklaim bahwa tanah itu miliknya.

Bao memeriksa akta tersebut secara menyeluruh dan menemukan cacat yang membuktikan bahwa itu palsu. Meskipun mendapat protes dari keluarga yang kuat, Bao memerintahkan agar taman itu segera dihancurkan dan melaporkan masalah tersebut pada kaisar. Tidak lama kemu- dian, banjir surut.

Bao Zheng dikenal sebagai sosok yang disiplin, jujur, dan tidak memihak kepada siapapun. Suatu kali, salah satu paman- nya melanggar hukum dan digugat kor- ban di pengadilan setempat. Bao kemudian memanggil pamannya ke pengadilan dan menyuruhnya dipukuli dengan tongkat sebanyak 100 kali sebagai hukuman.

Bao juga sangat ketat terhadap keluarg- anya. Meskipun memiliki posisi tinggi, dia menjalani kehidupannya dengan sederhana. Di bawah pengaruhnya, anak-anaknya memiliki sifat yang juga hemat. Mereka biasanya mengenakan pakaian sederhana dan polos kecuali ketika mengunjungi te- man atau menghadiri pesta.

Di usia tuanya, Bao menetapkan aturan keluarga yang selalu dipegang teguh. ’’Di antara anak-anak saya yang bekerja di pemerintahan, jika ada yang melanggar hukum atau menjadi korup, ia tidak akan kembali ke kampung halaman kami, dan ia tidak akan dimakamkan di pemakaman keluarga. Saya tidak akan mengakui mereka yang tidak mengindahkan kata-kata ini,’’ tegasnya.

Setelah Bao meninggal, beberapa puter- anya lulus ujian pengadilan kekaisaran dan menjadi pejabat. Mereka semua terkenal mencerminkan kebajikan Bao dan dipuji oleh orang-orang sebagai pejabat yang jujur. Karena dedikasinya yang tak kenal kompromi dalam menegakkan hukum, Bao telah menjadi simbol budaya keadilan di Tiongkok. (fay)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.