Alexa Metrics

Rapid Test

Rapid Test esai-disway

Respons dari daerah lain sangat minim. Pun tidak ada kebijakan nasional yang mendukung penyebaran temuan itu. Pa- dahal penemuan dokter Andani itu tinggal di-copy. Dokter Andani sendiri mau mem- bagi ilmunya itu secara suka rela.

Semua uraian ilmiahnya bisa didapat den- gan gratis. Dokter Andani juga bersedia memberikan tutorialnya secara gratis. ”Bagi saya ini jihad. Rakyat harus diselamatkan dari Covid-19,” ujar Andani.

Akhirnya memang ada permintaan dari Jatim. Kabarnya begitu. DI’s Way belum berhasil menelusuri apakah benar Jatim sudah mulai meminta.

Kalaupun ada permintaan seperti itu su- dah sangat telat. Jatim telanjur dinilai babak belur oleh tingginya angka Covid-19 mau- pun oleh konflik antara Gubernur Khofifah Indar Parawansa dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Apakah betul ada permintaan dari Jatim itu? Dokter Andani belum tahu.

”Seandainya ada pun saya harus bertanya dulu. Apakah Jatim benar-benar minta dibantu,” ujar Andani kemarin. ”Kalau, misalnya, saya nanti ke Surabaya tapi respons di sana dingin, saya yang tidak enak,” ujarnya.

”Kalau seperti itu tidak akan berhasil,” tambahnya. Saya pun harus minta maaf kepada pembaca DI’s Way.

Kolom ini telah banyak terbuang un- tuk promosi penemuan cara lebih cepat melakukan test swab ala Sumbar itu.

Saya jadi ingat ceramah Prof Djohansjah Marzoeki, pelopor bedah plastik di Surabaya. ”Sering sekali masalah ilmiah kalah dengan ego,” ujarnya saat memberi- kan tribute lecture dua tahun tahun lalu. ”Masalah ilmiah juga sering kalah dengan subjektivitas,” tambahnya.

Saya tidak akan lupa isi ceramah itu. Kampus yang seharusnya menjadi lembaga ilmiah dalam praktik sering tidak ilmiah. Acara hari itu mestinya untuk kalangan akademisi Unair sebagai penghargaan atas jasa luar biasa Djohansjah ke almamater. Saya diundang untuk hadir.

Prof Djohansjah dianggap sangat berjasa untuk Unair khususnya untuk Fakultas Ke- dokteran. Karena itu acara tersebut diada- kan khusus oleh junior-juniornya di Aula Fakultas Kedokteran.

Tentu tidak hanya kampus yang harus menjunjung tinggi ilmu. Lembaga seperti laboratorium pun seharusnya juga. Tapi begitu sulit untuk mengakui penemuan ilmiah oleh laboratirium lain.

Di kampus juga sama. Ego masih lebih sering tampil daripada ilmu, termasuk dalam hal penyelamatan manusia. Aki- batnya lebih enak ambil jalan pintas, rapid test. Tinggal beli alat yang bisa diimpor dengan mudah. Soal efektivitas bisa di- sisihkan.

Dan rapid test sudah menjadi bisnis be- sar. Juga sudah ikut menguras anggaran publik. Siapa pun yang melakukan per- jalanan antardaerah harus melakukan itu. Yang ilmiah pun juga sering kalah dengan bisnis. (*)



Berita Terkait


Apa Pendapatmu?