Meski Belum Ada, Tapi Kuatkan Koordinasi

Mari Antisipasi Serangan Flu Babi G4

Indopos.co.id – Pemerintah melakukan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam pencegahan potensi Virus Flu Babi G4 EA H1N1 yang dapat menimbulkan pandemi, termasuk penguatan koordinasi antara kementerian dan lembaga (K/L).

”Langkah dan upaya yang perlu kita lakukan dalam mengantisipasi pandemi akibat Virus G4 EA H1N1 adalah mari bersama-sama penguatan komunikasi, penguatan koordinasi dan kolaborasi antarkementerian/ lembaga terkait,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto dalam diskusi virtual tentang Flu Babi G4 yang dipantau di Jakarta, Jumat (10/7).

Baca Juga :

Segala pemangku kepentingan yang terkait di bidang kesehatan masyarakat, hewan dan satwa liar, lanjut Yurianto, harus berkolaborasi dengan masyarakat dalam melakukan berbagai langkah pencegahan itu.

”Berbagai langkah itu merupakan pilar keberhasilan dalam pencegahan dan pengendalian zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia,” ujarnya.

Menurut dia, pencegahan penting dilakukan karena 75 persen penyakit infeksi emerging–emerging infectious disease (EIDs)–adalah jenis zoonosis, dengan salah satu penyebabnya adalah peningkatan interaksi manusia dengan hewan.

”Zoonosis cenderung menimbulkan mortalitas tinggi pada hewan dan manusia sehingga berakibat pada kehidupan, keselamatan, perekonomian serta kesejahteraan manusia,” katanya.

Baca Juga :

Yurianto menjelaskan, virus flu itu sudah beredar di populasi babi di Tiongkok dengan varian paling umum dari Virus Flu EA H1N1 yang ditemukan adalah galur atau strain genotipe 1, tapi galur tersebut bermutasi hingga muncul genotipe 4 (G4).

Berdasarkan laporan dari penelitian Virus G4 dapat melekat pada reseptor yang mirip dengan manusia pada lapisan saluran pernapasan dan menyerang bagian atas saluran napas yang kemudian dapat menuju paru-paru.

Di tempat terpisah, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita memastikan bahwa sejauh ini Virus Flu Babi G4 EA H1N1 belum ditemukan di Indonesia.

”Berdasarkan data dan informasi yang kami miliki, Virus Flu Babi galur yang baru ini belum pernah ditemukan di Indonesia,” katanya ketika membuka diskusi virtual tentang Flu Babi G4 di Jakarta, Jumat (10/7).

Hasil itu didapatkan dari data surveilans dan analisa genetic yang dilakukan oleh Balai Veteriner Medan, Sumatera Utara dan Balai Besar Veteriner Wates, Yogyakarta. Dia menekankan bahwa Flu Babi berbeda dengan Demam Babi Afrika atau African swine fever (ASF) meski keduanya menginfeksi babi. ASF sendiri hanya menular dari hewan sakit ke hewan lainnya dan tidak pernah terbukti menular ke manusia.

Sedangkan Flu Babi dapat menginfeksi babi dan manusia dengan beberapa gejala di antaranya adalah demam dan mengeluarkan cairan padan hidung dan mata. Namun, Ketut menegaskan bahwa publikasi ilmuwan Tiongkok soal galuar baru G4 itu akan menjadi perhatian bagi pemerintah.

”Karena babi berperan penting dalam ekologi virus influenza. Babi merupakan hewan yang sensitif terhadap reseptor mamalia dan unggas dan dapat berperan sebagai mixing vessel yang dapat meningkatkan potensi mutasi virus,” kata dia.

Sebelumnya, penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 29 Juni 2020 tentang galur atau strain baru dari flu babi H1N1. Virus flu itu sebelumnya sudah beredar di populasi babi di Tiongkok dengan varian paling umum dari virus flu EA H1N1 yang ditemukan adalah galur atau strain genotipe 1.

Tapi galur tersebut bermutasi hingga muncul genotipe 4 (G4). Berdasarkan laporan dari penelitian Virus G4 dapat melekat pada reseptor yang mirip dengan manusia pada lapisan saluran pernapasan dan menyerang bagian atas saluran napas yang kemudian dapat menuju paru-paru. Beberapa waktu lalu, Kemenkes sudah mengingatkan pentingnya pengolahan makanan dan tidak mengonsumsi satwa liar untuk mencegah terkena zoonosis atau penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan ke manusia.

”Kita ketahui bahwa sebenarnya penyakit yang ada di manusia ini hampir 80 persen adalah penyakit yang berasal juga dari hewan, baik itu hewan ternak maupun satwa liar,” kata Direktur Penyakit

Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers virtual Kemenkes yang dilakukan di Jakarta pada Kamis (9/7). Perlu diwaspadai, lanjut dia, kebiasaan mengolah makanan yang tidak dimasak dengan baik tentunya memunculkan potensi penularan dari hewan ternak kepada manusia.

Selain itu kebiasaan memelihara atau mengonsumsi satwa liar juga turut meningkatkan risiko tersebut. Dia memberi contoh bagaimana di sebagian wilayah Indonesia terdapat kebiasaan mengonsumsi satwa liar seperti ular dan kelelawar karena dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh. Ia menegaskan, mengonsumsi daging atau bagian tubuh hewan liar jauh lebih berisiko dibandingkan memakan daging hewan ternak.

”Ini tentunya menjadi perhatian untuk kita menjaga pola makanan kita dan melakukan pengolahan makanan dengan sebaikbaiknya,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir muncul penyakit yang diperkirakan berasal dari hewan dengan baru-baru ini ditemukan Virus Flu Babi jenis bervarian genotipe 4 (G4) EA H1N1 di Tiongkok yang berpotensi menjadi pandemi seperti COVID-19.

Menurut Nadia, beberapa sebab adanya kemungkinan Flu Babi G4 itu berpotensi menjadi pandemi antara lain karena meski Virus Flu Babi sudah beredar di populasi babi negara tersebut, varian paling umum adalah Virus Flu EA H1N1 dengan strain genotipe 1 (G1), namun strain tersebut bermutasi hingga muncul G4.

Kemenkes turut mengajak masyarakat untuk waspada dengan ancaman Virus Flu Babi jenis baru yang berpotensi menjadi pandemi. ”Jadi sebenarnya kita tidak perlu takut di sini terhadap Virus G4, tapi yang perlu kita lakukan adalah kewaspadaan mengapa bisa menjadi potensi pandemi?” kata Nadia.

Ia menambahkan, beberapa sebab mendorong kemungkinan virus tersebut berpotensi menjadi pandemic antara lain virus itu sudah beredar di populasi babi China dengan varian paling umum dari Virus Flu EA H1N1 adalah strain genotipe 1 (G1), namun strain tersebut bermutasi hingga muncul genotipe 4 (G4).

Kemudian, berdasarkan laporan hasil penelitian Virus G4 tersebut dapat melekat pada reseptor yang mirip dengan manusia pada lapisan saluran pernapasan manusia dan menyerang di bagian atas saluran napas manusia, yaitu di bagian trakea yang kemudian dapat menuju paru-paru yang dikhawatirkan akan terjadi kesulitan bernapas bila terinfeksi penyakit itu.

Selain bisa menuju paru-paru manusia, Virus G4 dapat juga menginfeksi sel epitel pada saluran napas manusia. Sel-sel yang biasanya melapisi bronkus dan alveoli manusia berhasil diinfeksi dengan virus G4 menurut hasil laporan penelitian di laboratorium. Setelah masuk ke sel-sel manusia, virus baru itu berkembang biak dan menyebar di sana. Hewan sejenis musang yang terinfeksi G4 dapat menularkan virus tersebut melalui tetesan air liur atau kontak langsung.

”Jadi Virus G4 ini kita tahu dari babi, yang kemudian babi ini adalah hewan ternak, tetapi kita juga melihat babi ini ada babi yang sifatnya babi liar. Babi liar ini yang mungkin menjadi pembawa atau penular satwa liar lainya, termasuk musang,” ujar Nadia.

”Kemudian musang ini kalua terinfeksi Virus G4 dapat menyebabkan hewan ataupun kemungkinan tertular pada manusia. Walaupun memang belum ditemukan, tapi artinya penularan ini bisa terjadi karena melalui tetesan air liur yang berupa droplet,” kata Nadia.

Berikutnya, Nadia mengatakan bahwa Virus G4 tidak dapat diproteksi dengan vaksin flu yang sudah ada karena strainnya berbeda. Namun, dengan sudah ditemukannya vaksin flu H1N1, maka upaya untuk menemukan vaksin untuk Virus G4 akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan upaya untuk mengembangkan vaksin COVID-19. Sejauh ini, Nadia mencatat belum ada penularan yang terjadi antara manusia ke manusia.

”Yang terjadi adalah penularan G4 ini berasal dari babi yang kemudian menular kepada manusia ataupun peternaknya ataupun orang yang bekerja pada peternakan babi yang ada di situ,” jelasnya. ”Nah, ini yang jadi kewaspadaan kita untuk mencegah adannya kemungkinan penularan atau berkembangnya penularan dari manusia ke manusia,” kata Nadia. (ant/nas)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.