Alexa Metrics

Ada Secangkir Kopi di Arsitektur

Ada Secangkir Kopi di Arsitektur Suhartono & adri anto/INDOPOS & astra.co.id

Indopos.co,id – Mentari pagi bersinar cerah. Angin Berembus dari segala penjuru. Meski gedung pencakar langit mulai tumbuh dan menyebar di ibu kota, angin tetap bisa bergerak leluasa dan menerobos di selasela pepohanan yang kini kalah tinggi dengan gedung-gedung jangkung.

Gedung-gedung simbol kemegahan ibu kota ini memiliki ketinggian beragam. Mulai 200 meter hingga 330 meter. Desain dan arsitekturnya pun unik-unik dan estetik. Jika ekosistem alam mulai goyah dan malam mulai menyapa, gedung-gedung ini memendarkan cahaya bak seribu kunang-kunang di Kota Manhattan Sungguh memanjakan mata.

Pencahayaan gedung dikombinasikan dengan beragam lampu spot dan LED sebagai media promosi menarik bagi masyarakat yang melintas jalan protokol. Kelihaian membuat desain menjadi nilai lebih. Sebut saja Menara Astra. Gedung yang berada di kawasan Sudirman Jakarta itu memiliki ketinggian 261,5 meter dengan 63 lantai. Gedung yang dibangun Nikken Sekkei Ltd memiliki beragam fungsi menarik. Meski fungsi utama sebagai perkantoran, gedung milik Astra Group ini dilengkap fasilitas hiburan dan kuliner dan heliped pribadi.

’’Selamat siang, bisa kami bantu?” ujar petugas resepsionis menyapa INDOPOS. ’’Mau ke lantai 30 ke CMK,’’ kata INDOPOS sembari menunjukkan kartu tanda pengenal. Petugas pun langsung memberikan akses masuk.

Saat naik tangga escalator, INDOPOS disambut dengan karya seni mozaik Oom William Soeryadjaya, sosok pendiri Astra. Mozaik disusun dari ribuan bagian bersatu padu menjadi representasi manusia-manusia yang membentuk sebuah struktur indah.

Semangat berdiri menjadi satu, membangun Astra melesat ke masa depan. Di kanan eskalator, terdapat karya seni patung. Yang menggambarkan Catur Dharma. Yakni, Gagasan, Memberi, Sinergi, dan Harmoni. Di kiri, terdapat lukisan gunungyang bermakna Prosper with the Nation. Lukisan juga terdapat di depan Catur Dharma Hall yang dipadu dengan relief. Ini menggambarkan keanekaragaman Indonesia yang dimaknai sebagai Satu Indonesia.

Di ruangan ini juga terdapat galeri lukisan yang menggambarkan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Karya seni ini berjudul Pride of the Nation. Dan satu lagi Flying Angel, yang berarti Dream to the Future.

”Hai Mas, masuk,’’ ujar Andi Rizal, Manager Operasional, Cahaya Multi Komunika. Andi merupakan salah satu pegawai CMK yang menempati Menara Astra. Dia menyewa co-working space dengan masa kontrak hingga lima tahun.

’’Di sini ada lima lantai disewakan kepada pengelola co-working space,’’ katanya.

Suasana yang nyaman dan tak jauh dari pusat bisnis menjadikan dia memilih Menara Astra. Apalagi sebelum menyewa, Menara Astra merupakan perkantoran dengan kualitas Grade A Office. Gedung perkantoran ini mengadopsi standar Green Building peringkat Platinum.

’’Di dalamnya dilengkapi 27 lift dan memiliki 1.100 tempat parkir. Selain itu, terdapat Restoran, Minimarket, ATM, Foodcourt, Bank dan Musala sebagai fasilitas di kawasan kantor,’’ ujar Andi.

Menara Astra dibangun di atas tanah seluas 1,1 hektare, memiliki 47 lantai konstruksi, serta sarana pendukung retail tiga lantai dan enam lantai basement, terhitung total hingga lantai 63. Menara ini juga dilengkapi Convention Hall berkapasitas hingga 1.500 orang. ’’Semua tercover di sini,’’ katanya.

Dengan ketinggiannya tersebut menjadikan Menara Astra sebagai gedung tertinggi keempat di Jakarta. Juga meraih Building and Construction Authority Green Mark Platinum Certificate karena memiliki efisiensi energi 40% atau lebih dibandingkan gedung pencakar langit pada umumnya.

”Banyak kelebihannya, karena semua bisa diakses,” katanya. Selain Menara Astra, banyak gedung pencakar langit yang memberikan kemudahan dalam menjalankan bisnis. Apalagi Jakarta masih menjadi incaran investor dan pengembang serta pembeli kelas menengah dan menengah-atas Jakarta.

Berdasarkan pantauan INDOPOS, ada beberapa gedung pencakar langit yang megah. Di antaranya Bakrie Tower, Wisma 46, Menara Plaza, Uob Plaza. Gama Tower, Treasury Tower, BNI City Tower, Sahid Sudirman Center, Hotel Raffles Jakarta,The Pakubuwono Signature, Sinarmas MSIG Tower, Menara BCA, Casa Domaine Tower 1, Keraton at The Plaza, dan Telkom Landmark Tower 2.

Cholidah Ariyani, pengamat bangunan dari Universitas Indonesia (UI) mengemukakan, membangun gedung tak seperti membangun rumah. Namun ada beberapa faktor yang mesti diacuhkan dalam perencanaan bangunan. Seluruhnya harus sebanding jika hendak mendapatkan desain bangunan terbaik.

’’Yang paling penting adalah desain, karena desain merupakan pondasi dalam membangun,’’ ujar Cholidah Ariyani.

Cholidah mengemukakan, contoh desain yang tidak seimbang adalah bangun rumah estetis tapi strukturnya tidak powerful. Dengan kata lain keindahan bangunan segera roboh sebab struktur tidak kuat.

”Ada pun yang bangunanya powerful dan estetis namun memerlukan ongkos besar yang seharusnya dapat dihemat tersebut berarti desainya tidak memperhatikan hal ekonomis. Ada pun bangunan yang indah, kuat, dan murah namun tidak sehat yakni ventilasi udara tidak bagus sehingga tidak cukup mendukung kesehatan serta kenyamanan penghuninya,” jelasnya.

Ida, begitu biasa dia disapa, mengemukakan ada faktor yang harus diperhatikan pada saat perencanaan bangunan. Yakni, kekuatan, stabilitas, estetika, ekonomis, ramah lingkungan, kesehatan, dan kenyamanan.

’’Bagaimana caranya supaya bangunan dapat tetap berada pada posisi yang direncanakan, tidak oleng atau bahkan roboh,’’ katanya.

Itulah sejumlah hal yang butuh diseimbangkan dalam mendesain bangunan. Ibarat menciptakan secangkir kopi, dosis gula, kopi, dan airnya mesti diciptakan pas supaya rasanya nikmat, tidak pahit, pun tidak terlampau manis.

’’Pastikanlah selalu memilih arsitek profesional yang berkualitas dan berpengalaman untuk merencanakan desain bangunan Anda demi keamanan,kenyamanan, dan kepuasan hingga peningkatan nilai investasi,’’ katanya.

Properti Makin Naik

Senior Associate Director Colliers International (konsultan properti) Ferry Salanto mengemukakan, kondisi COVID-19 memang sempat memengaruhi pembangunan gedung pencakar langit di Jakarta. Aktivitas yang mengundang banyak orang dalam membangun membuat mereka menghentikan sementara pembangunan.

 Namun, dengan kondisi membaiknya ekonomi dan pasar properti, maka harga diperkirakan juga bakal meningkat secara signifikan seperti terjadi sebelumnya.

”Pada saat ini juga lebih berpotensi untuk bernegosiasi cara bayar atau meminta kontrak yang lebih fleksibel untuk sewa properti,” katanya.

Bahkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sempat menghentikan aktivitas perkantoran tak membuat ‘pamor’ gedung-gedung pencakar langit berhenti menunjukkan keperkasaannya. Gedung tersebut tetap bersinar dan memesona saat malam tiba.

Selain didukung infrastruktur memadai, kawasan ini juga terbukti memiliki pertumbuhan cukup pesat dalam satu dekade terakhir.

’’Kawasan koridor timur Jakarta dinilai paling siap menjadi pusat kebangkitan ekonomi nasional khususnya Jabodetabek usai pandemi COVID-19,’ katanya.

Wakil Ketua Umum Koordinator DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Tata Ruang, Pengembangan Kawasan dan Properti Ramah Lingkungan Hari Ganie mengatakan, kawasan ini dikenal sebagai sentra industri terbesar di Asia Tenggara dan strategis karena menghubungkan dua kota besar yakni Jakarta dan Bandung.

’’Dua kota besar ini nantinya tidak hanya terkoneksi lewat tol, tetapi juga dengan kereta cepat. Koridor timur Jakarta bisa jadi satu satunya kawasan megaurban,’’ ungkapnya.

Menurut Hari, peran strategis koridor timur Jakarta makin besar dengan keluarnya Perpres Nomor 60 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang dan Kawasan Perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabek-Punjur). Kawasan timur Jakarta itu juga paling cepat pertumbuhannya ketimbang kawasan lain di sekitar Jakarta lantaran didukung sekitar 10 jenis infrastruktur baru.

”Kami kira memang koridor timur Jakarta ini paling memenuhi syarat untuk bangkit lebih dulu pasca pandemic COVID-19 ketimbang kawasan lainnya,’’ ujar Hari.

Berdasarkan data REI, koridor timur yang terbentang dari Bekasi, Cikarang, hingga Karawang tumbuh cepat. Saat ini sekitar 47 persen pasokan perumahan di Jabodetabek berlokasi di koridor ini.

’’Kini sudah ada sekitar 15 pengembang besar masuk ke koridor timur. Bahkan sudah ada konsorsium yang beranggotakan sembilan pengembang terkemuka di sana. Ini satu potensi pengembangan yang besar sekali,’’ kata Hari.

Saat ini ada sekitar 55 lebih gedung pencakar langit di Jakarta. Angka ini melampui Kuala Lumpur dan Singapura, yang satu dasawarsa lalu masih di atas Jakarta. Berdasarkan data Skyscraper Center, Jakarta berada di urutan ke-7 sebagai kota dengan pencakar langit di atas 200 meter.

’’Pengembang harus menyediakan terobosan dan menciptakan produk yang terjangkau dan memprioritaskan faktor kesehatan dan keamanan, sehingga calon pembeli dan penyewa akan tertarik,’’ kata Head of Advisory

Services Colliers International Indonesia, Monica Koesnovagril. Menurut Monica, konsep produk properti yang menekankan kesehatan selayaknya diterapkan pengembang di berbagai produk propertinya, mulai rumah tapak, apartemen bertingkat, gerai ritel, gedung perkantoran, hingga kawasan industri.

Hal tersebut, lanjutnya, penting karena calon pembeli dan penyewa umumnya akan memperhitungkan analisis cost-benefit untuk mencapai keputusan yang akan diambil masing- masing mereka terkait properti.

’’Ekspektasi yang lebih tinggi dari penyewa dan pembeli perlu diantisipasi pengembang,’’ ucapnya.

Berbeda dengan 10 tahun lalu. Seluruhnya berada di segitiga emas di pusat bisnis (CBD) Jakarta. Kini, gedung-gedung tersebut tersebar ke beberapa lokasi. Antara lain di Kemayoran, Pluit, Palmerah, Kebayoran Baru, Karawaci, hingga Cikarang. Yang juga perlu dicatat, saat ini Jakarta membangun gedung super tall, yakni pencakar langit dengan ketinggian di atas 300 meter. Keempat bangunan tersebut adalah Thamrin Nine Tower 1, Fortune Tower, serta dua menara Indonesia One. Membangun pencakar langit dengan ukuran super tall memang dambaan banyak orang. (ash)



Apa Pendapatmu?