Alexa Metrics

Sandi Uno Ungkap Pentingnya Berkolaborasi dalam Berbisnis

Sandi Uno Ungkap Pentingnya Berkolaborasi dalam Berbisnis Sandiaga Salahuddin Uno

indopos.co.id – Rumah Siap Kerja berkolaborasi dengan Sandiaga Salahuddin Uno menyelenggarakan acara talkshow virtual bertajuk “Pulihkan Ibu Pertiwi: “2020 Era Kolaborasi”, Sabtu (11/7/2020).

Talkshow kali ini membahas tentang pentingnya kolaborasi antar bisnis untuk terus bertahan dalam kondisi pandemi. Talkshow yang digelar secara daring ini menghadirkan dr. Tirta dan Wahyu Alikarman sebagai pembicara utama.

Acara ini juga turut dihadiri oleh lebih dari 50 perserta yang berasal dari kalangan umum serta mahasiswa dari Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, Universitas Taman Siswa Padang, ESQ Business School, UIN Jambi, Universitas Negeri Padang, Universitas Brawijaya, serta anggota komunitas Suduik Minang dan Muda Literat.

Talkshow tersebut dimulai dengan penjelasan definisi kolaborasi dalam berbisnis beserta contoh kolaborasi bisnis kekinian yang sukses seperti Adidas x Yeezy atau Oreo Supreme.

“Melalui kolaborasi, dua usaha berbeda dapat melengkapi kelemahan satu sama lain, sehingga kinerjanya dapat lebih efektif dan efisien dan keduanya mendapatkan win-win solution,” kata Sandiaga.

Dalam kesempatan ini, Sandiaga juga menyoroti betapa pentingnya kolaborasi dalam bisnis dan berbagai manfaat yang bisa didapat dari kolaborasi seperti menumbuhkan inovasi, membangun network, memangkas biaya bisnis, menyelesaikan masalah.

“Dari kolaborasi juga bisa belajar banyak hal baru dari mitra yang bisa meningkatkan kemampuan usaha kita menyampaikan value,” ujar mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini.

Menurut Sandiaga, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membentuk kolaborasi yang tepat dalam situasi new normal. Salah satunya adalah memperhatikan cakupan dan durasi kolaborasi karena kolaborasi bukan open-ended. Pastikan kolaborasi sesuai target.

Selain itu, penting pula untuk memperhatikan tren konsumen yang sangat dinamis dan berubah-ubah secara cepat dan maksimalkan digital marketing untuk menggaungkan kolaborasinya. Terakhir, perlu juga ditinjau melalui monitoring dan evaluasi dari kolaborasi kita.

“Kuncinya kita harus bisa beradaptasi dengan hasil outcome dan performa dari kolaborasi untuk menentukan whether to stop or lanjut,” kata Sandi.

Politisi Gerindra ini mendorong para audiens webinar dan pelaku bisnis UMKM untuk melakukan kolaborasi sebagai salah satu strategi marketing.

“Kolaborasi engga harus dengan brand besar atau selebriti terkenal. Jika ada satu usaha yang memiliki proses produksi yang bagus, ketekunan atau konsistensi dari segi produksi, meski bukan brand besar maka jangan ragu untuk berkolaborasi. Kolaborasi adalah bagian silaturahim, dimana pasti itu ada rezeki. Kita tunggu cerita-cerita sukses dari kolaborasi teman-teman,” jelas Sandiaga.

Sementara itu, dr. Tirta berbagi pengalamannya dalam menjalankan kolaborasi bisnis. Dia bercerita dirinya mulai berbisnis sepatu sejak di bangku kuliah. Lalu kemudian, akhirnya membentuk kolaborasi dengan beberapa brand sepatu lokal UMKM seperti The Panturas.

Ia juga bercerita pengalamannya membuat berbagai event pameran sepatu brand local di tanah air.

“Pokoknya dari ujung barat sampai timur, lengkap ada semua partner kolaborasi saya,” tambah dr. Tirta.

Menurut dia, kolaborasi adalah salah satu teknik marketing paling efektif dalam brand. Karena prinsipnya, lebih baik berteman dari bermusuhan.

“Perlu diperhatikan juga kalau kolaborasi tidak boleh dilakukan sering-sering karena punya pengaruh kurang baik terhadap image usaha. Tidak mencari profit, tapi hanya sekedar gimmick marketing untuk meningkatkan brand awareness,” paparnya.

Di sisi lain, dr. Tirta juga membeberkan tipsnya untuk berkolaborasi bisnis selama pandemi COVID-19.

“Kolaborasi bisa dilakukan kalau jika brand sudah established dan settle, idealnya di atas satu tahun karena bisnis dengan usia tersebut bisnis sudah dianggap matang dari segi perencanaan keuangan dan marketing,” ujar Tirta.

Untuk memperjelas poinnya, dr. Tirta memberikan contoh brand Ultimate U baru menerima kolaborasi dengan lima brand dari 40 brand karena sebagai brand kecil, ingin fokus memperkuat fondasi.

“Intinya, jangan buru-buru gede, take it slow, mantap dulu di kolam kecil, baru boleh perlahan ke kolam yang lebih besar agar bisnis nya lebih sustain pada jangka panjang,” jelas Tirta.

Selanjutnya, Wahyu Alikarman selaku Head Of Operation Kaizen Room juga menceritakan awal mula berdirinya usaha “Kaizen Room” serta pengalamannya berkolaborasi dalam bisnis dan strategi untuk bertahan di pandemi COVID-19.

‘Kaizen Room’ lahir dari kegelisahan teman-teman Wahyu di bangku kuliah yang bingung mau jadi apa setelah kuliah. Salah satu programnya yaitu memberikan kelas gratis untuk ratusan mahasiswa untuk Indonesia demi masa depan yang lebih baik.

Sejauh ini, kolaborasi yang dilakukan saat membangun Kaizen Room adalah kolaborasinya bersama co-working space dan Rumah Siap Kerja dalam melaksanakan pelatihan dengan beberapa fasilitator dari Kaizen Room.

Menurut Wahyu, strategi kolaborasi antar bisnis akan sangat berguna untuk menerjang kondisi krisis akibat pandemi.

“Dengan adanya new normal, kita makin banyak batasan-batasan. Tapi itu tidak menghalangi kita untuk berkolaborasi. Seiring dengan berkembangnya zaman, akan ada cara-cara baru untuk saling membahu,” ungkap Wahyu

“Akan sulit jika kita lakukan semuanya sendiri, mulai dari marketing, keuangan, dan lain-lain. Jangan jadi Chief Everything Officer, kita harus cari partner, bermitra untuk berkerja sama. Daripada kita lari sendiri mending kita lari bareng-bareng,” pungkas Wahyu. (yay)



Apa Pendapatmu?