Alexa Metrics

Bikin Rusak Demokrasi, TII Minta KPK Usut Tuntas Kasus Wahyu Setiawan

Bikin Rusak Demokrasi, TII Minta KPK Usut Tuntas Kasus Wahyu Setiawan Mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan.

indopos.co.id – Peneliti Transparency International Indonesia (TII) Alvin Nicola meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas kasus Wahyu Setiawan. Pasalnya Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut diduga tidak hanya menerima suap dari politikus Harun Masiku.

Dalam persidangan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, pada Kamis (9/7/2020), Sekretaris KPU Papua Barat Rosa Muhammad Thamrin Payapo mengaku telah mentransfer uang sebesar Rp500 juta kepada Wahyu Setiawan melalui rekening istri dari sepupunya.

Uang yang diakui Thamrin berasal dari Gubernur tersebut terkait dengan proses seleksi Calon Anggota KPU Provinsi Papua Barat periode 2020-2025.

Menurut Alvin, jika KPK dan penegak hukum lain sejak awal berani membongkar kasus yang melibatkan partai politik dan elite-elite partai politik, jumlahnya akan cukup banyak.

“Kondisi ini tentu membuat kita khawatir soal kualitas demokrasi kita saat ini. Jangan-jangan, pemilu yang selama ini dikatakan demokratis justru dikooptasi untuk kepentingan elite partai dan oligarki,” ujarnya dalam keterangannya, di Jakarta, Senin (13/7/2020).

Alvin Nicola berpendapat, dugaan suap Wahyu Setiawan harus diusut tuntas. Publik juga demikian. “Kasus Wahyu Setiawan harus diusut tuntas. Karena kebijakan yang dihasilkan politisi akan sangat berdampak kepada publik,” ujar Alvin.

Di lain pihak, Alvin juga menuntut KPU berbenah diri. Jangan sampai ada lagi kasus anggota KPU yang terbelit perkara suap di kemudian hari.

KPU perlu mengevaluasi sistem integritas internal di lembaganya secara menyeluruh. Sistem yang menjamin keamanan pelaporan dan pengawasan internal perlu dibangun.

”KPU bersama Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) juga perlu memperkuat skema antikorupsi dan koordinasi yang rutin terhadap potensi kecurangan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Wahyu Setiawan saat ini menjadi terdakwa dalam kasus yang lain bersama kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Agustiani Tio Fridelina.

Keduanya didakwa menerima suap Rp600 juta dari kader PDIP Harun Masiku agar mengupayakan Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI Riezky Aprilia sebagai anggota DPR RI daerah pemilihan Sumatera Selatan (Sumsel) 1 kepada Masiku.

Belakangan diketahui, Wahyu juga diduga menerima suap atau gratifikasi terkait proses seleksi anggota KPU Papua Barat.(dai)



Apa Pendapatmu?