Alexa Metrics

Mendadak Paidi Heran

Mendadak Paidi Heran Para pelajar mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) melalui daring dan luring tahun ajaran baru 2020/2021

Indopos.co.id – Jarum jam belum tepat di ang ka 06.00 WIB, Ananta Widi Sawega, siswa yang baru naik Kelas IX sudah berpakaian rapi mengenakan seragam sekolah lengan panjang, bercelana biru lengkap dengan dasinya di leher.

Saat itu, bapaknya yang bernama Paidi juga masih belum bersiap untuk kerja, bahkan masih santai duduk di teras rumah sambil nyeruput kopi hitam buatan istrinyaSama seperti yang dilakukan setiap pagi. Tiba-tiba, Ega, sapaan anaknya, Ananta Widi Sawega menyodorkan ponsel ke bapaknya dan meminta untuk memotretnya di kursi ruang tamu.

”Pak, ayo fotoen (Pak, ayo fotokan, Red),” ujar pelajar SMP Negeri 2 Surabaya, Jawa Timur (Jatim) itu, Senin (13/7).

Sang ayah yang belum tahu maksudnya itupun menjawab sambil keheranan karena anaknya meminta difoto saat akan berangkat sekolah.

”Lho arep sekolah lapo difoto? (lho, mau berangkat sekolah kenapa difoto?, Red),” jawab Paidi.

Ega lantas menjawab bahwa hasil foto akan dikirimkan ke layanan daring sekolah sebagai laporan di hari pertama masa tahun ajaran 2020/2021 yang dimulai berjalan pada 13 Juli 2020.

”Ojok lali sangune pak! Koyok sekolah mbiyen. (Jangan lupa uang sakunya pak! seperti masa sekolah dulu, Red),” tutur Ega mengingatkan sang bapak tetap memberi uang saku meski belajar dari rumah.

Paidi lantas mengerti bahwa anak bungsunya tersebut berseragam rapi, lalu difoto hanya untuk laporan ke sekolah dan tak ada proses belajar mengajar di sekolah. Bapak dua anak itu mengaku tidak mengetahui bahwa Senin (13/7) ini merupakan tahun ajaran baru, termasuk proses belajar mengajar dilakukan secara daring.

”Saya baru tahu saat Ega yang jelaskan. Maklum, biasanya ibunya yang mengurusi semua,” kata warga Mrutu, Kalianyar, Surabaya, itu sembari tertawa.

Tentang proses belajar di rumah, Paidi mengakui bahwa metode tersebut tidak efektif jika dibandingkan sekolah di kelas atau secara tatap muka. Namun, sebagai orang tua ia tak bisa berbuat apa-apa dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah.

”Kalau boleh memilih, ya lebih senang anak sekolah di kelas. Tapi karena pandemi ini (Covid-19, Red) dan Surabaya masih zona merah, maka kami sebagai orang tua ingin yang terbaik saja,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, berdasarkan Surat Keputusan Bersama Empat Menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri, kegiatan pembelajaran wajib dilaksanakan dengan metode jarak jauh, baik daring maupun luring.

Dia mengaku memang diperlukan penyesuaian-penyesuaian lebih kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan teknologi informasi secara optimal.

”Sehingga meski tidak bertatap muka langsung, tujuan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), khususnya yang terkait dengan pengenalan berbagai aspek pembelajaran di sekolahnya, tetap tercapai dengan baik,” katanya.

MPLS bagi siswa baru dilaksanakan selama tiga hari dan dapat menambah dua hari untuk persiapan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 sesuai kondisi dan kebutuhan sekolah masing-masing yang dilaksanakan pada minggu pertama awal tahun pelajaran 2020/2021. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengajak para siswa dan insan pendidikan tetap menjaga keoptimistisan serta semangat selama proses pembelajaran meski dilakukan secara daring.

”Saya juga berharap para siswa tetap bisa memulai tahun ajaran baru ini dengan semangat dan gembira meski dalam situasi yang masih darurat kesehatan,” katanya.

Bagaimana dengan Jakarta dan sekitarnya? Di DKI Jakarta, Dinas Pendidikan (Disdik) setempat meluncurkan portal ‘Siap Belajar Jakarta’ untuk mengoptimalkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dimulai sejak Maret 2020 dan diprediksi berlanjut pada tahun ajaran baru 2020/2021 mulai 13 Juli 2020.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta Nahdiana di Jakarta mengatakan, selain portal siapbelajar.jakarta.go.id, untuk mengoptimalkan pembelajaran pada masa transisi, masyarakat juga bisa mengakses laman web Disdik DKI Jakarta (disdik.jakarta.go.id). Menu utama ‘Siap Belajar Jakarta’ sebagai sumber utama rujukan informasi bagi masyarakat untuk mengetahui kegiatan belajar dan mengajar.

”Melalui menu utama ini, para guru, orang tua dan peserta didik dapat mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan pembelajaran masa transisi,” kata Nahdiana.

Di SDN Rawa Badak Selatan 01, Jakarta melaksanakan MPLS secara daring untuk peserta didik tahun ajaran 2020/2021. Kelapa Sekolah SDN Rawa Badak Selatan 01 Walisa Tri Agustiningsih mengatakan, program itu dilaksanakan sesuai Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Jakarta No 467/2020 tentang Kalender Pendidikan Tahun Ajaran 2020/2021.

”Karena masih  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, program ini kami gelar secara daring melalui aplikasi google meet dan live streaming facebook,” katanya, Senin (13/7).

Sementara di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), Wali Kota Mohammad Idris menegaskan, proses pembelajaran siswa sekolah menggunakan proses PJJ melalui metode Belajar Dari Rumah (BDR) mulai 13 Juli hingga 18 Desember 2020.

”Kami ingatkan kepada semua insan pendidikan untuk tetap mematuhi protokol yang berlaku dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh,” katanya di Depok, Senin (13/7).

Adapun untuk masa pengenalan lingkungan sekolah dan pengenalan bakat minat siswa akan diselenggarakan pada tanggal 13-17 Juli 2020 harus dilaksanakan secara daring atau online. Sedangkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Didikbud) Cianjur, Jabar mengizinkan kegiatan tatap muka pada hari pertama tahun ajaran baru, namun pihak sekolah diharuskan menerapkan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran Virus Corona.

Kepala Disdikbud Cianjur Oting Zaenal Muttaqin saat dihubungi Senin, (13/7) mengatakan, sebelum memberikan izin pembelajaran secara tatap muka pada tahun ajaran baru, pihaknya sudah mengimbau pihak sekolah untuk melakukan berbagai persiapan termasuk melakukan penyemprotan di lingkungan sekolah dengan disinfektan.

Gubernur Jabar M. Ridwan Kamil atau Kang Emil menegaskan, sekolah yang daerahnya bukan berada atau tidak di zona hijau dilarang untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka saat tahun ajaran baru yang berlangsung di masa pandemi COVID-19.

”Saya sudah tegaskan, selama tidak bisa membuktikan sekolahnya  berada di zona hijau, maka aktivitas tatap muka dilarang,” katanya di Makodam III Siliwangi Kota Bandung, Senin (13/7).

Di Kota Tangerang, Banten, Disdik setempat memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tahun ajaran 2020/2021 tetap dilaksanakan secara daring Kepala Disdik Kota Tangerang Masyati Yulia mengatakan, sosialisasi kepada setiap sekolah telah dilakukan mengenai pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pada ajaran baru.

”Kami sudah sampaikan kepada setiap sekolah, dari mulai TK sampai SMP, mengenai pelaksanaan belajar siswa menggunakan sistem daring atau online,” ujarnya.

Berbeda di Kepulauan Bangka Belitung (Kep Babel), Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bangka Barat melakukan pemantauan KBM tatap muka yang sudah dilakukan di beberapa sekolah.

”Beberapa sekolah menengah tingkat pertama sudah melaksanakan KBM tatap muka, untuk tahap awal dilaksanakan dahulu di Kecamatan Mentok,” kata Sekretaris Tim Gugus Tugas Percepatan Pencegahan COVID-19 Kabupaten Bangka Barat, Sidarta Gautama di Mentok, Senin (13/7).

Ia mengatakan, pemantauan dilaksanakan Tim Gugus Tugas agar pelaksanaan KBM tatap muka sesuai dengan aturan kesehatan sektor pendidikan yang sudah ditetapkan pemerintah guna melindungi seluruh siswa dan para guru dari kemungkinan penularan virus. Di tempat terpisah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menegaskan, pihaknya belum memiliki rencana untuk mempermanenkan PJJ.

”Pembelajaran tatap muka adalah model pembelajaran terbaik yang tidak bisa digantikan. Kemendikbud memastikan tidak memiliki rencana mempermanenkan PJJ sebagai satu-satunya model belajar mengajar di semua sekolah,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/7).

Dia menambahkan, pembelajaran tatap muka akan semakin diperkuat dengan kombinasi pemanfaatan teknologi yang sudah diterapkan secara masif pada masa Pandemi COVID-19. Menurut dia, banyak yang salah paham dengan apa yang ia sampaikan beberapa waktu lalu terkait PJJ permanen.

Padahal, tidak ada satupun pihak di Kemendikbud yang menginginkan PJJ. Semua pemangku kebijakan tetap menghendaki siswa bisa segera kembali ke sekolah dan belajar secara tatap muka jika wabah COVID-19 tersebut telah mereda. Nadiem berharap pihak sekolah dapat mengoptimalkan elemen-elemen teknologi seperti yang dipelajari di masa pandemi COVID-19 demi menunjang proses pembelajaran tatap muka.

”Interaksi guru dan murid akan menjadi lebih dinamis dengan dukungan teknologi. Bukan PJJ akan diimplementasikan selamanya saat COVID-19 sudah tidak ada lagi,” jelas dia.

Sementara Plt Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD dan Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad menegaskan, sekolah dilarang menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara langsung atau tatap muka.

”Sekolah yang berada di zona hijau bisa menyelengarakan pembelajaran tatap muka, namun untuk MPLS tetap tidak diperbolehkan menyelenggarakan secara tatap muka atau langsung,” tandasnya dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/7).

Dia menambahkan, kesehatan dan keselamatan peserta didik merupakan hal yang utama pada saat ini. Hingga saat ini belum ada laporan dari setiap dinas pendidikan mengenai berapa banyak yang sudah menyelenggarakan pendidikan tatap muka. Zona Kuning Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 masih membahas kemungkinan pembukaan sekolah di daerah-daerah dalam zona kuning penularan Virus Corona.

”Menyangkut sekolah, Gugus Tugas hanya merekomendasikan di zona hijau. Kami sedang memikirkan permintaan masyarakat agar zona kuning diizinkan sekolah, kami sedang bahas, nanti juga dibicarakan dengan Kemendikbud,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (13/7).

Usai mengikuti rapat terbatas mengenai percepatan penanganan dampak pandemi COVID-19 yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), dia mengemukakan bahwa pembatasan-pembatasan akan diterapkan kalau pemerintah memutuskan mengizinkan pembukaan sekolah di zona kuning.

”Kalau toh (pembukaan sekolah di zona kuning, Red) disetujui, maka maksimal setiap pelajar hanya dua kali mengikuti kegiatan, kemudian persentase pelajar di ruangan tidak boleh lebih dari 30 persen atau 25 persen. Ini masih jadi pembahasan,” kata Doni.

Ia menjelaskan bahwa pembahasan mengenai kemungkinan pembukaan kembali sekolah di zona kuning dilakukan menyusul adanya permintaan dari sebagian orang tua siswa dan sekolah. (ant/nas)



Apa Pendapatmu?