Alexa Metrics

Pertanian Hidroponik Kian Dilirik

Pertanian Hidroponik Kian Dilirik Kebutuhan masyarakat mengonsumsi sayur mayur untuk meningkatkan imunitas tubuh membuat sejumlah tukang sayur daring kebanjiran orderan.

Indopos.co.id – Adanya pandemi COVID-19 membuat orang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Bagi sebagian besar orang kondisi saat ini sungguh membosankan. Tapi tidak bagi beberapa orang. Berdiam diri di rumah just ru menjadi momentum menangkap peluang bisnis baru. Ya, ada orang yang akhirnya jadi pengusaha masker kecilkecilan.

Ada juga yang hobi masaknya dijadikan produk kuliner yang bisa dijual. Menariknya, ada juga sebagian kecil orang yang jadi alih pro fesi sebagai petani. Petani di kota, dengan lahan terbatas. Ternyata konsep pertanian hidroponik yang menjadi inti dari urban farming (pertanian perkotaan) makin dilirik dan dikembangkan menjadi usaha pertanian.

Karena ternyata, bertani di pekarangan yang sempit bisa menghasilkan produksi sayur mayur yang tidak hanya bisa dikonsumsi sendiri, tapi juga melimpah untuk dijual.

”Kalau saya nggak perlu beli perlengkapan pipa untuk hidroponik. Saya manfaatkan botol bekas air minum. Asal ra jin perawatan, kurang dari se bulan sudah bisa panen,’’ aku Fanny, salah satu warga Jakarta Selatan.

Urban farming merupakan suatu gerakan yang mulanya dilakukan di Amerika Serikat sebagai upaya pengendalian kondisi ekonomi yang membuat harga sayuran mahal. Kala itu, AS da lam kondisi perang dunia. Pengelolaan lahan yang semula minimalis diubah menjadi lahan produktif sehingga dapat mendukung terealisasinya pembangunan berkelanjutan dan ekonomi berkelanjutan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku melihat minat masyarakat terhadap konsep urban farming. Dia mengatakan, dengan memanfaatkan lahan yang ada, maupun menanam dalam pot atau polybag, akan membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat akan sayuran. Sehingga mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan dapur.

Founder Smart Hydroponic Indonesia Ronny Tanumihardj menjelaskan, teknik menanam dengan cara hidroponik sebenarnya bukan hal yang baru. Sudah ada sejak tahun 1980-an.

‘’Salah satu putri Soeharto (Presiden ke dua RI) ada yang kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor) dan sudah mulai buat kebun. Tapi tidak memasyarakat karena akses teknologi dan informasi tentang belajar masih susah kecuali pemerintah punya wellness-nya,’’ ujarnya, akhir pekan lalu.

Kini, pertanian perkotaan itu mulai berkembang, karena masyarakat mudah mengakses ilmu via internet.

‘’Sekarang siapapun bisa belajar dari internet. Baru mulai pertanian hidroponik ini laku di Indonesia,” sebutnya.

Kenapa pertanian hidroponik jadi berkembang pesat?

‘’Karena sekarang orang semakin aware pentingnya mengonsumsi makanan sehat. Lantas orang juga belajar bagaimana menanam sayur tanpa pestisida. Muncul istilah sayur organik,” paparnya.

Dia mengatakan, hidroponik berkembang pesat karena awareness terbangun dan kebutuhan meningkat.

‘’Orang cari sayur sehat atau organik harganya lebih mahal. Akhirnya orang berpikir lebih baik tanam sendiri,” imbuhnya.

Menurutnya pertanian hidroponik sangat pas untuk dikotakota besar. Dia pun mengusung istilah smart urban farming.

”Kota besar, lahan sempit jadi harus punya teknologi yang mendukung. Tidak perlu kayak petani nyangkul-nyangkul, tapi cuma kontroling,’’ terangnya.

Hidroponik, jelasnya, benihnya sama dengan konvensional. Yang membedakan adalah metode penanamannya.

‘’Intinya mudah, murah, hasil melimpah, dan menyenangkan,” tutupnya. (dew)

Hasil Tani Dijual via Aplikasi

Di saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama beberapa bulan, bisnis yang paling naik daun adalah tukang sayur. Sejumlah toko yang menjual produk pertanian laris manis dipesan secara daring (online).

Kenaikannya tidak mainmain, mencapai 300 persen dari hari biasanya. Bisa dibayangkan betapa besarnya kebutuhan masyarakat terhadap produk sayur mayur. Ditambah dengan pemanfa atan teknologi, keuntungan tukang sayur daring benar-benar tinggi. Hal itu membuktikan, produk sayur mayur punya pasar loyal.

Tinggal pintar-pintar memasar kan dan belajar berjualan online, cuan-nya bisa gilagilaan. Salah satu pelanggan sayur dan buah online, Yani, mengaku sudah rajin berbelanja sayur dan buah secara online sejak belum ada pandemi.

‘’Sebelum ada pandemi sebenarnya sudah sering beli. Karena dengan belanja online nggak perlu capek-capek jalan, angkat-angkat barangnya. Tinggal klik, bayar. Sayur dan buah bisa tiba di hari yang sama,’’ akunya.

Dia biasanya berbelanja di Freshbox. ‘’Barangnya segarsegar. Enaknya sering ada diskon juga. Dan yang terpenting pengemasannya bagus. Mereka kirimnya pakai boks kardus

gitu, jadi terlihat lebih rapih dan kebersihan terjaga,’’ katanya.

Setidaknya ada delapan rekomendasi tempat belanja sayur dan buah online yang bisa anda coba. Yang pertama, Happy Fresh. Happy Fresh memiliki personal shopper terlatih yang akan membantu memilih belanjaan sesuai dengan kebutuhanmu. Pihaknya juga bekerja sama dengan beberapa toko ritel.

Kemudian, platform daring Sayurbox. Ada pula aplikasi TaniHub yang bisa memudahkan masyarakat dalam berbelanja sayur dan buah. Harga beli di TaniHub juga terjangkau dan sangat cocok bagi konsumen yang ingin berbelanja grosir.

Masyarakat bisa memesan produk sayur dan buah langsung pada petani mitra melalui Kecipir untuk diantar langsung ke alamat tempat tinggalmu. Pemesanan bisa dilakukan melalui situs maupun aplikasi. Seperti tercantum dalam situsnya, Kecipir juga menyediakan fitur gratis ongkir. Ada juga e-commerce khusus sayur mayur Tantesayur.

Tak hanya itu, tersedia pula bahan makanan lainnya seperti daging-dagingan, bumbu masak, bahkan roti. Tak ketinggalan aplikasi Baqoel, yang cocok untuk anda yang ingin berbelanja dalam jumlah banyak. (dew)



Apa Pendapatmu?