Alexa Metrics

Pancasila Hanya Jadi Narasi, Masih Miskin Implementasi

Pancasila Hanya Jadi Narasi, Masih Miskin Implementasi Hari lahir Pancasila

Indopos.co.id – Nilai-nilai Pancasila harus tetap melekat dalam jati diri setiap siswa. Oleh karena itu sekolah dan orangtua memiliki kewajiban sama untuk mengenalkan dan mengajarkan nilai-nilai Pancasila kepada siswa.

Penggiat Pendidikan yang juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Prof Arief Rachman menuturkan, nilai-nilai Pancasila sudah ditanamkan kepada siswa di sekolah sejak dulu. Melalui kegiatan formal dan kegiatan informal.

“Sejak dahulu itu sudah dilakukan. Melalui pendidikan PPKn (saat ini) hingga mengenalkan simbol Pancasila dengan memasang di dinding ruang sekolah,” ujar Prof Arief Rachman kepada INDOPOS, Selasa (14/7).

Ia mengatakan, kegiatan formal sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila. Melalui kegiatan belajar mengajar (KBM) tentang Pancasila. Kemudian kegiatan informal pun, menurutnya tak boleh ditinggalkan.

“Ini bisa dilakukan melalui kegiatan upacara, kegiatan Pramuka dan lainnya. Kegiatan informal lebih menekankan implementasi nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” katanya. Lebih jauh, ia menjelaskan peran guru dan orangtua sangat penting. Pasalnya, waktu anak bersama keluarga jauh lebih lama dibandingkan saat siswa di sekolah.

“Peran orangtua itu besar, bagaimana dia mengenalkan nilai-nilai Pancasila kepada anak saat di rumah. Demikian pula peran guru,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Fraksi PPP MPR RI Saifullah Tamliha mengatakan, sejak era orde baru nilai-nilai Pancasila ditanamkan melalui mata pelajaran di sekolah, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun setelah era reformasi dimulia semua kebijakan tersebut hilang, karena dianggap tidak baik.

Ia mencontohkan hilangnya mapel PMP di sekolah membuat bangsa ini kehilangan roh kebangsaan. Padahal, menurutnya saat MPR di bawah kepemimpinan Taufik Kiemas,

Pancasila kembali disosialisasikan lewat Sosialisasi 4 Pilar MPR.

“Saya kerap ikut sosialisasi 4 Pilar ini,” ujarnya.

Ia menuturkan, setiap warga negara harus memiliki roh kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab itu, sangat penting apabila sejak usia pendidikan anak usia dini (PAUD) diperkenalkan materi ideologi kebangsaan. Apalagi saat ini materi ideologi di sekolah masih sangat minim.

“Kehampaan materi ideologi di sekolah perlu diisi,” katanya.

Ia menegaskan, Pancasila masuk dalam dunia pendidikan sangat penting. Sebab, pendidikan nilai-nilai Pancasila akan mudah diserap oleh anak-anak. Ditambahkan olehnya, sosialisasi Pancasila saat ini dilakukan oleh MPR dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Mengandalkan kedua lembaga negara ini, menurutnya tidak cukup.

“Peran guru sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila,” ungkapnya.

Hal yang sama dikatakan Politisi asal Fraksi PDI Perjuangan M. Nabil Haroen. Ia mengatakan, selama ini Pancasila hanya menjadi narasi dan masih miskin implementasi. Hal demikian bila dibiarkan akan membahayakan.

Di era orde baru, menurutnya sejumlah program pembelajaran tentang Pancasila banyak diajarkan di sekolah. Salah satunya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Namun kini itu sudah ditiadakan.

“Seharusnya bangsa ini menjaga halhal yang baik. Dulu ada pendidikan moral Pancasila (PMP), ini kan baik. Seharusnya ini dipertahankan,” ujarnya.

Dia mengatakan, bahwa Pancasila adalah sesuatu yang penting. Disebut banyak negara yang ingin mengadopsi nilai-nilai Pancasila. Pancasila tak hanya perlu masuk dalam kurikulum pendidikan, namun juga perlu masuk dalam sendi-sendi kehidupan bangsa dan bernegara.

“Kita harus kawal implementasi Pancasila dengan masuk di kurikulum pendidikan SD hingga perguruan tinggi,” katanya. (nas)



Apa Pendapatmu?