PJJ di Tengah Pandemi Covid-19, Rektor: UT Selangkah Lebih Maju

indopos.co.id – Universitas Terbuka (UT) menggelar wisuda tahap kedua tahun akademik 2019/2020 secara daring pada Selasa (21/7/2020). Rektor UT Ojat Darojat menuturkan, karena pandemi Covid-19 wisuda tahun ini berbeda dengan wisuda sebelumnya. Meskipun secara daring, menurut Ojat tidak mengurangi maknanya.

“Selamat atas wisuda para wisudawan dan wisudawati. Kenapa pelaksanaan wisuda kita lakukan secara daring, ini karena pandemi Covid-19 belum berlalu,” ujar Ojat Darojat saat membuka pelaksanaan wisuda di kampus UT, Selasa (21/7/2020).

Di era pandemi Covid-19, dikatakan Ojat, pelaksanaan wisuda di UT menerapkan tema UT di tatanan kebiasaan baru. Yakni dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Kendati, sejak awal didirikan UT sudah memantapkan diri menjadi institusi pendidikan jarak jauh (PJJ).

“Pandemi Covid-19 memaksa kampus lain untuk menerapkan PJJ. Kami bangga, karena sejak berdiri UT sudah menerapkan PJJ. Jadi kami selangkah lebih maju dengan kampus lain,” ungkapnya.

Menurut Ojat, UT kini telah bertransformasi kampus PJJ yang modern. Dengan melakukan terobosan-terobosan baru yang menjadi rujukan perguruan tinggi (PT) lain dalam menerapkan PJJ. “Kami terus melakukan terobosan dengan pemanfaatan jaringan hingga bantuan teknis. Dan ini menjadi rujukan perguruan tinggi lainnya,” katanya.

Lebih jauh ia menjelaskan, rendahnya angka partisipasi kasar (APK) di tingkat pendidikan tinggi (Dikti) disebabkan oleh faktor ekonomi. Kendati, dukungan pemerintah melalui program beasiswa telah dialokasikan untuk Dikti. “Rata-rata usia 18-33 tahun kurang disupport untuk Dikti. Sementara bantuan pemerintah melalui program beasiswa tidak cukup,” ungkapnya.

Ojat menuturkan, hadirnya UT menjadi bagian solusi untuk meningkatkan APK pada pendidikan tinggi. Karena, UT menawarkan biaya pendidikan yang sangat terjangkau. “Kuliah di UT itu tidak harus kos dan ongkos. Dengan PJJ kampus datang ke rumah,” katanya.

Kendala lain rendah APK Dikti, masih ujar Ojat disebabkan oleh geografis di Indonesia. Banyak lulusan pendidikan menengah berasal dari daerah pinggiran. Sementara banyak perguruan tinggi berada di jantung kota. “Bagi UT tidak menjadi kendala mahasiswa ada di kota atau di desa bahkan di pinggiran,” ujarnya.

Menjawab masalah program soft skill, masih ujar Ojat, UT terus membangun kemandirian mahasiswa. Baik itu kemandirian dalam belajar hingga kemandirian ketrampilan serta kejujuran. Hal ini penting, untuk mendidik mahasiswa menjadi pembelajar mandiri dan tangguh.

“Kualitas SDM yang baik tentu akan memudahkan lulusan UT beradaptasi dengan masyarakat,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini memiliki lebih dari tiga ribu mahasiswa di luar negeri. Mereka bekerja sebagai tenaga kerja luar negeri (TKLN). Untuk meningkatkan kualitas pendidikan UT, menurutnya, kualitas UT selalu direview oleh pusat perguruan tinggi yang menerapkan PJJ di Norwegia.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, UT telah banyak berkontraksi pada pembangunan dengan melahirkan insan cendikiawan. Kendati angka lulusan perguruan tinggi di Indonesia baru 12,27 juta atau 9,7 persen. “Ini tantangan besar, maka UT harus tingkatkan kapasitas SDM. Agar bisa menangkan persaingan global,” ujarnya.

Menjadi SDM unggul dari pendidikan, menurutnya tidak semata hanya dalam pengajaran. Karena, produktivitas tenaga kerja dari Indonesia berada diurutan kelima di negara-negara ASEAN. “Kita masih terpaut jauh dari Malaysia, apalagi Singapura,” katanya.

Wapres berpesan, agar UT terus melakukan penyempurnaan kualitas pendidikan. Terutama di tengah pandemi Covid-19. Karena, sejak awal berdiri UT sudah menerapkan PJJ. “APK Dikti kita masih di bawah 40 persen. Harapan kita, UT bisa berkontribusi agar APK Dikti menjadi lebih baik,” ujarnya. (mdo)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.