Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia Bisa Turun 22 Persen. Ini Syaratnya…

indopos.co.id – Pemerintah Indonesia memproyeksikan intensitas emisi gas rumah kaca Indonesia dapat turun sebesar 22 persen. Syaratnya angka itu bisa tercapai kalau menjalankan Pembangunan Rendah Karbon Indonesia atau Low Carbon Development Indonesia (LCDI).

”Perencanaan Pembangunan Rendah Karbon Indonesia dikembangkan berdasarkan kajian berbasis bukti dan diintegrasikan di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024,” jelas Irfan Darliazi, staf Direktorat Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas dalam Webinar LCDI Talks Goes to Campus di Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Berdasarkan kajian di bawah Bappenas, perencanaan pembangunan rendah karbon tersebut dibuat dapat mengakomodasi ekonomi dan sosial, namun tetap mampu mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Dalam LCDI, lanjut dia, proyeksi pertumbuhan ekonomi cukup baik rata-rata enam persen, begitu pula untuk Produk Domestik Bruto (PDB) juga meningkat dengan baik. Terjadi penurunan tingkat kemiskinan 4,2 persen sebagai dampak positif perbaikan lingkungan.

Dengan LCDI, katanya, harapannya target penurunan emisi GRK Indonesia di 2030 untuk memenuhi Paris Agreement terpenuhi dan di saat yang sama intensitas emisi turun 22 persen.

Meski demikian, tantangan pembangunan berkelanjutan saat ini banyak, salah satunya pandemi COVID-19, sehingga perlu kebijakan pembangunan yang lebih adaptif dalam LCDI.

Dari pandemi COVID-19 tentu bisa dilihat tidak hanya dampak kesehatan dan sosial saja, tetapi juga dampak pertumbuhan ekonomi yang turun dari 5,02 persen ke 2,8 persen. PDB turun ke 2,97 persen, sedangkan angka pengangguran diperkirakan 2,92 juta orang.

Karena itu, kata Irfan, penanganan Pandemi COVID-19 jangan sampai mempengaruhi ekonomi. Ada kekhawatiran karena ingin menggenjot ekonomi pascakrisis kesehatan, maka isu lingkungan juga menjadi parah. “Ini yang dihindari,” tandasnya.

Dalam dua tahun ke depan pemulihan ekonomi akan dilakukan, harapannya pembangunan dikerjakan dengan menjalankan ‘build back better’, sehingga dampak lingkungan dapat ditekan, pembangunan ekonomi menjadi lebih tangguh, terjadi penciptaan lapangan kerja, aspek kesehatan jadi lebih tangguh, kebutuhan sehari-hari pangan berkelanjutan, dan mampu melakukan mitigasi bencana di masa depan. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.