Alexa Metrics

Tiga Strategi Mensos untuk Mencegah Anak Merokok

Tiga Strategi Mensos untuk Mencegah Anak Merokok Menteri Sosial Juliari P Batubara, saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2020). Foto: Charlie Lopulua/INDOPOS

indopos.co.id – Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara menyampaikan gagasan tiga strategi pencegahan anak merokok dalam rangka menyambut Hari Anak yang jatuh lada 23 Juli.

Tiga hal itu adalah membatasi akses pembelian rokok bagi anak, menyadarkan anak bahaya merokok merupakan gerbang bagi terjerumusnya pada liang sesat narkoba, serta menaikkan setinggi-tingginya harga rokok agar tidak terbeli mereka yang masih berada pada usia dini.

Menyikapi hal itu, Sekretaris Jenderal Gerakan Nurani Nusantara, LSM yang bergerak di bidang motivasi hidup anti narkoba, Varhan Abdul Aziz mengatakan, gagasan strategi Mensos menjauhkan anak Indonesia dari rokok ini harus jadi pedoman.

“Bukan hanya itu, poin-poin tersebut harus dijadikan sebuah gerakan. Ini harus dijadikan menasional, menyeluruh, dengan target 100 persen anak Indonesia bersih rokok,” ujarnya kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Rabu (22/7/2020).

Varhan menyatakan, membatasi akses pembelian rokok bagi anak itu sangat mungkin dilakukan. Berdasarkan konvensi hak-hak anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 20 November 1989, bagian 1 Pasal 1, yang dimaksud anak adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun.

“Indonesia pun memegang definisi yang sama, sehingga setiap anak di bawah 18 tahun tidak diperbolehkan membeli rokok di manapun, dan kapanpun,” tegasnya.

Ia berharap gerakan ini bisa efektif, bila melanggar, harus dibuat aturan yg bersifat penindakan tindak pidana ringan (tipiring) yang berimplikasi kepada dihukumnya orang tua si anak, penjual rokok, dan anak itu sendiri.

Hukuman bagi pihak 1 dan 2, bisa dilakukan berupa denda. Kepada anak, dapat dilakukan pembinaan di Dinas Sosial/lembaga sosial terkait yang ditunjuk, bergantung pada kelompok usia anak. Misal anak usia SMP dan SMA, dapat juga diberi sanksi kerja sosial.

Varhan mengatakan, hukuman ini untuk menghadirkan rasa takut, efek jera, hingga keenganan mengulangi, bagi ketiga pihak. Peran polisi di sini akan menjadi penting sebagai penegak hukum. Polisi harus siap menjadikan pemantauan rokok anak ini sebagai tambahan tugas yang utama dalam fungsi patroli hariannya.

“Binmas melalui Bhabinkamtibmas akan punya peran sentral. Kalau polisi sudah turun tangan, selesai sudah. Anak Indonesia takkan lagi berani merokok. Percayalah,” tegasnya.

Sementara, Koordinator Nasional Milenial Muslim Bersatu, Khairul Anam juga mendukung usulan Mensos untuk menaikkan setinggi-tingginya harga rokok. Dalam hal ini, Mensos mengusulkan harga rokok Rp100 ribu. “Kalau perlu usulkan harga rokok Rp200 ribu,” ujar Anam.

Menurutnya, harga tersebut harus mengatur bahwa nilai pajak rokok adalah 90 persen dari harga jual. Kalau sekarang harga rokok Rp20 ribu, berarti selayaknya harga rokok jadi Rp200 ribu per bungkus. Jadi jumlah pajak penerimaan negara sebesar Rp180 ribu.

“Dengan ini Indonesia harus bangga bisa menjadi jajaran negara penjual harga rokok termahal di dunia. Untuk itu wacana Mensos ini harus kita dukung,” pungkasnya.(rmn)



Apa Pendapatmu?