Juventus, Scudetto Setengah Tiang

indopos.co.id – Juventus kembali menegaskan dominasinya sebagai klub paling digdaya di Serie A Italia. Kalau tahun depan digdaya lagi seperti sembilan tahun terakhir, maka fakta itu menunjukkan betapa hebatnya konsistensi manajemen La VCechia Signora bekerja di balik layar.

Pemain dan pelatih boleh berganti-ganti, juaranya tetap Juventus.  Yang menarik adalah tulisan Livio Caferoglu di football Italia. Setelah kalah 1-2 dari Udinese pertengahan pekan lalu, ia menyebut Juventus tetap juara, tetapi scudetto kali ini mirip orang mengerek bendera setengah tiang. Salah satu kesimpulannya jelas. Gawang Juventus sering dibobol tim-tim tidak jelas. Bayangkan dari 36 kali, 38 kali jebol. Statistik ini sama dengan tim Juve pada 1960-1961 di bawah arahan pelatih Carlo Parola.  Itu salah satu PR besar yang harus digarap serius.

Baca Juga :

Meski demikian, manajer Maurizio Sarri kini tidak bisa lagi dihina-hina sebagai pelatih old crack yang sulit meraih gelar Serie A. Giorgio Chiellini tercatat sebagai satu-satunya pemain yang meraih sembilan  scudetto berturut-turut itu. Juventus kini berada di atas awan kesembilan setelah meraih mahkota juara berturut-turut Serie A.

Juventini tidak bisa bergabung dalam perayaan gelar, tetapi, bahkan dengan mereka ikut pun, ini tidak akan terasa seperti scudetto yang yang benar-benar monumentalk. Itu bukan berarti Bianconeri tidak layak mendapat pujian karena menggoreskan arsir-arsir sejarah hebat klub. Ini juara untuk klub yang membanggakan diri karena menetapkan standar tinggi, tetapi kualitasnya terlihat menurun.

Baca Juga :

Ada juga beberapa hal positif. Paul Dybala, misalnya, telah menjadi meteor yang bersinar. Ia menemukan kembali naluri golnya di lini depan Juve dengan 17 gol dan 14 asis.  Sedihnya, Juventus tidak solid bahkan memprihatikan di belakang.  Kontinuitasnya sangat terasa di bek tengah. Hilangnya kapten Giorgio Chiellini karena cedera lutut jadi penyebab utama.

Juventus juga tidak punya gelandang box to box. Adrien Rabiot kelewat stylish. Miralem Pjanic sudah setengah hati. Blaise Matuidi sering kedodoran. Singkat kata, transformasi etos renaissance Max Allegri ke Sarrismo tidak berjalan bagus. Pemain kesulitan memahami Sarrismo. Juventus malahan superior justru karena kelebihan kualitas individual pemainnya.

Baca Juga :

Kini, Saya Harus Memanggilmu Mister

Semua pandit sepak bola Italia setuju, meski bisa mengamankan gelar dengan dua pertandingan sisa, inilah tim Juve terburuk yang mampu memenangkan gelar. Sebuah klub yang punya kapitalisasi modal jumbo kalah gemerlap dari tim dengan kapitalisasi modal dengkul sekelas Atalanta atau Sassuolo.

Sarri harus menemukan konsep pertahanan yang pas saat berhadapan dengan Olympique Lyonnais. Kekalahan 1-2 dari Udinese pekan lalu menjadi contoh mutakhir . Sarri tidak punya gelandang penghalau yang bisa meredam serangan cepat lawan.

Kalau kelemahan elementer ini tidak diperbaiki, Juve nampaknya harus cepat-cepat mengucapkan kata ciao untuk Liga Champions tahun ini. ‘’Kami kehilangan bentuk dan organisasi ketika bermain di Udine. Kami coba membangun kembali kepercayaan diri lagi. Kami akhirnya berhasil di saat-saat yang dibutuhkan,’’ sebut Sarri soal dua penampilan terakhir Juventus.

Satu pekerjaan rumah lain Sarri adalah soal akurasi bek sayap memberikan umpan terukur ke kotak penalti. Berulangkali Cristiano Ronaldo menunjukkan kelebihannya di situ. Ketika CR-7 dikawal ke mana-mana untuk bola-bola datar, Juventus gagal memanfaatkan celah lain untuk bola-bola atas. Umpan-umpan silang akurat yang dibutuhkan CR-7 jadi hal yang langka. Umpan akurat dari sektor sayap itu menghilang bersama perginya Joao Cancelo ke Manchester City.(*)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.