Alexa Metrics

Ancaman Karhutla Bisa Sebabkan Krisis Kesehatan Ganda

Ancaman Karhutla Bisa Sebabkan Krisis Kesehatan Ganda Latihan pemadaman kebakaran hutan di Polda Kabar, Selasa (28/7). (ANTARA FOTO)

indopos.co-id – Pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan taman nasional harus melibatkan berbagai unsur sekitar kawasan dalam kegiatan di tingkat tapak. Jika dilakukan secara sporadis maka hasilnya tidak akan maksimal.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) M. Ari Wibawanto. “Kegiatan pengendalian harus dilakukan bersama di tingkat tapak itu sendiri. Kita harus mengetahui aktor-aktor apa saja yang ada di situ,” kata Ari dalam diskusi virtual tentang Covid-19 dan karhutla oleh lembaga non-nirlaba Alam Sehat Lestari (ASRI), di Jakarta Selasa (28/7).

Beberapa aktor itu seperti keberadaan sektor swasta, perusahaan dan masyarakat yang tinggal di sekitar taman nasional. Semua pihak itu, kata dia, harus dirangkul dalam usaha pencegahan dan pengendalian karhutla.

Dengan melibatkan berbagai pihak yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung maka akan dapat memulai usaha pengendalian di tingkat tapak. Upaya pencegahan dan pengendalian sendiri berbeda di berbagai tingkat tapak, karena masing-masing wilayah memiliki situasi yang berbeda satu dengan lainnya.

“Jadi semua satgas yang ada di tingkat tapak itu harus tahu kondisi di lapangan seperti apa,” kata dia.

Pencegahan di wilayah gambut dan mineral tentu berbeda, tambah dia, oleh karena itu pemetaan dilakukan untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil telah sesuai dengan kondisi di lapangan.

Begitu mengetahui kondisi di tingkat tapak maka setelah itu dapat disampaikan pemahaman-pemahaman kepada berbagai pihak itu untuk membantu pencegahan karhutla.

Ari mengatakan berkaca dari karhutla 2019, sudah terjadi koordinasi yang baik antara berbagai aktor di kawasan. Tapi, hal itu baru terjadi saat penanggulangan dan bukan pencegahan.
“Pencegahan inilah yang harus kita mainkan juga,” kata dia.

Sementara itu, menurut Senior Public Health Adviser Alam Sehat Lestari (ASRI) drg Monica R Nirmala, pencegahan karhutla perlu dilakukan untuk menghindari krisis ganda. Yaitu yang disebabkan oleh asap kebakaran dan pandemi COVID-19 yang masih melanda Indonesia saat ini.

“Masyarakat yang terpapar asap karhutla berpotensi memiliki respons imun yang lebih rendah, penyakit pernapasan yang lebih tinggi, penyakit jantung dan pembuluh darah yang lebih tinggi dan peradangan sistemik yang lebih tinggi,” kata Monica dalam diskusi virtual yang sama.

Potensi kesehatan yang timbul akibat terpapar asap karhutla tersebut bisa membuat risiko terpapar COVID-19 semakin besar, mengingat faktor imun penting dalam menghadapi penyakit yang belum memiliki vaksin dan obat tersebut.
Tidak hanya itu kondisi dampak asap terhadap sistem pernapasan, jantung dan peradangan juga dapat menjadi komorbid atau penyakit penyerta yang bisa memperparah kondisi pasien yang terinfeksi COVID-19.

“Artinya kalau masyarakat terpapar COVID-19 dan karhutla di saat yang bersamaan maka dampaknya bisa lebih parah terhadap kesehatan karena serangannya ganda,” ujar peraih gelar Master of Public Health dari Universitas Harvard itu.

Selain dampak kepada kesehatan individu juga terdapat risiko akan penanganan rumah sakit di daerah-daerah terpapar asap karhutla. Di mana bisa terjadi peningkatan pasien baik akibat asap maupun COVID-19 yang dapat mempengaruhi kemampuan fasilitas layanan kesehatan.

Kebutuhan alat pelindung diri juga akan meningkat dengan jika terjadi asap maka masyarakat di area terdampak memerlukan masker medis atau jenis N95 yang bisa menyaring udara karena masker kain tidak mumpuni untuk melakukannya. Padahal, kedua jenis masker tersebut dibutuhkan oleh petugas medis untuk mengurangi risiko infeksi COVID-19.

Monica juga mengatakan karhutla dapat mengakibatkan warga melakukan pengungsian yang bisa mengumpulkan banyak orang dalam satu ruang tertutup dengan penyaringan udara yang tidak baik. Hal itu dapat menambah risiko penularan antar pengungsi.

“Yang harus kita lakukan adalah mencegah karhutla berapapun harganya,” demikian ujar Monica. (ant)



Apa Pendapatmu?