Alexa Metrics

Berjibaku ke Ladang Ganja di Tengah Ancaman Hujan, Pacet, dan Jelatang. Ini Hasil Tim Gabungan BNN RI…

Berjibaku ke Ladang Ganja di Tengah Ancaman Hujan, Pacet, dan Jelatang. Ini Hasil Tim Gabungan BNN RI… SUKSES- Direktur Narkotika Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI Brigjen Pol Aldrin M.P. Hutabarat memimpin Operasi Pemusnahan Ladang Ganja seluas lima hektare di Desa Pulo, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (28/7/2020).. Foto : J. Armanto/INDOPOS

indopos.co.id – Pagi itu sekitar pukul 06.00 WIB, hujan sudah membasahi sejumlah kawasan di Kota Banda Aceh, Aceh sejak Selasa (28/7/2020) dinihari. Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) RI yang berjumlah 28 personel ditambah dua anggota Propam Mabes Polri bergegas memasuki mobilnya masing-masing menuju titik kumpul (tikum) di sebuah masjid, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Untuk menuju tikum, dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan.

Di lokasi tersebut berkumpul sejumlah instansi seperti BNNP Aceh sebanyak sembilan personel, Dit Narkoba Polda Aceh (15), Bag Ops Polda Aceh (2), Kodim 0101/BS (15), Brimob Polda Aceh (15), Polres Aceh Besar (35), Sat Pol PP Aceh (3), Dinas Pertanian Aceh (2), Dinas Kehutanan Aceh (2), dan Kejaksaan Tinggi Aceh (2).

Di bawah guyuran hujan yang belum berhenti, Tim Gabungan BNN RI dengan total 130 personel terlebih dahulu menyantap sarapan pagi yang sudah disediakan. Selain itu, tim juga dibagikan jas hujan plastik, sarung tangan, dan masker.

Selang beberapa menit, tim melanjutkan perjalanan dengan menumpang kendaraan ke titik tertentu. Sayang hingga mencapai pertigaaan, sejumlah mobil tidak dapat meneruskan laju rodanya lantaran kondisi jalan yang licin akibat hujan.

Tampak mobil jenis Innova yang ditumpangi Direktur Narkotika Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI Brigjen Pol Aldrin M.P. Hutabarat sempat selip ketika mencoba menanjak. Akhirnya Brigjen Aldrin bersama rombongan memutuskan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menapaki kontur naik sekitar 30-45 derajat. Sekitar satu jam, tim berhenti di sebuah lahan. Sementara dua mobil double cabin dan satu Jeep menyusul setelah berhasil menembus jalan yang licin dengan mengangkut beberapa personel. Sampai di lokasi, apel pagi persiapan Operasi Pemberantasan Ladang Ganja pun dimulai.

Meski hujan sudah reda, namun awan mendung masih menghantui Tim Gabungan BNN RI. Usai apel pagi, tim meneruskan perjalanan masuk hutan. Di lokasi inilah ancaman lainnya mulai membayangi tim. Apa itu? Hewan pacet dan pohon jelatang. Jika tidak hati-hati terhadap flora dan fauna itu, maka bisa menyebabkan sakit di tubuh manusia.

Jika pacet menempel di kulit manusia, risikonya darah akan tersedot. Sementara kalau pohon jelatang tersentuh kulit, maka akan mengalami keracunan yang ditandai dengan gatal, perih, kemerahan, dan bengkak. Beberapa hari sebelum operasi pemusnahan, Tim Penyelidikan (Tim Lidik) BNN RI sempat digigit pacet dan tersentuh daun jelatang saat mencari keberadaan ladang ganja. Bahkan salah satu tim tidak bisa tidur selama dua hari akibat tersentuh daun jelatang.

Dalam rapat persiapan operasi di sebuah hotel kawasan Banda Aceh pada Minggu (26/7/2020), Tim Lidik BNN RI sudah merekomendasikan kepada seluruh personel untuk mewaspadai pacet dan jelatang seperti memasukkan baju, membungkus kaki, menggunakan baju lengan panjang, mengenakan sarung tangan sampai memoles lotion ke tubuh.

Berjibaku ke Ladang Ganja di Tengah Ancaman Hujan, Pacet, dan Jelatang. Ini Hasil Tim Gabungan BNN RI…

OPERASI-Hamparan ladang ganja yang menjadi target Tim Gabungan BNN RI di Desa Pulo, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (28/7/2020). Foto: J. Armanto/INDOPOS

Dalam perjalanan masuk hutan pun pada Selasa (28/7/2020), Brigjen Aldrin kembali mengingatkan bahaya pacet dan jelatang. ”Di sisi kanan-kiri jalan ini banyak ditumbuhi pohon jelatang dan ada pacet, karena itu seluruh personel harus berhati-hati,” tandasnya.

Setelah berjibaku menembus hutan dengan kondisi tanah yang basah dan tumbuhan yang lebat, tim akhirnya tiba di ladang ganja pertama seluas 2,5 hektare (ha) di kawasan kaki Gunung Seulawah Agam. Titik ini berada pada koordinat 5.453271 derajat sebelah utara dan 95.628389 derajat sebelah timur dengan ketinggian 705 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL). Melalui instruksi Brigjen Aldrin didampingi Kompol Baringin Sitompul dan sejumlah perwakilan instansi, pemusnahan ladang ganja dimulai.

Pohon ganja dicabut lalu dikumpulkan selanjutnya dibakar setelah disiram solar. Setengah jam berselang, tim gabungan beranjak ke ladang kedua yang berjarak tidak terlalu jauh dari ladang pertama. Titik koordinat berada di 5.453183 derajat sebelah utara, 95.626283 derajat sebelah timur dengan ketinggian 672 MDPL. Ladang ganja itu pun memiliki luas sekitar 2,5 ha.

Aldrin menjelaskan, Operasi Pemusnahan Ladang Ganja ini sudah mematuhi protokol kesehatan COVID-19 dengan menggunakan masker. Dari operasi ini diperoleh dua ladang ganja dengan total seluas lima hektare. Terdiri dari ladang pertama 2,5 ha dan kedua, 2,5 ha. Kedua ladang ini berada di Desa Pulo, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

”Total tanaman ganja sebanyak 30.000 batang dengan berat basah 900 kg. Untuk ketinggian tanaman bervariatif antara 30-150 cm dan jarak tanam 50-70 cm per batang,” jelas lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu.

Aldrin menjelaskan, sebelum digelar operasi pada Selasa (28/7/2020), pada 21 Juli 2020, Tim BNN RI melaksanakan penyelidikan terhadap adanya dugaan penanaman ganja di kawasan Desa Pulo. Setelah dilaksanakan penyelidikan pada lokasi tersebut, tim berhasil menemukan dua lokasi ladang ganja. ”Atas penemuan tersebut, maka pada hari ini (Selasa, Red) tim melaksanakan pemusnahan ladang ganja,” tandasnya.

Walau pelaku penanaman ganja belum tertangkap, namun pelaku dapat terjerat Pasal 111 Ayat (2) Undang-Undang No 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup.

Di akhir operasi, Tim Gabungan BNN RI kembali dengan selamat. Ini terungkap setelah dilakukan apel penutup di lahan warga sekitar pukul 14.30 WIB. Hanya saja beberapa personel dan jurnalis ada yang digigit pacet dan tersentuh daun jelatang, meski sudah berhati-hati di perjalanan. Seperti yang dialami Jurnalis KompasTV dan INDOPOS yang kakinya sempat digigit pacet. ”Ini kaki saya sudah berdarah digigit pacet. Lumayan untuk terapi, karena pacet mengambil darah kotor,” ujar Umar, jurnalis KompasTV di sela perjalanan pulang. Sementara INDOPOS walau kaki sudah dibaluri lotion, namun pacet tetap menggigit.

Selain menjadi tantangan, tapi cuaca buruk, pacet, dan jelatang tidak menyurutkan tim untuk menyelesaikan Operasi Pemusnahan Ladang Ganja.

Berjibaku ke Ladang Ganja di Tengah Ancaman Hujan, Pacet, dan Jelatang. Ini Hasil Tim Gabungan BNN RI…

CABUT-Direktur Narkotika Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI Brigjen Pol Aldrin M.P. Hutabarat. Foto : J. Armanto/INDOPOS

Gencar di Tengah COVID-19
Sementara itu, Direktur Narkotika Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI Brigjen Pol Aldrin M.P. Hutabarat menjelaskan, pada pertengahan 2020 ini, pihaknya sudah melaksanakan pemusnahan ladang ganja sebanyak enam titik, sedangkan pada 2019 sebesar 11 titik.

”Tidak dapat dipungkiri bahwa Pandemi COVID-19 cukup menghambat pergerakan kami, karena adanya aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sekarang peraturan PSBB sudah mulai longgar, kami akan memanfaatkan momen ini untuk lebih gencar dalam melaksanakan kegiatan pemusnahan ladang ganja,” tegasnya.

Aldrin menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi dasar tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia, yakni tingginya angka permintaan dan jumlah pemberantasan berbanding lurus dengan jumlah kasus yang berhasil diungkap di Indonesia. ”Sederhananya, semakin gencar BNN melakukan pengungkapan kasus, maka jumlah kasus yang terdata di Indonesia akan semakin tinggi,” jelasnya.

Kebanyakan ladang ganja lokasinya tak jauh dari pemukiman warga, kenapa? ”Rendahnya tingkat kesadaran hukum penanam ganja dan kebutuhan ekonomi yang tinggi menjadi motif penanaman ganja. Melalui Deputi Bidang Pencegahan, kami akan lebih gencar mensosialisasikan aturan perundang-undangan terkait penanaman ganja yang illegal di Indonesia,” ujar Aldrin.

Melalui Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, lanjut dia, BNN tetap melaksanakan pendekatan berbasis peningkatan perekonomian dengan cara mengalihkan pola pikir dan minat penanam, yang pada awalnya menanam ganja menjadi menanam tanaman produktif lainnya. ”Diharapkan dinas-dinas pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh turut serta secara langsung bersama BNN dalam memberikan pemahaman kepada masyarakatnya,” tandasnya.

Secara umum, kata Aldrin, aktivitas penanaman ganja masih tersebar di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Besar, Bireun, Gayo Lues, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Nagan Raya, Pidie, dan Pidie Jaya.

”Berdasarkan penelusuran awal, ladang ganja ini berada pada hutan produksi. Terkait apakah terdapat izin pengelolaan yang diterbitkan, akan kami koordinasikan lebih lanjut dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebelum diketahui pasti terkait izin pengelolaannya, kami belum bisa melakukan tindakan lebih lanjut. Harapan kami ke depan setidaknya dapat dilakukan tindakan reboisasi untuk menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya. (aro)



Apa Pendapatmu?