Alexa Metrics

Pandemi COVID-19 Buka Kesempatan Orang Dewasa Menyalurkan Hobinya

Pandemi COVID-19 Buka Kesempatan Orang Dewasa Menyalurkan Hobinya BERMAIN – Seorang ayah terlihat bermain dengan peliharaanya. Kegiatan di taman menjadi salah satu cara menumbuhkan rasa bahagia di saat pandemi Covid-19.

indopos.co.id – Pendemi Covid-19 membuka peluang besar bagi sebuah keluarga bermain bersama di rumah dengan buah hatinya. Intensitas yang rendah dan hanya di saat weekend seakan berubah. Bahkan, pandemi Covid-19 membuka kesempatan kepada orang dewasa untuk bermain menyalurkan hobinya.

Psikolog Anna Surti Ariani mengemukakan, bermain memang identik dengan aktivitas yang lekat dengan anak-anak, akan tetapi sebetulnya usia bukan penghalang untuk bermain.

Tak sekadar menghabiskan waktu luang, ada manfaat lain yang didapatkan orang dewasa dari bermain. “Terutama ketika melakukan permainan-permainan yang bentuknya seperti olahraga,” kata Anna kepada awak media, Senin (27/7/2020).

Manfaat bermain bagi orang dewasa sejatinya sangat luar biasa. Salah satunya membuat badan lebih sehat. Bermain juga bisa menjadi sarana mengekspresikan emosi karena seseorang melakukan kegiatan yang dapat membuatnya tertawa girang hingga berteriak penuh semangat. “Apalagi ketika bermain bersama dengan orang lain,” kata dia.

Bagi anak, bermain adalah salah satu cara mengembangkan kemampuan sosial, sementara bagi orang dewasa, bermain bisa jadi sarana mengeratkan hubungan dengan orang lain. “Bentuk permainannya bisa sama dengan anak-anak ataupun berbeda. contoh-contoh permainan dewasa, seperti permainan kartu, board game hingga olahraga,” jelas dia.

Jika memiliki hobi yang sering dilakukan saat senggang, hal itu juga bisa dianggap sama seperti bermain. “Karena pada dasarnya menjalankan hobi adalah menikmati kegiatan yang dianggap menyenangkan,” tutur dia.

Bermain adalah hak anak, tapi orangtua juga harus pintar menerapkan strategi agar anak tidak lupa waktu dan mengerjakan hal lain seperti belajar.

Hanya saja, disaat orang tua dan anak bermain bersama orang tua harus bisa membedakan kapan harus bermain dan kapan harus belajar.

“Biasanya akan jauh lebih mudah jika kita berkomunikasi tentang jadwal bermain untuk anak,” kata.

Jam dinding analog bisa dipilih sebagai alat bantu dalam membuat anak memahami jadwal belajar dan bermain. Jika anak sudah memahami cara kerja jam dinding, beritahu anak kapan waktunya mereka harus mengakhiri permainan.

“Kita bisa bilang, nanti kalau jarum panjang menunjuk angka 12, kita stop mainnya dulu,” kata Anna.

Menjelang batas waktu, ingatkanlah anak bahwa sebentar lagi dia harus berhenti bermain, namun dengan cara yang menyenangkan.

“Sebutkan, masih boleh main kok, anak akan berpikir masih ada waktu dan lebih bersemangat,” kata psikolog sekaligus ketua Ikatan Psikologi Klinis.

Setelah beberapa kali mengingatkan bila waktu bermain segera usai, orangtua bisa tegas ketika durasi waktu yang disepakati bersama anak telah tercapai. “Pada saat jarum lewat angka 12, karena sudah disampaikan berulang kali, maka tidak ada negosiasi,” terang dia.

Sampaikanlah batasan-batasan ini kepada anak dengan cara yang baik dan hangat sehingga anak bisa belajar lebih baik serta berkembang sebagai individu yang lebih matang. (ash)



Apa Pendapatmu?