Naik Bus JR Conn ke Jakarta Mulai Dikenai Tarif

Lebih Mahal Sedikit dari KRL

indopos.co.id – PT Kereta Commuter (KCI) Indonesia meningkatkan frekuensi perjalanan kereta rel listrik (KRL) menjadi total 966 perjalanan agar pengguna bisa menerapkan jaga jarak aman dan mencegah penularan COVID-19. VP Corporate Communication PT KCI Anne Purba menambah frekuensi perjalanan KRL untuk lintas Bogor-Jakarta.

Ada empat perjalanan tambahan yang melayani pengguna mulai Senin (27/7) lalu. ”Dengan mengoptimalkan frekuensi perjalanan KRL ini, kami berharap pengguna semakin dapat menjaga jarak aman saat berada di dalam KRL,” kata Anne, Rabu (29/7).

Baca Juga :

Dia menjelaskan, penambahan ini terdapat pada relasi Bogor-Angke PP dengan waktu keberangkatan dari Stasiun Bogor pukul 08.00, dan dari Stasiun Angke berangkat pukul 10.31. Para pengguna KRL, lanjutnya, dapat melihat jadwal terbaru pada aplikasi KRL Access secara berkala atau mengunduh jadwal yang telah disediakan di situs resmi mereka.

Pihaknya memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya bagi para pengguna jasa yang telah mengikuti antrean di stasiun maupun saat naik KRL dengan mengikuti marka-marka yang telah disediakan. Marka atau penanda jalur tersebut telah disesuaikan agar posisi saat berdiri dan duduk masih terdapat jarak sehingga pengguna dapat menggunakan transportasi publik dengan aman.

Baca Juga :

Transportasi Ikut Berperan Merawat Keberagaman

Anne menambahkan, KCI terus mengharapkan kerja sama agar pengguna jasa selalu mengikuti protokol kesehatan COVID-19 yang telah diwajibkan seperti selalu menggunakan masker, dan mengikuti pengukuran suhu di stasiun. Pengguna jasa sangat disarankan untuk selalu menjaga kebersihan tubuh dengan mencuci tangan di wastafel yang telah disediakan di seluruh stasiun saat sebelum maupun setelah naik KRL.

Masyarakat pelaju dari Bogor-Depok-Jakarta diharapkan pada Agustus mendatang, sudah dapat memanfaatkan angkutan alternatif reguler agar tidak hanya tergantung pada Kereta Rel Listrik (KRL). Diketahui, menyusul pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru sering terjadi lonjakan penumpang KRL pada waktu-waktu tertentu.

Baca Juga :

Sementara kapasitas penumpang KRL sendiri selama masa pandemi dibatasi maksimal 35-45 persen untuk memenuhi ketentuan physical distancing, yang mengakibatkan seringnya terjadi penumpukan penumpang. Sejauh ini pemerintah mengerahkan bus-bus gratis untuk mengangkut para pelaju yang tak tertampung KRL tersebut.

Meski cukup mampu mengatasi penumpukan penumpang penyediaan bus gratis tersebut tidak mungkin menjadi solusi tetap. ”Sejak awal kami meluncurkan bus gratis tersebut pada 15 Mei 2020, sudah kami informasikan bahwa, jika kebutuhan terus meningkat dan muncul demand yang konsisten. Tidak menutup kemungkinan akan kami luncurkan layanan bus reguler,“ kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B Pramesti.

Dari evaluasi yang dilakukan, menurut Polana memang potensi demand ada dan saat ini sedang dilakukan kajian untuk memperkuat rencana peluncuran layanan tersebut. ”Bentuk layanan nantinya adalah Bus Jabodetabek Residential Connexion (JR Conn) dengan rute point to point,“ kata Polana.

Sifat layanan Bus JR Conn ini titik pemberangkatan bukan dari terminal bus, namun diupayakan dari titik yang lebih terjangkau dari pemukiman calon penumpang (asal) menuju titik tertentu (tujuan) di Jakarta. Dengan demikian diharapkan tidak terjadi penumpukan calon penumpang di stasiun ataupun terminal.

Dia menambahkan, sudah ada perusahaan operator yang bersedia mengisi layanan reguler dan saat ini sedang melakukan berbagai persiapan. ”Mengingat trayek yang dijalani layanan ini adalah lintas wilayah administratif di Jabodetabek. Maka perizinannya ada di BPTJ dan kami tentunya akan mempermudah perizinannya,” jelas Polana.

Mengenai tarif, Polana menyebut tidak mungkin semurah tarif KRL. Karena tarif KRL sendiri disubsidi pemerintah. ”Diupayakan masih dalam batas kewajaran dan terjangkau oleh para pelaju,” tegasnya.

Nantinya layanan Bus JR Conn ini juga akan konsisten diterapkan protokol kesehatan, sehingga kapasitas penumpang dibatasi maksimal 50 persen, agar ketentuan jaga jarak dapat dipenuhi. (rd/rub)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.