Alexa Metrics

Idul Adha 1441 H, Teladani Keikhlasan dan Pengorbanan untuk Meraih Takwa

Idul Adha 1441 H, Teladani Keikhlasan dan Pengorbanan untuk Meraih Takwa Sholat Idul Adha 1441 H. (Foto; Antara)

Indopos.co.id – Umat Islam merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah atau bertepatan pada 31 Juli 2020. Hari Raya ini merujuk pada peristiwa kurban. Kurban yang diteladankan Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Mereka ikhlas mengorbankan nyawa Ismail, yang akhirnya diganti dengan sembelihan hewan kurban.

Kurban syariatnya menyembelih hewan. Tapi hakikatnya menyembelih segala ego diri dan duniawi guna meraih takwa. Dengan kata lain ibadah kurban dan Idul Adha semestinya dapat menghidupkan jiwa ikhlas, sabar, dan berkorban untuk meraih takwa. Sembelihlah segala nafsu bahimiah atau kehewanan agar hati, pikiran, dan tindakan berjiwa takwa.

Takwa itu jiwa hanif atau otentik yang tertanam dalam qalbu setiap insan beriman. Takwa itu puncak segala kebaikan yang melintasi ranah syariat menuju tangga hikakat dan makrifat dalam beragama.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir melalui Twitternya @haedar_ns  menyampaikan, menjadi orang bersyukur, sabar, dan ikhlas itu tidaklah mudah dalam praktik meski gampang dalam kata. Begitu juga menjadi takwa lebih tidak mudah lagi, hingga Allah menyuruh orang bertakwa agar “sebenar-benarnya takwa” .

’’Sudahkah kita terbiasa memberikan sebagian rizki yang dimiliki kepada orang yang memerlukan, menahan marah, dan memberi maaf kepada orang? Boleh jadi masih tidak mudah. Pekerjaan ruhani seperti itu tergolong “rif’ah” atau tindakan mulia bertingkat tinggi,’’ kata Haedar dalam cuitannya.

Bisa jadi bahkan atas nama menegakkan kebenaran atau nahyu munkar terpancar aura amarah, kebencian, permusuhan, dan sikap “tiada maaf bagimu”. Malah mungkin dengan sikap jemawa dan angkuh diri, merasa paling pemegang palu kebenaran dengan sikap semuci atau merasa paling benar.

Padahal Allah dzat pemilik kebenaran sejati mengingatkan dengan tegas, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm:32).

Haedar kemudian mengajak untuk mencoba mempraktikkan tiga sifat takwa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Berbagi rizki, menahan marah, dan memberi maaf. Cek pesan-pesan WA, SMS, Twitter, Instagram, serta media sosial lainnya setiap hari. Apakah yang paling banyak pesan berbagi, damai, merangkul, dan segala nilai keutamaan yang memancarkan kesyukuran, kesabaran, dan keikhlasan berjiwa takwa? Atau suara marah dan menghardik sesama dengan sikap jemawa merasa paling bersih, benar, dan suci.

’’Sesekali pesan-pesan sosial itu kita suarakan dengan rendah hati dalam balutan jiwa takwa nan hanif,’’ ajak Haedar.

Di Hari Adha ini, Haedar mengajak untuk meneladani keikhlasan, kesabaran, dan pengorbanan untuk meraih tangga tertinggi takwa. Di antaranya mengistirahatkan atau membuat jeda jiwa kita dari amarah, kedengkian, kebencian, permusuhan, dan menempatkan orang lain sebagai serba salah, serbasesat.

Seraya menghidupkan jiwa ikhlas, sabar, tawadhu, serta hati yang bersih sebagai kekuatan ruhani positif dalam menjalani dan menghadapi kehidupan nan fana ini. Amar makruf nahyu munkar pun dapat disuarakan dengan hikmah, mauidhah hasanah (nasihat yang baik), dan mujadalah (berdebat) yang ihsan tanpa keangkuhan diri.

Selain itu, pancarkan pesan-pesan kebenaran, kebaikan, kedamaian, dan segala keutamaan dengan jiwa ikhlas, sabar, dan tawadhu. Jadikan hati, pikiran, sikap, dan tindakan kita selaku insan bertakwa dalam menghadapi kehidupan seberat apapun dengan ketulusan, kesabaran, dan berkorban penuh.

Haedar mengungkapkan, kita ini hamba yang dhaif serta masih banyak salah dan khilaf, jauh dari sempurna. Kewajiban kita hanya ikhtiar, tanpa harus melampaui takaran. Selebihnya urusan Tuhan Yang Maha Kuasa.

’’Sesekali berhenti sejenak dari kebiasaan menghardik orang lain hatta atas nama suara kebenaran yang siapa tahu nisbi. Mari di Hari Raya yang diberkahi ini, kita jedakan jiwa agar tetap hanif tanpa jemawa,’’ pungkasnya.

Menyembelih Tamak

Sementara itu, Ketua KPK, Firli Bahuri, mengatakan, peringatan Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah seyogyanya menjadi momentum untuk “menyembelih” tabiat tamak.

“Ibadah kurban seyogyanya menjadi momentum bagi kita untuk “menyembelih” tabiat tamak, sifat binatang yang sejatinya ada namun terpendam dalam diri setiap manusia,” ucap dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/7).

Sama seperti binatang, lanjut dia, tabiat tamak manusia pada hakikatnya wujud nyata ketidakmampuan mengontrol dan mengendalikan keinginan, hasrat serta hawa nafsu sehingga kehilangan moral menjadi rakus karena tidak akan puas dengan apa yang ada, selalu kurang terhadap apa yang telah dimiliki.
Menurut dia, jika dikaitkan permasalahan besar bangsa, yaitu laten korupsi serta perilaku koruptif yang berurat akar di negeri ini maka dengan mengamalkan esensi dari teladan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta semangat Idul Adha (kurban) ditambah tiga strategi pemberantasan korupsi KPK diharapkan menjadi solusi terbaik agar Indonesia cepat terlepas dari bahaya aten korupsi.
’’Insya Allah menjadi solusi terbaik agar Indonesia cepat terlepas dari laten korupsi yang menggurita di negeri ini dan Indonesia yang bersih dari korupsi bukanlah hanya menjadi mimpi tetapi terwujud nyata Indonesia bersih dari segala bentuk korupsi,’’ katanya.
Adapun, kata dia, tiga strategi tersebut, yaitu pendekatan pendidikan masyarakat untuk membentuk cara berpikir dan “culture set” baru antikorupsi, pendekatan pencegahan yang tujuan utamanya menghilangkan kesempatan dan peluang untuk korupsi.
“Serta pendekatan penindakan di mana ketiganya adalah “core business” KPK dalam pemberantasan korupsi serta dilaksanakan secara holistik, integral sistemik, dan “sustainable” serta dukungan segenap komponen bangsa,” ujar dia.
Ia pun menegaskan korupsi bukan hanya kejahatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara tetapi juga termasuk kejahatan kemanusiaan dunia karena telah masuk sampai fase berjejaring di mana dampaknya sangat destruktif pada setiap tatanan kehidupan umat manusia.
“Dan hebatnya kejahatan ini dapat dilakukan secara sistimatik, terstruktur dengan dampak sistemik,” kata dia.
Korupsi, lanjut dia, terbukti dapat menciptakan fantasi, mendorong kreativitas calon-calon koruptor untuk beradaptasi, berinovasi, dan memodifikasi modus-modus baru kejahatan korupsi agar tidak terungkap apalagi tertangkap saat mereka beraksi.
“Oleh karena itulah, sudah sepatutnya kita jadikan perayaan Idul Adha tahun ini sebagai momentum kebangkitan melawan hasrat dan nafsu jahat korupsi, yang kita mulai dari diri sendiri,” katanya.

Menurut dia, bukan penyembelihan hewan kurban baik kambing ataupun sapi yang menjadi esensi dari perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini, namun keikhlasan, pengorbanan, dan konsistensi untuk tidak korupsi esensi dari makna kurban yang seharusnya terpatri dalam setiap hati sanubari seluruh anak bangsa di negeri ini. (cok/ant/nas)



Apa Pendapatmu?