Alexa Metrics

70 Persen Penyebab Stunting Berasal dari Luar Kesehatan dan Gizi

70 Persen Penyebab Stunting Berasal dari Luar Kesehatan dan Gizi Anak yang gemar bermain menandakan kalau tubuh mereka berkembang dengan baik dan sehat.

Indopos.co.id – Gizi buruk terus membayangi pertumbuhan anak Indonesia. Kesulitan ekonomi, lingkungan yang tidak sehat, serta kurangnya pengetahuan ibu muda merawat bayi menambah panjang deretan kasus stunting di tanah air.

Senior Technical and Liasion Advisor Early Childhood Education and Development di Tanoto Foundation Widodo Suhartoyo,  penyebab stunting sebesar 70 persen berasal dari hal-hal diluar kesehatan dan gizi.

“Seperti lingkungan, sanitasi, perilaku, dan pola makan masyarakat,” jelasnya  di acara Tanoto Foundation “Peran Komunikasi Perubahan Perilaku Dalam Pencegahan Stunting”, baru-baru ini.

Dari 70 persen penyebab di luar kesehatan dan gizi tadi, sebanyak 30 persen disebabkan oleh perilaku gizi yang salah. Hasil SSGBI (Survei Status Gizi Balita Indonesia) 2019, yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI menunjukkan, tingkat prevalensi stunting berada pada angka 27,7 persen.

”Angka itu cukup tinggi, sebab artinya hingga kini 3 dari 10 balita Indonesia mengalami stunting. Sedangkan pemerintah menargetkan stunting di bawah 20 persen di 2024. Rasanya cukup sulit,” ujarnya pesimistis.

Perilaku buruk masyarakat yang dimaksud adalah perilaku buruk dalam pola hidup bersih sehat, pola makan, dan pola pengasuhan. Seperti yang telah disebutkan tadi, ini menyumbang sebanyak 30 persen terhadap faktor penyebab stunting.

Dr Rita Ramayulis DCN, M.Kes menambahkan, stunting adalah keadaan yang terjadi secara akut, namun sedikit demi sedikit. ”Kita bicara stunting bukan pendek,tapi gagal tumbuh dan gagal kembang,” jelasnya.

Gagal tumbuh itu, pencapaian tinggi badan menurut umur rendah dan berisiko obesitas serta penyakit gangguan metabolik. Sementara gagal kembang artinya, tingkat kecerdasan anak rendah, tidak sama dengan usia anak sebaya.

“Sehingga, produktivitasnya rendah, tidak mampu bersaing, dan kemampuan finansial juga rendah. Keadaan kualitas hari ini menentukan masa depan,” tegasnya.

Dia menekankan, kehidupan 1.000 hari pertama kehidupan sangat menentukan. ”Keadaan gizi ibu hamil mempengaruhi keadaan saat melahirkan, mempengaruhi bayi usia 0-6 bulan, dan seterusnya,” ujar wanita yang juga Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association itu.

Menurutnya, gizi ketika calon ibu masih remaja juga sangat menentukan. Faktanya, remaja putri banyak yang mengalami anemia.

“Ditambah lagi, sekarang pola makan yang lebih memilih makanan cepat saji, pola hidup sedentary yang dipengaruhi teknologi juga menurunkan kualitas calon ibu masa depan,” paparnya.

Salah satu wilayah yang masih tinggi angka stuntingnya adalah Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut, prevalensi stunting Jawa Timur saat ini sudah mendekati angka nasional, yakni mencapai 26,91 persen.

Risiko stunting tertinggi berada di kabupaten Probolinggo, Trenggalek, Jember, Bondowoso dan Pacitan. ”Ini PR bersama, mengingat di dalam roadmap penurunan stunting, pada 2024 harapannya bisa dibawah 25 persen. Karena itu, langkah awal dengan memastikan ibu dan bayi mendapat gizi yang baik,” ungkapnya dalam webinar yang diselenggarakan YAICI bersama PP Aisyiyah, awal pekan lalu.

Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menjelaskan,  pembicaraan mengenai gizi anak harus berawal dari keluarga. Tingkat edukasi orang tua sangat mempengaruhi kualitas anak dan keluarga tersebut.

Sayangnya, berdasarkan profil keluarga BKKBN, sebanyak 16,95 persen atau kurang lebih 10 juta keluarga Indonesia masuk kategori prasejahtera. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan kepada keluarga, terdapat 51,5 persen kepala keluarga yang menginjak pendidikan hanya sampai jenjang SD.

”Bisa dibayangkan, dengan situasi seperti itu, bagaimana tumbuh kembang anak-anak kita. Belum lagi saat ini kita memasuki masa pandemi,” ucapnya prihatin. (dew)



Apa Pendapatmu?