Alexa Metrics

Mengenang Karya Sang Maestro Puisi Prof. Sapardi Djoko Damono

Mengenang Karya Sang Maestro Puisi Prof. Sapardi Djoko Damono Prof. Sapardi Djoko Damono saat masih berkarya. Ia meninggalkan deretan karya sastra untuk generasi muda indonesia

Indopos.co.id – Prof. Sapardi Djoko Damono pergi meninggalkan kenangan manis akan karya sastranya. Sebagai tanda penghormatan akan kepergian mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), 26 profesor,akademisi, alumni UI yang mempersembahkan Virtual Poetry Reading, yang dihadiri istri almarhum, Sonya Sondakh. Seperti apa?

Tak banyak yang mengenal sosok Sapardi Djoko Damono, apalagi kalangan milenia. Namun, pria yang juga professor ini memiliki karya yang luar biasa di bidang sastra. Di dunia akademisi, pria yang dikenal dengan nama Sapardi Djoko Damono melahirkan beragam karya sastra.

Akan tetapi, penggemarnya tak akan lagi bisa membaca karyanya. Sapardi Djoko Damono pergi meninggalkan kenangan manis akan karya sastranya, beliau meninggal ada 19 Juli 2020, dalam usia 80 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka bagi segenap sivitas akademika dan warga UI.

“Beliau memiliki tempat tersendiri di hati kami, beliau adalah seorang pujangga yang tidak hanya ada di hati generasi seperti kami, melainkan pula turut mengisi para generasi muda saat ini,” ujar Prof. Riri Fitri Sari, guru besar FTUI kepada awak media.

Sebagai bentuk apresiasi akan karya sang maestro 26 profesor, akademisi, alumni UI yang mempersembahkan Virtual Poetry Reading. Upaya ini sebagai salah satu persembahan kepada sang maestro ditengah pandemi.

“Semoga persembahan Virtual Poetry Reading ini dapat menyampaikan rasa kasih kami yang sangat mendalam. Teriring doa semoga beliau bahagia dalam perjalanannya menuju surga,” kata Riri selaku penggagas kegiatan ini.

Melalui Virtual Poetry Reading ini, para civitas akademika UI secara bergantian membaca puisi karya Prof. Sapardi via zoom. Deretan karya terbaik yang dilantunkan di antaranya Puisi Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, Puisi Pada Suatu Hari Nanti, Puisi Dalam Diriku, Puisi Akuarium Bulan Juli.

Terdapat juga Puisi Sajak Tafsir, Puisi Ajaran Hidup, Puisi The Day Will Come, Puisi Ziarah, Puisi Akulah Si Telaga, Lirik untuk Improvisasi Jazz, Puisi Yang Fana adalah Waktu, Puisi Hanya, Puisi Hatiku Selembar Daun, Puisi Aku Ingin, Puisi Sebelum Surya Terakhir, Puisi Atas Kemerdekaan, dan Puisi Jarak.

Begitu pun dengan Puisi Kuhentikan Hujan, Puisi Di Tangan Anak-anak, Puisi Tentang Seorang Penjaga Kubur,Puisi Kenangan, dan Puisi Ayat-Ayat Tokyo.

“Semuanya dibacakan secara bergiliran,” kata dia.

Dalam pembacaan puisi tersebut, tak banyak para sahabat yang meneteskan air mata, mereka mendalami satu demi satu kalimat yang diurai almarhum. Kalimat-kalimat tersebut seakan menjadi kalimat sacral yang menjadi kekuatan karya almarhum. ”pemilihan kata dan tema sangat luar bisa, kita begitu terasa mendalaminya,” tambah dia.

Selain pembacaan puisi, acara yang dikemas apik ini diselingi pula dengan pembacaan cerpen karya Prof. Sapardi berjudul “Surat” oleh Niniek L Karim. Penggiat seni yang juga dosen di Fakultas Psikologi. (*)



Apa Pendapatmu?