Jangan Takut ke Rumah Sakit, Pastikan Buah Hati Anda Sehat

indopos.co.id – Ketakutan masyarakat memeriksa kondisi kesehatan di Rumah Sakit (RS) masih menjadi problematika di tengah pandemi Covid-19. Ketakutan menjalani rapid test dan akhirnya berujung dirujuk ke Rumah Sakit (RS) atau tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa menjadi masalah kesehatan baru.

Salah satunya bagi ibu menyusui.

Baca Juga :

Padahal, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh atau General Medical Check Up (GMC) secara berkala terlebih dalam kondisi pandemi seperti saat ini dinilai sangat penting dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan diri. ”Hal ini kerap mendatangkan akibat yang fatal,” ujar Reskia Dwi Lestari, Marketing Communication Manajer PT Prodia Widyahusada kepada awak media.

Ia menjelaskan, sebagian besar penyakit termasuk Covid-19 bisa saja tidak menimbulkan gejala atau seringkali gejala muncul ketika penyakit tersebut telah berada di tahap lanjut.

Baca Juga :

“karenanya penting sekali untuk selalu memantau dan memastikan status kesehatan anda dan keluarga,” kata dia.

Dengan rutin melakukan General Medical Check Up (GMC), tambah dia, maka dapat mendeteksi sedini mungkin penyakit dengan gejala yang sering tidak tampak seperti hipertensi, diabetes melitus, kelainan lemak, penyakit darah, penyakit hati, penyakit ginjal, penyakit paru, dan lain-lain. ”Berkembangnya penyakit dan komplikasi juga dapat dicegah dan jika dibutuhkan, pengobatan dapat dilakukan segera sehingga biaya pun lebih hemat,” kata dia.

Sementara itu, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Tatih Meilani menambahkan, bertepatan dengan peringatan Pekan Menyusui Sedunia (World Breasrfeeding Week/WBW) yang tahun ini berlangsung di masa pandemi Covid-19, mungkin masih dijumpai sebagian ibu khawatir bayi mereka terkena Covid-19. ”Mereka juga bertanya pada diri mereka sendiri apakah COVID-19 bisa ditularkan melalui ASI dan apa yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri mereka sendiri dan bayi mereka,” kata dia.

Tatih menjelaskan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kontak ibu-bayi dan menyusui harus didasarkan pada pertimbangan tidak hanya risiko potensial infeksi Covid-19 pada bayi, tetapi juga risiko morbiditas dan mortalitas terkait tidak menyusui dan penggunaan susu formula yang tidak tepat serta efek perlindungan dari kontak kulit ke kulit.

”Saat ini, belum ada data yang bisa menyimpulkan transmisi vertikal Covid-19 melalui menyusui. Pada bayi, risiko infeksi Covid-19 rendah, infeksi biasanya ringan atau tanpa gejala. Sementara konsekuensi dari tidak menyusui dan pemisahan antara ibu dan anak bisa signifikan,” kata dia.

Ia menambahkan, ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bayi dan melindunginya dari penyakit. Gangguan menyusui dapat menyebabkan penurunan suplai ASI, penolakan bayi untuk menyusu dan penurunan faktor imun pelindung yang terkandung dalam ASI. ”Ibu dan bayi harus tetap bersama saat berada di kamar untuk melakukan kontak kulit-ke-kulit, terutama segera setelah kelahiran dan selama masa menyusui,” papar dia.

Tatih menegaskan, menyusui bisa melindungi ibu dari depresi dan sebaliknya, pada ibu yang tidak menyusui bayinya, lebih banyak kejadian depresinya. “Menyusui kan skin-to-skin contact, ada kontak fisik, membuat hormon bahagia atau endorfin, jadi si ibu lebih terhibur,” kata dia.

Ibu dan bayi memiliki kelekatan yang erat dan saling mempengaruhi. Kondisi emosi ibu bisa berpengaruh pada bayi mereka. Jika ibu merasa kesal, bukan tak mungkin bayinya akan mengalami tantrum. Ibu yang emosinya tidak stabil, biasanya bayinya akan rewel atau tidak tenang.

Hal ini karena bayi membaca emosi yang ibunya tampilkan.

“Studi menunjukkan, apa-apa yang ibunya tampilkan, dia (bayi) ikuti. Ibunya marah anaknya juga tantrum. Ibunya sedih mungkin anaknya juga bisa berat badannya susah naik, perkembangannya terlambat, bisa jadi pengaruh depresinya ibu ke bayi,” tutur Tatih.

Di sinilah, pentingnya orang-orang di sekitar ibu menyusui termasuk suami dan keluarga punya peranan penting. Mereka bisa membantu menenangkan sang ibu. Misalnya, sekadar menjadi pendengar yang baik, tidak membuat ibu kecil hati dan bicara hal positif padanya, semisal dia bisa menyusui walau dalam kondisi mental kurang fit.

“Ibu perlu juga ditenangkan oleh orang di sekitarnya. Bayi butuh ibunya, ASI-nya dan sentuhannya walau ibu dalam kondisi mental kurang fit. Jadi pendengar yang baik buat dia untuk ungkapkan yang dirasakan,” tutur Tatih. (ash)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.