Angka Kematian COVID Turun, Waspada Tetap Diperlukan

indopos.co.id – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan kematian akibat COVID-19 di Indonesia sudah semakin menurun, meskipun masih di atas persentase kematian global.

“Hingga Senin (3/8), persentase kematian akibat Covid-19 jadi 4,68 persen. Memang bukan kabar menggembirakan karena masih di atas persentase global 3,79 persen,” kata Wiku dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

Baca Juga :

30 Hotel di Jakarta Siap Jadi Ruang Isolasi

Wiku mengatakan persentase kematian berbanding kasus konfirmasi positif Covid-19 terus menurun sejak Maret hingga Juli 2020. Hal itu menunjukkan kedisiplinan dan semangat masyarakat untuk melindungi kelompok rentan dan perawatan terhadap pasien Covid-19 yang semakin membaik. “Perlu kerja keras dari kita semua untuk menurunkan angka kematian sehingga bisa menjadi lebih rendah dari angka global,” tuturnya.

Wiku mengatakan kelompok yang rentan bila tertular Covid-19 adalah anak-anak, lanjut usia, dan seseorang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Baca Juga :

KAI Tambah Stasiun yang Layani Rapid Test

Kelompok rentan tersebut harus dijaga agar tidak tertular. Bila ada kemungkinan tertular, maka harus segera ditangani untuk mencegah kemungkinan yang lebih buruk. “Bila pasien komorbid dan lanjut usia bisa ditangani dengan baik dan lebih cepat, maka bisa menekan angka kematian akibat Covid-19,” jelasnya.

Pada Selasa, kasus meninggal dunia akibat Covid-19 bertambah 86 orang sehingga total kasus meninggal menjadi 5.388 orang.

Baca Juga :

Sementara itu, penambahan konfirmasi positif mencapai 1.922 kasus sehingga total menjadi 115.056 kasus, dan kasus sembuh bertambah 1.813 orang sehingga total menjadi 72.050 orang.

Sementara itu, Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd mengingatkan masyarakat jangan terlena penurunan semu kasus COVID-19.

“Kita tidak boleh lalai dan tetap waspada jangan sampai penurunan yang terjadi adalah penurunan semu, karena pemeriksaan laboratorium RT PCR juga turun. Di antaranya karena libur menjelang Hari Raya Idul Adha atau memang tes usap sedang mengalami penurunan kuantitas sampel,” katanya di Banjarmasin, Selasa.

Menurut Syamsul, tren penurunan tersebut memang hal yang baik dan patut disyukuri bersama, sebab dengan jumlah kasus yang rendah maka “Attack Rate” (AR) atau tingkat serangan juga mengalami penurunan.

Ia menjelaskan AR suatu wilayah didapatkan dengan membagi jumlah kasus dengan jumlah penduduk. Attack rate ini kemudian menjadi parameter yang menunjukkan risiko penduduk sebuah wilayah untuk tertular virus corona.

Semakin kecil “Attack Rate” di suatu wilayah, semakin kecil pula risiko penduduk yang tinggal di wilayah tersebut untuk tertular atau terdeteksi.

Meski begitu, Syamsul melihat perlu kriteria lain yang harus diperhatikan untuk menentukan penurunan kasus tersebut, yaitu angka “positive rate” atau tingkat positif.

Angka ini merupakan jumlah kasus yang terkonfirmasi positif dibagi total pemeriksaan spesimen PCR usap dikali seratus persen. Positive rate adalah jumlah kasus dibagi dengan jumlah tes orang di sebuah negara atau daerah.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu memaparkan pada 9 Juli 2020 angka positive rate di Indonesia 21,2 persen. Lima provinsi tertinggi positive rate pada tanggal 29 Juni 2020 adalah Sulawesi Tenggara (67,52 persen), Sulawesi Barat (43,02 persen), Jambi (35,45 persen), Kalimantan Selatan (20,68 persen) dan Jawa Timur (19,64 persen).

Rerata positive rate Indonesia sampai tanggal 3 Agustus 2020 adalah 12,64 prsen. Angka sangat tinggi dibandingkan positive rate yang telah ditetapkan WHO yaitu 5 persen atau China 0,09 persen dan Malaysia 1,4 persen.

Positive rate yang rendah merupakan salah satu indikator sebuah negara atau daerah mampu mengontrol penyebaran virus.(ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.