Alexa Metrics

Tak Hanya Berwawasan Keilmuan, Ini Ajakan Mensos Terhadap Kampus ke Depan…

Tak Hanya Berwawasan Keilmuan, Ini Ajakan Mensos Terhadap Kampus ke Depan… Menteri Sosial Juliari Peter Batubara. Foto: Charlie Lopulua/INDOPOS

indopos.co.id-Keberadaan kampus ke depan tidak hanya selalu berwawasan keilmuan semata, tetapi sudah harus mengarah pada kampus yang berwawasan hijau. Ini artinya kampus yang mengedepankan cara-cara mengatasi masalah sosial (masos) yang bercirikan pemberdayaan dan menciptakan lingkungan yang ramah, mudah, dan berekspektasi pada membangun daya tahan dan daya juang sasaran yang diberdayakan.

Demikian dikatakan Menteri Sosial (Mensos) Juliari P. Batubara saat melakukan diskusi santai dengan jajaran akademika Politeknisk Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung, Jawa Barat (Jabar) yang bertajuk ‘Pekerjaan Sosial Berwawasan Ekologis (Green Social Work)’ pada Rabu (5/8/2020).

”Ini sebuah ide yang menantang untuk sebuah upaya membangun kampus yang ‘environmental friendly’, yaitu kampus yang bisa merecovery persoalan-persoalan (social, Red) menjadi sesuatu yang bernilai kembali,” ujarnya.

Saat masos mengemuka di ranah kehidupan masyarakat, lanjut Juliari, selalu berfokus pada Kementerian Sosial (Kemensos). Kemensos dijadikan sebagai tempat pengharapan publik yang mengalami masos untuk diselesaikan. ”Ini sebuah peluang dan juga tantangan bagi para pekerja sosial (peksos), untuk ke depan menciptakan pola dan cara menyelesaikan masalah yang berujung pada ‘make somebody happy and make somebody strong’. Dan ini adalah ranah tugas dari keilmuan peksos,” ujarnya.

”Bagaimana me-recycle suatu persoalan sosial menjadi sebuah kekuatan sosial yang menguatkan citra diri, harkat, dan martabat? Pasar dunia sudah melihat pada hal ini, sebagai sebuah keniscayaan. Bagaimana kita menciptakan peksos profesional yang berwawasan lingkungan? Bagaimana melahirkan lulusan sarjana pekerjaan sosial yang berwawasan lingkungan?” harap Juliari.

”Kita harus menciptakan penyelesaian masalah yang ramah secara psiko sosial dan ramah secara ekologis. Kesehatan sosial dan kesehatan lingkungan akan menjadi obat mujarab dalam membangun daya tahan dan daya juang warga yang mengalami masos. Warga akan tahu, mau, dan bisa cara mengatasi masalah dan menyelesaikan masalah,” tandas Mensos.

Dia menambahkan, kampus ke depan merupakan kampus yang memiliki banyak ruang yang bernuansa eksperimen, less light, more natural light, more fresh space, zero waste. Kampus harus diciptakan mendukung pada aktualisasi dan eksistensi penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagaimana diamanatkan dalam undang undang kesejahteraan social–‘integrated campus’. Dengan demikian, ke depan kampus poltekesos juga bisa meningkatkan value Kemensos sebagai pemilik poltekesos, juga value lulusannya. Poltekesos menjadi ‘melting pot’–cawan peleburan– yang akan melahirkan resep resep implementatif pemecahan masalah sosial yang menjadi tugas pokok Kemensos.

”Kampus harus berisi instrumen yang mampu mendidik para mahsiswanya mampu dan trampil dalam mengatasi dan menyelesaikan 26 permasalahan sosial dan menguatkan tujuh potensi sosial. Green Social Work adalah tren ke depan sebagai keilmuan yang ramah pola, ramah cara, ramah teknik. Mendidik dan melatih mahasiswa yang berwawasan kebangsaan serta berwawasan pada lingkungan,” jelas Mensos.

Diskusi yang diikuti seluruh civitas akademika poltekesos dan undangan lainnya berjalan sangat menarik, karena ada tantangan untuk menciptakan cara cara baru dalam mengatasi problem bangsa, khususnya dalam hal kesejahteraan sosial. Mensos berpesan agar poltekesos untuk segera membuat platform atau road map baru dalam penyelengaraan pendidikannya yang berwawasan kebangsaan, lingkungan yang ramah. Ada diferensiasi baik dalam hal science, technology, maupun spiritualnya dengan kampus lainnya yang sejenis. (aro/ant)



Apa Pendapatmu?