Alexa Metrics

Ledakan di Beirut Tewaskan 100 Orang Lebih

Ledakan di Beirut Tewaskan 100 Orang Lebih Seorang lelaki membawa korban melewati puing-puing di distrik Achrafiyeh di pusat ibukota Lebanon, Beirut, pada 4 Agustus 2020. Dua ledakan dahsyat mengguncang Beirut melukai puluhan orang, mengguncang bangunan, dan mengirim asap besar mengepul ke langit. (Foto: AFP/Marwan TAHTAH)

indopos.co.id – Ketika kabut cokelat gelap mulai menghilang. Jalan-jalan di Beirut timur tampak hancur. Bahkan 4 km dari pusat ledakan, banyak bangunan kehilangan hampir seluruh jendela. Asap bertebaran dalam kantong-kantong gas warna merah muda. Menyelimuti lokasi kejadian. Pecahan besar kaca menutup jalan, pepohonan rusak, dan darah tergenang membentuk kolam di jalanan.

Jejak darah dari mobil dan sepeda motor yang membawa korban luka tampak mengarah ke klinik atau rumah sakit. Ambulans meraung-raung di sepanjang jalan-jalan kota. Melaju melewati persimpangan yang dihadang banyaknya mobil yang mencoba melarikan diri. Awan jamur mengepul di atas pelabuhan terdekat mengarah ke timur. Tetapi menjulang dalam beberapa bentuk hampir selama setengah jam.

Berjalan menyusuri pinggiran timur kota Beirut, dari Ashrafieh ke Gemmayze, dan menuju lokasi ledakan di pelabuhan, kehancuran akibat ledakan bahkan lebih komprehensif. Lusinan bangunan jelas mengalami kerusakan struktural. Toko-toko dan restoran hampir semuanya rusak parah. Seluruh klub malam di distrik itu hampir musnah.

Pria, perempuan, dan anak-anak tampak berjalan kebingungan di lokasi-lokasi dekat pusat ledakan. Banyak yang meninggalkan puing-puing rumah mereka tanpa tujuan.

Bukanlah hal mudah untuk menghancurkan Beirut. Kota yang telah jatuh dan bangkit akibat ledakan bom sebelumnya. Meski merupakan kota yang telah terbiasa dengan ledakan, ini sesuatu yang baru.

’’Kami dikutuk,’’ ujar seorang pria berusia 20 tahunan, seperti dikutip Guardian. Darah terlihat mengalir dari tangannya akibat potongan kaca.

’’Ada banyak orang hilang. Orang-orang bertanya kepada departemen darurat tentang orang-orang yang mereka cintai dan sulit untuk mencari di malam hari karena tidak ada listrik,’’ kata Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hasan, pada Reuters.

Tak lama setelah ledakan, orang-orang Beirut berdiri di antara debu dan puing-puing sambil menangis minta tolong. Seorang perempuan berusia dua puluhan berdiri di gerbang dan berteriak pada pasukan keamanan. Dia menanyakan nasib kakaknya. Karyawan pabrik di pelabuhan.

’’Namanya Jad, matanya hijau,’’ serunya.

Tetapi pasukan keamanan itu tidak membiarkannya masuk. Di dekatnya, seorang perempan lain terlihat hampir pingsan ketika bertanya tentang saudara lelakinya yang juga bekerja di pelabuhan.

’’Di dalam terlihat seperti bencana. Ada mayat di tanah. Ambulans masih mengangkut orang mati,’’ jawab tentara itu.

Setelah ledakan, ribuan orang mencari pengobatan di rumah sakit terdekat. Seorang dokter di rumah sakit St. George yang berjarak 2 km dari lokasi ledakan mengatakan, orang-orang yang terluka dibawa untuk dirawat, tetapi rumah sakit itu telah hancur.

’’Mereka membawa orang ke rumah sakit tapi kami tidak bisa menerima mereka,’’ katanya. ’’Mereka merawat pasien-pasien itu di luar, di jalan. Rumah sakit telah rusak, UGD rusak,’’ seru dokter itu.

Seorang pasukan keamanan mengatakan pada AFP, para korban ledakan telah dibawa untuk dirawat di luar kota. Sebab, rumah sakit di Beirut penuh korban yang terluka. Ambulans dari utara dan selatan negara itu bahkan dari lembah Bekaa di Timur telah dipanggil untuk membantu.

’’Apa yang kami saksikan adalah bencana besar,’’ kata kepala Palang Merah Lebanon, Georges Kettaneh kepada penyiar Mayadeen. ’’Ada korban di mana-mana,’’ tambahnya. Palang Merah juga telah mengeluarkan permintaan darurat untuk donor darah.

Sebuah gudang yang menyimpan ribuan ton bahan peledak dicurigai sebagai sumber ledakan besar yang menghancurkan ibukota Lebanon itu. Setidaknya 100 orang meninggal dan 4.000 orang lainnya luka-luka.

Kantor berita resmi Lebanon NNA dan dua sumber keamanan mengatakan, ledakan terjadi di daerah pelabuhan kota. Di situ terdapat gudang-gudang bahan peledak. Sedangkan sumber keamanan ketiga mengatakan terdapat bahan kimia yang disimpan di daerah itu.

Rekaman ledakan yang beredar di publik melalui media sosial menunjukkan asap naik dari distrik pelabuhan yang diikuti ledakan besar. Mereka yang merekam apa yang awalnya tampak seperti kobaran api besar kemudian dikejutkan ledakan.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan sebanyak 2.750 ton amonium nitrat ditimbun selama enam tahun di gudang pelabuhan, lokasi terjadinya ledakan amat masif yang mengguncang Ibu Kota Beirut, Selasa (4/8).

Aoun menyebut penimbunan zat kimia bersifat eksplosif tersebut tidak dapat diterima, karena dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan aspek keamanan. Amonium nitrat adalah senyawa kimia yang biasa digunakan untuk pupuk dan menjadi campuran zat dalam konstruksi pertambangan. Aoun meminta kabinet pemerintahan menggelar rapat darurat terkait ledakan ini pada Rabu, serta mengatakan status darurat selama dua pekan harus segera diumumkan.

Otoritas setempat Beirut menyebut kemungkinan korban meninggal masih akan terus bertambah seiring proses evakuasi petugas yang mencari korban di bawah reruntuhan bangunan.

Perdana Menteri Hassan Diab menyatakan dalam pidatonya bahwa harus ada pertanggungjawaban terhadap ledakan maut di “gudang berbahaya” ini. ’’Mereka yang bertanggung jawab akan membayar dengan harga setimpal,’’ kata Diab, yang menambahkan bahwa rincian terkait hal ini akan disampaikan kepada publik.

Beberapa jam usai ledakan yang terjadi sekitar pukul 6 petang waktu setempat, api masih menyala di wilayah pelabuhan sehingga terlihat cahaya kemerahan menjelang malam.

Sebagian korban luka dibawa ke luar Beirut untuk perawatan, karena rumah sakit di kota penuh. Ambulans dari kota-kota sekitar juga dikerahkan untuk membantu evakuasi.
Gubernur Beirut Marwan Abboud menangis ketika berbicara kepada wartawan di lokasi ledakan. Dia membandingkan ledakan itu dengan pengeboman nuklir yang mengerikan di kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Ledakan itu terjadi pada saat sensitif. Hanya beberapa hari sebelum Pengadilan Khusus PBB untuk Lebanon dijadwalkan mengumumkan putusannya dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri, yang tewas dalam ledakan besar di Beirut pada 2005.

Negara ini juga bergulat dengan krisis ekonomi terburuk dalam beberapa decade. Seperti banyak dunia sedang menghadapi pandemi Virus Corona.

Sumber yang dekat dengan Hizbullah membantah tuduhan bahwa ledakan besar-besaran di Beirut adalah serangan oleh Israel terhadap gudang senjata mereka. Para pejabat Israel, yang berbicara kepada media lokal dengan syarat anonim, membantah keterlibatan Israel dalam tragedi itu, mengatakan ledakan itu bisa saja kecelakaan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut ledakan dahsyat ini “tampak seperti serangan mengerikan”. Ini menunjukkan peristiwa itu adalah pengeboman, bukan kecelakaan.

Ditanya seorang reporter di Gedung Putih, Selasa (4/8), mengenai penilaiannya bahwa ledakan itu adalah serangan dan bukan kecelakaan, Trump mengatakan “tampaknya seperti itu berdasarkan ledakan”.

“Saya bertemu beberapa jenderal besar kita, dan mereka sepertinya merasa begitu. Ini bukan semacam jenis ledakan manufaktur,’’ kata Trump.

“Mereka akan lebih paham daripada saya, tetapi mereka tampaknya berpikir itu adalah serangan, itu semacam bom,” ia melanjutkan.

Sedangkan Inggris pada Rabu mengatakan terlalu cepat untuk berspekulasi penyebab ledakan dahsyat yang mengguncang Ibu Kota Beirut dan menewaskan sedikitnya 100 orang. Ketika ditanya tentang spekulasi penyebab ledakan, Menteri Pendidikan junior Inggris Nick Gibb menuturkan, “Otoritas Lebanon tentunya sedang menyelidiki penyebab tragedi itu dan sebelum kami mendapatkan hasil penyelidikan, terlalu cepat untuk berspekulasi.”

Gibb juga mengatakan kepada lembaga penyiar Sky bahwa Inggris sedang membahas bantuan teknis dan finansial apa yang dapat ditawarkan kepada Lebanon.

Bantuan ke Lebanon

Negara-negara di kawasan Timur Tengah menawarkan bantuan kepada Lebanon menyusul ledakan di Ibu Kota Beirut. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menginstruksikan otoritas Qatar untuk mengirim rumah sakit lapangan ke Lebanon.

Dalam sebuah pernyataan, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kazimi juga menyampaikan belasungkawa dan berharap pemulihan cepat bagi para korban.
Pemimpin Pemerintah Daerah Kurdi Irak (KRG), Nechirvan Barzani, mengatakan di Twitter bahwa mereka mendukung rakyat Lebanon.

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi juga menyampaikan belasungkawa kepada rakyat dan pemerintah Lebanon. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif melalui akun Twitternya menyatakan “Iran sepenuhnya siap untuk memberikan bantuan dengan cara apa pun yang diperlukan”.

Ayman Safadi, menteri luar negeri Yordania, mengatakan negaranya siap untuk mengirim bantuan yang dibutuhkan ke Lebanon atas ledakan itu.

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz dan Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi menawarkan bantuan dan mengatakan mereka siap mengirim bantuan medis dan kemanusiaan melalui mediator internasional.

Di akun Twitternya, ketua Dewan Tinggi Negara Libya, Khalid al-Mishri, menyampaikan belasungkawa terdalam dan berharap pemulihan cepat bagi semua yang terluka.
Mohammed Al-Qablawi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Libya, mengatakan orang-orang Libya memiliki solidaritas penuh dengan rakyat Lebanon.

Ledakan itu terjadi pada waktu yang sensitif, beberapa hari sebelum Pengadilan Khusus PBB untuk Lebanon dijadwalkan mengumumkan vonisnya dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri. (fay/rtr/guardian)



Apa Pendapatmu?