Alexa Metrics

Daun Katuk, Torbangun dan Ikan Gabus Dipercaya Tingkatkan Kualitas ASI

Daun Katuk, Torbangun dan Ikan Gabus Dipercaya Tingkatkan Kualitas ASI BONDING-Kualitas Air Susu Ibu (ASI) berdampak pada pemenuhan gizi bayi.

indopos.co.id – Kegiatan menyusui buah hati bagi seorang ibu adalah kewajiban. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif berdampak besar pada pemenuhan gizi dan pertumbuhan bayi di masa depan.

Namun di tengah pandemi seperti saat ini, ternyata bisa menurunkan tingkat keberhasilan
menyusui. Maka itu, kegiatan menyusui perlu mendapat tambahan berupa pemanfaatan bahan alam Indonesia sebagai laktagogue. Menurut dr Fenny Yunita, M.Si., Ph.D, selaku Konselor Laktasi, Dosen & Peneliti Bahan Alam, dan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) & Perkumpulan Profesi Kesehatan Tradisional
Komplementer Indonesia (PPKESTRAKI), dengan menyusui berarti para keluarga mengambil peranan untuk mendukung kesehatan planet dan masyarakatnya. “Sesuai dengan tema Pekan Menyusui Sedunia 2020 Dukung Menyusui untuk Bumi yang Lebih Sehat, ASI adalah makanan alami yang diproduksi dan diberikan pada konsumennya tanpa mengakibatkan polusi,
tanpa kemasan, dan limbah. Jika kita mendukung ibu menyusui maka kita juga mengurangi polusi udara, air, dan tanah. Itu sama artinya dengan melindungi generasi muda di masa depan,” paparnya.

Dirinya mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan menyusui khususnya di masa Pandemi COVID-19. “Pandemi COVID-19 menurunkan aktivitas IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Di mana kunjungan ibu hamil dibatasi, sehingga layanan konseling laktasi sebelum melahirkan yang merupakan salah satu kunci keberhasilan menyusui juga terhambat. Belum lagi ibu melahirkan yang positif COVID-19, otomatis menghindari kontak erat dengan ibu, sehingga menyusui sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi juga tak
terlaksana. Demikian pula pemberian ASI perah yang sulit terlaksana,” ulasnya lagi.

Padahal idealnya, IMD pemberian ASI harus dilakukan segera setelah bayi dilahirkan, yaitu sekitar 30 menit sampai satu jam pasca-persalinan. Dalam proses ini, bayi yang baru saja dilahirkan akan dibiarkan untuk mencari
puting susu ibunya tanpa bantuan siapapun.
Dia menambahkan, Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya berlimpah, termasuk dalam hal menyusui. Setiap daerah
memiliki kebijaksanaan lokal yang telah dipercaya dapat meningkatkan keberhasilan menyusui.
Ada beberapa bahan alam yang lazim digunakan, misalnya daun katuk, daun torbangun (bangun-bangun), daun kelor, klabet,
kacang-kacangan dan berbagai jenis bahan lainnya. Beberapa di antaranya telah diteliti dan terbukti meningkatkan kadar prolaktin, oksitosin, maupun volume ASI, dan peningkatan berat badan bayi.

Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) PT Dexa Medica Dr Raymond Tjandrawinata mengemukakan, sebagai perusahaan farmasi Nasional yang mendukung Pekan Menyusui Sedunia sebagai kawal awal kehidupan bagi buah hati sebagai generasi bangsa dan juga bumi sebagai tempat tinggal. “Kami sebagai lembaga riset, meneliti biodiversitas alam Indonesia untuk dikembangkan menjadi obat-obatan
yang bermanfaat bagi manusia. Salah satu biodiversitas alam yang dikembangkan adalah pemanfaatan daun katuk, daun torbangun, dan ikan gabus sebagai ASI booster,” ulasnya.

Ketiga bahan baku alam tersebut diproses dengan teknologi AFT (Advanced Fractionation Technology), memiliki aktivitas biologis dan memiliki kemurnian tinggi. Untuk menghasilkan fraksi bioaktif Galatanol yang
merupakan fraksi bioaktif kombinasi dari daun katuk dan daun torbangun, telah terbukti memiliki efek untuk
merangsang produksi ASI dalam produk Herba Asimor.

Herba Asimor terdiri dari daun katuk yang memberikan peningkatan signifikan dalam ekspresi gen prolaktin
dan oksitosin. Yaitu hormon yang berperan penting dalam proses menyusui sehingga dapat meningkatkan produksi ASI. Sementara daun torbangun dapat meningkatkan kadar prolaktin, serta meningkatkan aktivitas sel
epitel dan metabolisme kelenjar susu. “Sehingga produksi ASI meningkat 65 persen tanpa mengubah kualitas gizi
susu,” tuntasnya. (vit)



Apa Pendapatmu?