Alexa Metrics

Nasi Rawon

Nasi Rawon ariyanto

Ariyanto
Pemimpin Redaksi Harian INDOPOS

SIANG itu. Di ruang kerja Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Di Gedung Manggala Wanabhakti Jakarta. Sang Dirjen, Ir Wiratno, M.Sc, mengajak makan Nasi Rawon. Hanya berdua. Ternyata, ada pesan simbolik di balik sepiring Nasi Rawon ini.
Sungguh ini makanan menggoda selera. Kebetulan lidah saya dan Pak Dirjen memang sama-sama lidah Jawa Timur. Sukanya Nasi Rawon. Mungkin juga suka Tahu Campur, Tahu Tek, Lontong Kikil, Lontong Balap, Lontong Kupang, dan makanan khas Jawa Timur lainnya.
’’Alhamdulillah nikmat sekali. Apa yang dicari manusia. Makan sepiring nasi saja sudah kenyang!’’ kata Pak Wiratno usai menyantap makanan tradisional Jawa Timur itu.
Pak Wiratno lalu mengambil handphone. Jemarinya mengetikkan sesuatu. Lalu, terdengarlah musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Yang dinyanyikan Ari & Reda. Petikan gitar dan suara merdunya memberi efek relaksasi dan kesejukan jiwa.
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Pak Wiratno menirukan lirih puisi ’’Hujan Bulan Juni’’. Sembari matanya terpejam penuh penjiwaan. Dirjen asal Tulungagung ini tampak sangat menikmati. Diikutinya lirik-lirik puisi itu hingga habis.
’’Maaf. Saya selingi tanda tangan berkas-berkas ini ya. Ditunggu soalnya,’’ Pak Wiratno minta izin kepada saya untuk membereskan pekerjaan.
Musikalisasi puisi yang dinyanyikan Ari & Reda terus mengalun. Usai puisi ’’Hujan Bulan Juni’’, lanjut puisi-puisi Sapardi yang lain.Pak Wiratno memang penyuka puisi-puisi Sapardi. Puisinya banyak menggunakan metafora alam. Hujan, matahari, kabut, tanah, angin, air, gunung, sungai, ladang, batu, burung, daun, ranting, bunga, dan api. Seperti di karya-karyanya berjudul ’’Kuhentikan Hujan’’, ’’Sajak Kecil Tentang Cinta’’, ’’Sajak Tafsir’’, dan ’’Taman Jepang, Honolulu’’.
’’Alam ini memang sumber inspirasi. Sekaligus banyak pelajaran,’’ kata pria kelahiran 28 Maret 1962 ini sembari beranjak dari tempat duduknya.
Pak Wiratno mengambil buku dan memberikannya kepada saya. Buku dengan sampul hitam berjudul ’’Wisata Intelektual’’. Buku ini ternyata catatan perjalanannya dari 2005 hingga 2020. Mencakup kepemimpinan dan manajerial, filosofi, pengelolaan kawasan konservasi, perhutanan sosial, serta inovasi dan gagasan baru. Di buku itu Pak Wiratno menuliskan pesan. ’’Menulis adalah bekerja untuk keabadian’’ (Pramoedya Ananta Toer).
’’Karena Anda wartawan, saya tuliskan kata-kata dari Pram ini. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,’’ kata Pak Wiratno.
Pesan Pram tampaknya juga menginspirasi Pak Wiratno. Sarjana kehutanan di UGM (1988) dan S2 di ITC Belanda (1993) ini sudah menulis banyak buku tentang konservasi alam. Di antaranya, ’’Berkaca di Cermin Retak: Refleksi Konservasi dan Implikasinya Bagi Pengelolaan Taman Nasional’’ (2002), ’’Nakhoda-Leadership Dalam Organisasi Konservasi (2005)’’, dan ’’Solusi Jalan Tengah-Esai-esai Konservasi Alam-Dit Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung’’.
Di awal buku ’’Wisata Intelektual’’, Pak Wiranto mengutip Alquran Surat Ar Rum: 41. Bunyinya: ’’Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)’’.
’’Alquran menggunakan diksi tangan-tangan manusia. Ini artinya ada kolaborasi jahat ingin merusak alam. Ada orang yang merusak alam karena kemiskinan, namun ada juga yang merusak alam karena kerakusan,’’ kata Pak Wiratno.
’’Kerakusan ini nggak ada habisnya. Namanya juga rakus. Padahal orang makan sepiring Nasi Rawon saja sudah kenyang,’’ kata Pak Wiratno.
Selain nilai-nilai moral dari teks suci, Pak Wiratno rupanya juga penganut filosofi jawa. Di antaranya ajaran ’’hasta brata’’. Sepuluh tahapan hidup dalam filosofi orang Jawa. Suatu filosofi hidup yang berhasil dijalani Ranggawarsita, pujangga terakhir Keraton Surakarta. Kesepuluh tahapan tersebut adalah maskumambang, mijil, sinom, kinanti, asmarandana, gambuh, dandang gula, durmo, pangkur, dan megatruh.
Sukses mengelola kawasan konservasi harus dicarikan ukurannya. Antara keseimbangan keberhasilan, menjaga nilai ekologi, dan lingkungannya dengan manfaatnya secara nyata bagi masyarakat di sekitarnya dan publik serta masyarakat dunia.
’’Yang utama, selain kepentingan ekonomi, adalah lahir dan tumbuhnya kesadaran individu, kelompok, dan komunitas masyarakat tentang pentingnya menjaga alam, memanfaatkan secara berhati-hati dan bijaksana, dan bersama-sama pemerintah melakukan aksi-aksi kolektif,’’ kata Pak Wiratno.
Hasilnya adalah bagaimana kita mau dan mampu berbagi ruang hidup dengan makhluk ciptaan Tuhan di hutan-hutan dan lautan itu. Diperlukan kedewasaan dan sikap hidup yang benar terhadap alam. Akhirnya mereka menyadari hanya bagian dari komponen alam, bukan penguasa alam.
’’Bagi saya konservasi alam bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah jalan hidup yang dipilihkan Tuhan kepada kita. Maka bersyukurlah dengan cara bekerja ikhlas, bekerja keras, dan bekerja cerdas dalam menjalaninya,’’ kata Pak Wiratno.
Setelah ngobrol panjang lebar, kami pun foto bersama. Di depan lukisan kayu Mahatma Gandhi. Pak Wiratno memang pengagum ajaran filsuf asal India itu. Terutama soal ajaran Ahimsa yang mengajarkan rasa cinta damai dengan tanpa kekerasan sebagai bentuk dari kebebasan positif.
Piring Nasi Rawon dibersihkan dari meja. Tak terasa sudah dua jam kami berbincang-bincang. Saya harus segera undur diri. Masih banyak tamu mengantre. (*)



Apa Pendapatmu?