Jelang Leg Kedua Liga Champions, Dybala Harus Lebih Cepat Alirkan Bola

indopos.co.id – Setelah kalah 0-1 dari Lyon di leg pertama 16 Besar Liga Champions, Maurizio Sarri sedikit frustrasi. Juventusnya ternyata tidak bisa mendistribusikan bola jauh lebih cepat di lini tengah. Pertahanan Juvenrus di tengah terlihat jorok, Umpan-umpannya kerap diintersep lawan.

Lyon sengaja membiarkan Juve bermain di sayap. Namun, begitu bola mau masuk ke kotak penalti, ramai-ramai Lyon melakukan pertahanan berlapis. Ibarat baja,  pertahanan mereka tidak bisa ditembus. Bola selalu kembali sebelum masuk ke kotak penalti.

Baca Juga :

Raja Eropa, Bayern Masih Ejek Neymar Pula

Alhasil, Cristiano Ronaldo terisolasi. Di saat sang superstar terlihat frustrasi, Lyon langsung memberikan pukulan. Sebuah gol Lucas Tousart sudah cukup membuat Lyon tersenyum. Duet Tousart dan Houssem Aouar menjadi salah satu kunci keberhasilan Lyon memenangkan pertandingan leg pertama itu.

Leg kedua sekarang sudah di depan mata. Tidak banyak yang berubah dalam organisasi bermain Juventus. Artinya, konsep permainannya tidak jauh berbeda dari leg pertama. Usai memastikan scudetto, cara bermain Juventus seperti kapal  selam rusak. Wajar saja mereka ditendang Cagliari dan diinjak AS Roma.  Ketika kalah, Juventus praktis bermain menjemukkan. Lini tengahnya seperti pemain kebesaran perut. Permutasi orangnya lamban. Umpan-umpannya juga kurang taktis karena kerap dipotong lawan.

Baca Juga :

Kalau Juve ingin menang dan lolos, kunci ada di tangan Paulo Dybala. Sarri harus memaksa pemain asal Argentina ini cepat mengalirkan bola di lini tengah. Bola tidak perlu dibawa sendiri kalau belum berada di kotak penalti. Kalau ini bisa dilakukan, Juventus akan menuai hasil positif.

Satu hal lagi, Sarri harus mendahulukan Aaron Ramsey tampil. Peran pemain asal Wales itu sangat tidak terlihat oleh mata orang awam.  Asal tahu saja, ketika Aaron Ramsey bermain dan menguasai lini tengah, proses ini lebih baik bagi Juventus., Sebab, gerakan lini tengah pemain Welshman ini terbukti menjengkelkan bagi lawan.

Rodrigo Bentancur telah menjadi salah satu sosok sukses musim 2019-20. Ia telah belajar seni memegang bola sendiri di lini tengah. Ia melindungi bola dengan sangat baik. Ia juga tak jarang sangat bagus dalam merebut bola.

Pemain Uruguay itu belakangan sangat efektif memainkan perannya. Ia hanya butuh satu sosok lagi yang kuat dalam bertahan. Dengan begitu, dia akan berperan sebagai jangkat untuk mematahkan sekaligus mengawali serangan kilat. Adrien Rabiot juga kian membaik dari waktu ke waktu.

Pasukan Rudi Garcia tampak mengancam saat jeda kalah dalam adu penalti baru-baru ini dari Paris Saint-Germain di Coupe de la Ligue. Mereka memang mencoba bermain dari belakang, tetapi tidak bisa selalu melakukannya dengan efisien.

Itu adalah pertandingan kompetitif pertama mereka dalam empat bulan dan trio Aouar, Moussa Dembele,  dan Memphis Depay memang mengancam lewat serangan balik. Sayang, mereka tidak bisa mengonversinya menjadi gol. Itu adalah tanda-tanda bahwa pihak Prancis akan mengandalkan transisi menyerang cepat setiap kali mereka memenangkan bola kembali. Ini bisa berarti bahwa Juve akan banyak menguasai bola, terutama saat mereka bermain di Turin.

Di depan, Juventus punya seorang Cristiano Ronaldo. Superstar asal Portugal ini punya habitat di turnamen antarklub paling elit di Eropa ini. Dia bisa mengubah pertandingan secara individual. Tak satu pun pemain di kolong langit ini yang mampu menyaingi seorang CR7 di Liga Champions. Tidak juga Messi.

Dia melakukan itu melawan Atletico Madrid musim lalu. Juventus berharap superbintang kelahiran Madeira, Portugal Selatan ini bisa memainkan perannya pada Sabtu (8/8) nanti.  Semoga Rabiot, Bentancur, Ramsey, dan Dybala bisa mengamankan lini tengah dan membantu Ronaldo mencetak gol di pertandingan penting Champions League lainnya. *

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.