Alexa Metrics

Puluhan Sejoli di Aceh Urungkan Pernikahan

Puluhan Sejoli di Aceh Urungkan Pernikahan Ilustrasi pernikahan Adat Aceh.

indopos.co.idPandemi Coronavirus Disease (Covid19) mengubah tatanan sosial. Masyarakat dipaksa berperilaku dengan gaya hidup model baru. Pola interaksi yang belum pernah terlintas di benak

Pormulasi praktik hidup model anyar itu berpangkal pada disiplin. Ya, wajib bermasker, mencuci tangan dengan air mengalir, memakai hand sanitizer, menjaga jarak sosial (social distancing), dan physical distancing (jarak pisik).

Selain itu, pandemi juga berdampak lebih luas. Secara ekonomi memburuk. Baik itu pada level makro dan mikro. Secara makro, sejumlah negara maju masuk jurang resesi. Mengalami pertumbuhan negatif enam bulan. Selanjutnya, kalau tanpa kendali masuk tahap depresi.   

Untuk level mikro, sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ramairamai menjerit. Di level UMKM ini, masyarakat kelas jelata menggantungkan nasib. Tidak heran kalau kemudian, kaum cilik menjerit di tengah Pandemi Covid19

Nah, saat ekonomi terpuruk, justru harga emas melambung. Sekilas tidak ada korelasi lonjakan harga emas dengan kehidupan orangorang kelas menengah bawah. Bahkan, mungkin sebagian orang kecil tidak peduli dengan meroketnya harga mas di pasaran. Namun, tidak demikian dengan warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). 

Kepingan emas terutama bagi kalangan mudamudi sangat krusial. Apalagi, bagi sejoli yang akan menuju pelaminan. Akad pernikahan dijamin tidak berkumandang tanpa kehadiran emas sebagai mahar.   

Di beberapa daerah di Aceh, harga mahar dibebankan kepada calon mempelai lakilaki biasanya paling rendah sekitar 10 mayam emas atau sekitar 30 gram atau jika dirupiahkan Rp30 juta.

pernikawanBahkan di daerah lain di Aceh, mahar dibebankan kepada calon mempelai lakilaki mencapai 30 mayam atau sekitar 90 gram emas murni dengan biaya sekitar Rp90 juta, dan mahar tersebut belum termasuk dalam kebutuhan lain. Misalnya, pesta hari pernikahan, seserahan, dan kebutuhan lain.    

Sekadar diketahui, saat ini, harga jual perhiasan emas di Aceh sudah menyentuh Rp3 juta per mayam (3 gram) atau di kisaran harga Rp2,85 juta per mayam. Kendisi itu, jelas berefek terhadap ekonomi masyarakat, selanjutnya berdampak terhadap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.

Tidak salah kalau kemudian hajatan pernikahan kandas di tengah jalan. Gagal dipentaskan tersebab keuarga sang mempelai pria tidak mampu menghadirkan sebongkah emas  sebagai maskawin.     

Merespons kondisi itu, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat, mengimbau masyarakat Aceh yang akan melangsungkan pernikahan putera puterinya di tengah Pandemi Covid19, tidak membebani calon pengantin dengan mahar tinggi.

Pasalnya, dampak melangitnya mahar menjadi beban calon mempelai lakilaki, menyebabkan pasangan mudamudi mengurungkan hari pernikan. Sejumlah pasangan pada beberapa daerah di Aceh mengundurkan rencana pernikahan.

Karena harga emas melambung, tentu berefek pada rencana pernikahan masyarakat Aceh. Karena di Aceh ada tradisi lebih mahal mahar maka lebih bangga,tutur Ketua MPU Kabupaten Aceh Barat Teungku Abdurrani Adian, di Meulaboh.

Padahal, sebut Teungku Abdurrani, Rasulullah Baginda Nabi Muhammad SAW sudah menjelaskan mahar terbaik sebuah pernikahan tentu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Sesuai imbauan baginda Nabi Muhammad SAW, menikah itu sunnah nabi. Seperti riwayat hadist shahihMenikah itu sunnahku, barang siapa tidak senang sunnahku, bukan bagian dari golonganku (ummat),beber Teungku Abdurrani menyitir hadis shahih.

Lonjakan harga emas itu berdampak negatif bagi masyarakat yang berhajat melangsungkan pernihakan. Ganjalan itu, calon mempelai lakilaki belum mampu memenuhi kewajiban mencukupi mahar sebagaimana ditentukan pasangan calon pempelai wanita.

Kami imbau adikadik perempuan, tolong mahar jangan terlalu tinggi, dan jangan terlalu rendah. Jangan menghambat sunnah Rasulullah SAW. Kalau mahar tidak terlalu tinggi pernikahan tetap sah. Karena mahar termasuk rukun nikah,tukas Teungku Abdurrani. (ant)



Apa Pendapatmu?