Alexa Metrics

Berperan Bentuk Karakter Bangsa, Pemerintah Dorong Padepokan Tingkatkan Kualitas

Berperan Bentuk Karakter Bangsa, Pemerintah Dorong Padepokan Tingkatkan Kualitas Mantan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Tinia Budiarti, Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Judi Wahjudin dan Pimpinan Padepokan Sangkuraga Kang Muh (kiri ke kanan), saat dialog dengan tema “Menumbuhkan Peran Padepokan Pembentukan Karakter di Indonesia,” yang digelar di Padepokan Sangkuraga, di Desa Sukaraja, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020).

indopos.co.id – Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Judi Wahjudin mengatakan, padepokan merupakan lembaga pendidikan non-formal, yang ikut berperan dalam pembentukan karakter bangsa. Dia berharap pengelola padepokan terus meningkatkan kualitasnya.

Hal tersebut diungkapkannya saat dialog, “Menumbuhkan Peran Padepokan Pembentukan Karakter di Indonesia,” yang digelar di Padepokan Sangkuraga di Desa Sukaraja, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020).

“Padepokan, lembaga non formal di masyarakat yang bersifat positif. Ada sifatnya beladiri, olahraga, pengobatan dan sebagainya. Tapi ada juga olah rasa. Siswa ditempa, sabar dan toleransi. Ada juga olah pikir. Namun harus juga ada ketrampilan. Jadi output dari padepokan itu jadi agen perubahan,” ujarnya.

Lebih lanjut Judi (baca: Yudi) mengatakan, padepokan itu memang terminologi yang sudah umum. Tapi di sisi lain ada namanya Mandala, terkait bela diri, penempaan mental, edukasi. “Kemudian padepokan sudah tidak lagi eksklusif. Tapi inklusif. Tidak ditakuti. Tapi disegani, karena ilmunya,” jelasnya.

Lebih lanjut Judi mengatakan, pemeriksaan melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan, Kemendikbud saat ini sedang mencermati padepokan. Karena padepokan banyak sekali dan temanya juga beragam. “Saat ini sudah ada Undang-Undang nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” jelasnya.

Yang membahas tentang tradisi lisan (petata petitih), melalui gerak, seni rupa. Ada juga yang sifatnya manuskrif. Ada juga adat istiadat, pengobatan, herbal navigasi jaman dulu, teknologi perkapalan, permainan tradisional olahraga tradisional dan sebagainya.

“Kalau kita amati itu banyak diimplementasikan dipadepokan. Bagaimana peran pemerintah. Yakni terkait penguatan mutu dan kualitas. Pemerintah mendampingi lembaga-lembaga tersebut baik formal maupun non-formal,” jelas Judi.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan, kegiatan kebudayaan ada di 60 Kementerian dan Lembaga (K/L). Karena itu jangan heran kalau ada K/L menggelar acara kebudayaan.

“Adapun untuk jumlah padepokan, belum ada data yang fix. Kemudian padepokan, di Ditjen Kebudayaan lebih kepada beladiri dan pengobatan,” jelasnya.

Menurut Judi, pihak lembaga terkait pembinaan pelaku dan kebudayaan baru berdiri Januari. Namun sudah jauh-jauh hari sebenarnya terminologi padepokan muncul dan sudah sinergi dengan pihak Direktorat Kebudayaan, tetapi dalam lingkup padepokan seni dan kebudayaan.

“Sementara terkait dengan olahraga, pengobatan dan lainnya masih dalam penjajakan awal. Karena terminologi padepokan harus kita sepakati lingkupnya seperti apa. Karena di kemenkes ada salah satu direktorat, yakni direktorat pelayanan kesehatan tradisional,” jelasnya.

Direktorat tersebut mengakomodasi, memfasilitasi dan mengadvokasi masyarakat, atau lembaga-lembaga yang terkait dengan pengobatan tradisional.

Lebih lanjut Judi mengatakan, terkait padepokan pihaknya masih mengeksplorasi mengenai padepokan karena sangat beragam. “Karena ada juga yang menyalahgunakan terminologi padepokan untuk hal-hal yang sifatnya kurang positif,” pungkasnya.

Sementara itu, Padepokan Sangkuraga yang terletak di Desa Sukaraja, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat yang didirikan oleh Saepul Milah. Sang guru yang akrab disapa Kang Muh ini sudah sejak usia belia menjadi murid di salah satu padepokan. Setelah sarat ilmu, dia pun berinisiatif mendirikan padepokannya sendiri.

“Tidak semua padepokan yang ada di Nusantara mengajarkan materi pendidikan maupun pelatihan bela diri dengan baik. Banyak padepokan yang mengajarkan hanya materi dasarnya saja, sehingga ketika anak didik keluar dari padepokan, ilmunya tidak bisa terpakai,” katanya.

Hal ini pula yang menurutnya mendorongnya mendirikan padepokan. Untuk berbagi ilmu yang selama diperolehnya.

Padepokan Sangkuraga mengajarkan seni bela diri (Silat) yang akurat. Beladiri yangdiajarkan merupakan gabungan dari silat Cimande, Menpo Cikalong, Singo Demak, Silektuo Sumatra, Karateka, Boxer, Kung Fu, Taekwondo, Muang Thai dan Tinju. Seni bela diri yang di terapkan di padepokan adalah seni bela diri yang selama ini Kang Muh pelajari dari sejak umur 19 tahun.

Padepokan Sangkuraga memberikan pola latihan dua versi, yaitu materi pelatihan yang berbeda dengan silat lainnya. Pencak silat ini sangat agresif, sangat cocok untuk di lapangan.

“Kami menyediakan dua versi, untuk di arena dan di luar arena di lapangan. Bagi yang ingin belajar silahkan datang langsung mulai dari SD, SMP, SMA, mahasiswa, dewasa, tua ataupun muda. Kami siap untuk berbagi ilmu yang kami punya,” ujarnya.

Menurut Kang Muh, selama ini banyak yang berpendapat jika padepokan lebih banyak mengajarkan ilm beladiri ketimbang ilmu pendidikan lainnya. Pendapatnya tersebut menurutnya salah karena padepokan juga mengajarkan ilmu dan pengetahuan-pengetahuan lain yang menjadi bekal bagi murid-muridnya.

Di padepokan tersebut juga sering diadakan dzikir. Serta banyak didatangi warga untuk berobat. Seperti pengobatan dengan ruqyah.

Sementara itu, mantan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Tinia Budiarti memiliki pandangan lain tentang padepokan. Menurut perempuan yang kini menjadi salah satu penasehat di Padepokan Sangkuraga tersebut, Padepokan merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya Asrama dan Sekolah yang menjadi satu untuk kegiatan belajar dan mengajar berbagai macam ilmu.

Padepokan lebih terkenal tempat belajar dan tempat penggemblengan juga tempat tinggal para pendekar utamanya dalam dunia persilatan. Pada mulanya kata Padepokan adalah tempat tinggal para Pujangga dalam masyarakat Jawa.

Namun seiring perjalanan waktu karena Pujangga juga menguasai Ilmu Kanuragan dan Kebatinan maka sebagian besar masyarakat Jawa beranggapan Padepokan merupakan tempat penggemblengan Para Pendekar.

“Makna sebenarnya Padepokan adalah Tempat Tinggal orang yang punya kelebihan dalam olah batin maupun ilmu Kanuragan dan juga keahlian lain yang berhubungan dengan masyarakat banyak,” jelasnya.

Dahulu para Raja maupun pembesar Kerajaan yang telah mengundurkan diri dari hiruk pikuk politik kerajaan mengasingkan diri ke tempat sepi dan mendirikan sebuah pondok yang lambat laun karena banyak yang ingin belajar.

“Maka tempat tersebut terkenal dengan nama Padepokan. Dari sinilah lahir pendekar-pendekar Besar pada jaman dahulu dan juga orang-orang yang duduk dalam Pemerintahan Kerajaan,” pungkasnya.(dai)



Apa Pendapatmu?