Alexa Metrics

ALFI Usul Perlu Adanya Revisi Aturan Dagang Antar Pulau

ALFI Usul Perlu Adanya Revisi Aturan Dagang Antar Pulau Kegiatan di Pelabuhan Panjang, Lampung.

indopos.co.id – Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Provinsi Lampung Zamzani Yasin menegaskan, Peraturan Menteri Perdagangan No. 29/2017 tentang Perdagangan Antar Pulau perlu direvisi. Serta disesuaikan dengan kesepakatan AFAMT (ASEAN Framework Agreement on Multimoda Transport).

“Sehingga angkutan multimoda dapat diterapkan dan perdagangan antar pulau (domestik) mudah diintergrasikan dengan perdagangan internasional (ekspor dan impor),” ujarnya, dalam keterangannya, Jumat (7/8/2020).

Menurut Zamzani, di Pelabuhan Panjang, Lampung, sejak Maret 2019 sudah disinggahi kapal berbobot 4.000 TEUs. Dengan rute Panjang-Tanjung Priok-Intra Asia. Kapal curah sebesar 50 ribu ton dan juga kapal yang membawa sapi sebanyak 13 ribu ekor.

“Ini membuktikan bahwa Pelabuhan di Provinsi Lampung ini berpotensi menjadi pusat alih muatan (transshipment) dari pelabuhan di sekitarnya,” katanya.

Namun lanjut Zamzani, sistem dokumentasi barangnya masih belum terintegrasi sebagaimana best practice di negara-negara ASEAN. Terutama barang-barang komoditas antar pulau yang akan dieskpor. Akibatnya, perusahaan logistik membuat kembali dokumennya, sehingga memerlukan waktu dan biaya.

“Untuk itu, Permendag No.29/2017 tidak perlu mengatur manifest domestik. Kalau manifest kan hanya daftar muatan. Idealnya yang diatur adalah dokumen angkutan perdagangan antar pulaunya, agar sistem angkutan multimoda di daerah-daerah dapat diterapkan,” jelas Zamzani.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Kepelabuhanan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ALFI, Harry Sutanto menambahkan, dengan adanya dokumen angkutan barang (DAB) komoditi antar pulau memungkinkan diterapkannya sistem angkutan multimoda yang menggunakan satu kontrak dan satu dokumen pengiriman.

“Perdagangan antar pulau minimum menggunakan dua sarana angkutan barang. Yaitu angkutan darat-laut atau darat-udara,” jelasnya, saat dihubungi terpisah.

Menurut Harry, perdagangan antar pulau akan lebih efisien dan efektif bila menggunakan DAB. Karena DAB bisa menjadi instrumen pencairan Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Atau dengan istilah kerennya Letter of Credit (L/C) Lokal di lembaga perbankan nasional.

Lebih lanjut Harry mengatakan, DAB adalah bagian yang tak terpisahkan dengan pelaksanaan sistem angkutan multimoda sesuai kesepakatan AFAMT (ASEAN Framework Agreement on Multimoda Transport).

Sesuai dengan AFAMT, lanjut Harry, operator angkutan multimoda harus didaftar oleh badan otoritas nasional untuk diteruskan AFFA (ASEAN Federation of Forwarders Association) dan ke Sekretariat ASEAN.

“Sedikitnya 291 perusahaan JPT (Jasa Pengurusan Transportasi) di DKI Jakarta telah terdaftar di AFFA maupun Sekretariat ASEAN. Jumlah perusahaan yang didaftarkan akan terus bertambah, terutama dari luar Jakarta,” ujarnya.

Harry menambahkan bila sistem perdagangan dalam negeri bisa menggunakan sistem tersebut lalu lintas semua komoditas perdagangan di dalam negeri akan dapat tercatat dengan baik.

“Data perdagangan antar pulau ini sudah pasti akan bermanfaat bagi pemerintah untuk membuat kebijakan yang akurat,” katanya.

Terlebih lagi dalam suasana Pandemi COVID-19 seperti saat ini, kata Harry lagi, penerapan SKBDN dalam perdagangan dalam negeri akan membantu para UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

“Pihak perbankan pun diuntungkan, karena kredit yang disalurkan sudah jelas transaksinya. Dampak selanjutnya perdagangan dalam negeri makin bergairah,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPW ALFI Provinsi Sumatera Utara Surianto mencontohkan pengiriman jagung dari sentra produksi jagung di Karo dan Simalungun ke Pulau Jawa tidak dilaksanakan menggunakan sarana terpadu (angkutan darat-laut). Padahal kata dia, dengan menggunakan sistem angkutan terpadu (darat-laut-darat) biaya pengirimannya bisa lebih murah.

“Maka dari itu, ALFI Sumatera Utara sangat mendukung bila Permendag No. 29/2017 tentang Perdagangan Antar Pulau direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan sistem angkutan, agar perdagangan antar pulau dapat tumbuh lebih baik,” pungkasnya.(mdo)



Apa Pendapatmu?