Alexa Metrics

Titik Nol Beirut, Kehancuran di Jantung Kota yang Sekarat

Titik Nol Beirut, Kehancuran di Jantung Kota yang Sekarat Gumpalan biji-bijian yang rusak di pelabuhan Beirut dan sekitarnya pada 5 Agustus 2020. (Foto: STR/AFP)

indopos.co.id – Dulu. Di sini. Pelabuhan Beirut yang gagah tampak membentang. Tapi itu dulu. Kini. Di sebelah kiri pelabuhan, gedung-gedung pencakar langit yang perkasa itu rusak. Membungkuk dalam kekalahan. Baja bengkok teronggok. Melebur dalam butiran puing-puing reruntuhan.

Jalan raya kosong. Hanya dipenuhi mobil-mobil rusak dan kabut panas. Penghalang lalu lintas tampak tertutup dengan jejak tangan berdarah. Dari mereka yang entah bagaimana selamat dari ledakan dahsyat dan terhuyung setelah bencana apokaliptik itu.

Titik nol ledakan yang menghancurkan sebagian besar ibu kota Lebanon sebelumnya adalah kumpulan gudang, restoran, dan toko. Yang seharusnya masih berfungsi baik. Namun kenyataannya sangat berbeda.

Sebagian Beirut timur tidak lagi bisa dihuni. Hal yang diam-diam diakui segelintir penduduk dan pemilik toko yang bisnisnya telah hancur.

’’Aku tidak tahu bagaimana kita akan melewati ini,’’ kata Issam Nassir, manajer toko ban yang berada di gedung yang sudah hancur. ’’Apa menurutmu Hiroshima bisa lebih buruk dari ini?’’ serunya parau.

Di seberang jalan, toko yang menjual peti mati juga ikut mati. Beberapa berbaring miring. Yang lain hancur lebur. Bahkan bisnis dengan permintaan tinggi tidak lagi dapat dibuka kembali.

Sepanjang pagi hari. Gedung-gedung di sekitar distrik Gemmayze, pusat kafe, pub, dan restoran diidentifikasi sebagai lokasi terdampak paling parah. Bangunan-bangunan ini menjadi saksi bisu masa-masa sulit pascaperang Beirut yang pasang surut.

’’Enam orang tua duduk di kursi mereka di sana,’’ kata Malik, seorang pekerja migran Irak dari Mosul. ’’Aku bersumpah kematian mengikutiku ke manapun aku pergi,’’ ujarnya.

Seperti hampir semua restoran lain. Le Chef, salah satu restoran murah terakhir di Beirut timur, rusak berat. Pemiliknya, Charbel Bassil, yang telah bekerja selama hampir 40 tahun, terlempar ke lemari es dan sekarang tengah memulihkan diri di rumah.

Pengunjung terluka di restoran itu pertama-tama dibawa ke rumah sakit St George terdekat. Yang berada di atas bukit dari pelabuhan. Rumah sakit juga telah menanggung beban tereberat akibat ledakan. Petugas medis pun tampak tidak jauh lebih baik. Petugas medis senior pada akhirnya mencapai kesimpulan untuk tidak lagi menerima orang.

’’Aku tidak bisa lagi merawat orang,’’ kata seorang dokter yang tidak mau disebutkan namanya. ’’Kami tidak memiliki kekuatan. Beberapa rekanku terjebak. Dan masih ada potongan-potongan yang jatuh dari langit-langit hari ini,’’ jelasnya.

’’Sebagian besar pasien perawatan intensif kami meninggal. Mereka ada di sana sebelum ini terjadi, dan mereka harus dimasukkan dalam jumlah korban tewas. Kematian mereka akan menghantuiku untuk waktu lama,’’ kisahnya.

Di Rumah Sakit Dieu yang berlokasi tak jauh dari pusat ledakan, Dr Fady Haddad, seorang profesor penyakit dalam dan imunologi, terdaftar sebagai spesialis trauma. Dia memiliki banyak pasien dengan limpa pecah dan luka ledakan parah. Tidak kurang dari 400. Ini kasus yang parah.

’’Kami kewalahan. Kami tidak dapat menemukan beberapa bahan. Kami perlu menugaskan dokter jaga dan mahasiswa. Kami juga harus merawat banyak rekan. Dan kita semua mengenal orang-orang di keluarga kita atau di antara teman-teman kita yang menderita,’’ seru Haddad.

Dr Fady Haddad dulu berada di Palang Merah. Dia melihat banyak hal seperti ini. Namun tidak ada yang sebesar ini. Di ruang gawat darurat untuk pertama kalinya, dia tidak dapat menangani semua korban.

’’Kami harus membuka setidaknya 60 kamar di lantai lain untuk menerima pasien gawat darurat. Kami memiliki 10 ruang operasi yang terbuka secara bersamaan dan ahli bedah beroperasi sepanjang malam sampai pukul 8 pagi. Aku kehilangan dua temanku,’’ akunya.

Kemarahan pada pemerintah Lebanon dan ketidakpercayaan pada apa yang mungkin terjadi selanjutnya telah menghantui para petugas medis di Beirut. Di sebuah negara yang telah porak-poranda oleh ledakan ekonomi. Sebagian besar disebabkan korupsi tak terkendali selama puluhan tahun. Seruan para politisi untuk bantuan internasional disambut dengan skeptisisme atau keragu-raguan tinggi.

’’Jika ada negara yang ingin membantu kami, tolong bantu institusi yang dapat Anda percayai,’’ ujar Haddad. ’’Tidak melalui pemerintah,’’ tambahnya.

Kisah lain datang dari sepasang calon pengantin yang tengah berfoto sebelum hari pernikahannya. Namanya Israa Sablani. Dia tampak berseri dalam gaun putih panjang dan kerudung sambil berpose untuk video pernikahan.

Tetapi pemandangan tersebut dihancurkan oleh suara ledakan dahsyat yang memekakkan telinga. Rekaman dramatis itu menangkap momen ketika ledakan besar mengguncang ibu kota Lebanon Selasa lalu. Yang menewaskan setidaknya 135 orang dan melukai lebih dari 5.000 orang lainnya.

Sablani adalah seorang dokter yang bekerja di Amerika Serikat dan tiba di kota itu tiga minggu lalu untuk mempersiapkan pernikahan. Dia sempat membantu korban terluka di dekatnya sebelum melarikan diri dari alun-alun Saifi di pusat Beirut.

’’Aku telah mempersiapkan hari besarku selama dua minggu dan aku bahagia seperti gadis-gadis lain. Orang tuaku akan senang melihatku menggunakan gaun putih. Aku akan terlihat seperti putri,’’ kisah Sablani.

’’Apa yang terjadi selama ledakan di sini. Tidak ada kalimat yang bisa menjelaskannya. Aku sangat terkejut. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi. Apakah aku akan mati? Bagaimana aku akan mati?’’ serunya.

Calon suami Sablani, Ahmad Subeih, seorang pengusaha di Beirut mengingat ketika dia memasuki hotel yang rusak karena ledakan. ’’Kami mulai berjalan dengan sangat menyedihkan. Ini tidak bisa dijelaskan. Kehancuran dan suara ledakan,’’ katanya.

’’Pemandangan di ruangan itu luar biasa. Ada banyak kerusakan, banyak orang tewas dan terluka. Tetapi aku juga melihat bagaimana kami bisa lolos tanpa cedera. Aku bersyukur pada Tuhan karena telah melindungi kami,’’ ungkap Subeih.

Pagi hangat berganti dengan siang hari yang panas. Perhatian beralih pada apa yang menyebabkan ledakan. Juga soal adakah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Sekitar 2.750 ton amonium nitrat kimia yang disimpan di beberapa gudang setelah diturunkan dari kapal barang Rusia yang reyot enam tahun lalu, diidentifikasi oleh pihak berwenang sebagai sumber ledakan. Perdebatan kemudian meningkat tentang mengapa kompleks seperti itu diizinkan untuk tetap berada di dekat jantung ibu kota dan siapa yang menguasainya.

Pejabat Lebanon menjanjikan fase investigasi selama lima hari. Setiap pejabat terkait dengan keputusan tersebut akan ditempatkan di bawah tahanan rumah. Kemudian mungkin dituntut.

Mantan pekerja pelabuhan Yusuf Shehadi mengatakan pada Guardian bahwa militer Lebanon telah menyuruhnya dan pekerja pelabuhan lainnya untuk menyimpan bahan kimia. Padahal, hal itu sudah berkali-kali diprotes oleh departemen pemerintah.

Selama bertahun-tahun mengeluhkan ini. Setiap minggu, petugas bea cukai datang dan mengeluh. Begitu pula petugas keamanan negara. Tentara terus memberi tahu mereka bahwa mereka tidak punya tempat lain untuk meletakkan ini. Semua orang ingin menjadi bos dan tidak ada yang mau membuat keputusan nyata. Ada banyak perdebatan tentang hal ini. ’’Semua permintaan resmi yang kami terima ditempatkan di laci. Tidak ada yang pernah bertindak,’’ ungkapnya.

Gubernur Beirut mengatakan 300.000 orang telah meninggalkan kota itu ke wilayah lain di Lebanon. Banyak yang tidak dapat kembali ke rumah yang hancur. Tumpukan besar jendela dan pintu pecah berdiri di sisi jalan, sementara potongan berukuran kerikil menutupi tanah seperti salju. Di penghujung hari, mobil-mobil melewati jalur lambat melalui jalan-jalan macet yang telah mengubah kaca menjadi bubuk. Sebagian kota Beirut tampak seperti badai salju musim panas yang datang dan pergi. Itu tidak berlangsung lama.

Pekerja sipil dan tim komunitas dengan sekop dan ember sibuk sepanjang hari. Mereka mengubah reruntuhan menjadi bangunan yang tampak lebih dapat dikelola jika uang datang untuk membuat segala sesuatunya berfungsi kembali. Air dibagikan kepada siapa saja yang menginginkannya di Gemmayze dan Mar Mikhael yang berdekatan.

Penguncian Virus Corona juga tampak memberikan berkah tersendiri bagi pemilik kafe Ahliay di Gemmayze, Niamh Fleming Farrel. ’’Kami tutup,’’ ujarnya. ’’Itu adalah berkah tersembunyi. Aku tidak akan sanggup kehilangan orang. Setidaknya kami hanya perlu melakukan pembersihan,’’ jelas Farrel. (fay)



Apa Pendapatmu?