Menunggu Rencana Investasi Raksasa Lembaga Keuangan AS IDFC ke Indonesia

Siap Gelontorkan USD60 Miliar

indopos.co.id – Sempat tertunda karena pandemi Covid-19, akhirnya rencana rencana lembaga keuangan Amerika Serikat, International Development Finance Corporation (IDFC), untuk berinvestasi kembali ditindak lanjuti. Ini ditandai dengan surat yang dikirimkan CEO IDFC, Adam Boehler, kepada Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada 31 Juli 2020 lalu.

Dijelaskan juru bicara Kemenko Marves Jodi Mahardi, dalam surat tersebut Adam Boehler menyampaikan bahwa saat ini IDFC sedang melakukan koordinasi dengan National Security Council (NSC) atau Dewan Keamanan Nasional AS.

”Jadi Pak Luhut sangat mengapresiasi sambutan positif AS melalui IDFC, serta keinginan mereka untuk menjadi mitra yang berharga bagi Indonesia. Sesuai permintaan mereka, pemerintah akan memberikan pedoman lebih lanjut untuk kerja sama di beberapa sektor,” kata Jodi di Jakarta, Kamis (6/8).

Ia menambahkan, komitmen kerja sama tersebut akan difokuskan dalam pengembangan di bidang farmasi, pertahanan dan keamanan, energi, serta untuk Sovereign Wealth Fund (SWF) yang akan menjadi wadah pendanaan baru untuk proyek di Indonesia.

Baca Juga :

Eksistensi Pelayaran Rakyat Semakin Marjinal

IDFC sendiri merupakan badan independen  bentukan pemerintah AS yang menyediakan pembiayaan untuk proyek-proyek swasta AS. IDFC baru secara resmi beroperasi pada Desember 2008. IDFC diberi mandat untuk menggunakan sumber daya pemerintah AS untuk mendorong lebih banyak minat dan daya tarik sektor swasta, termasuk memfasilitasi pembangunan yang berkelanjutan di wilayah Indonesia. IDFC juga bekerja sama dengan institusi keuangan serupa dari Australia dan Jepang untuk mencapai tujuan tersebut.

Luhut pernah menyampaikan bahwa pemerintah AS berkeinginan untuk merelokasi industri farmasinya ke Indonesia. Selain itu, dalam rencana kerja sama di sektor pertahanan dan keamanan, IDFC tertarik untuk berinvestasi di wilayah Natuna, yang juga akan membantu penegakan kedaulatan dan peningkatan keamanan negara.

IDFC juga menjajaki peluang investasi di bidang energi, yang potensinya di Indonesia dari hulu ke hilir sangat besar.

Pengelolaan dana abadi atau Sovereign Wealth Fund yang digagas pemerintah juga menarik minat IDFC yang akan mengucurkan investasinya, untuk membantu pengembangan infrastruktur di Indonesia. SWF sendiri adalah dana kekayaan sebuah negara yang berupa dana investasi negara dalam aset riil dan keuangan, seperti saham, obligasi, real estat, logam mulia, atau dalam investasi alternatif.

Rencana kerja sama IDFC – RI ini bermula tatkala pada Jumat (10/1) lalu Presiden Jokowi bertemu Adam Boehler di Istana Negara. Dalam pertemuan itu, Jokowi mengatakan kalau pemerintah membutuhkan investasi untuk pembangunan Indonesia dari lembaga keuangan asal AS itu. Pertemuan Jokowi-Adam langsung disusul pembicaraan Luhut dengan Adam di hari yang sama.

Kepada wartawan, Adam mengatakan kehadiran IDFC di Indonesia untuk menunjang komitmen negaranya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, salah satunya mengenai infrastruktur.

Menurut Adam, pihaknya menawarkan kerja sama investasi dengan nilai investasi sebesar USD 60 miliar atau sekitar Rp 870 triliun. ”Pasti semua tertarik angkanya berapa kan? Saya tekankan ini multi billion. Dalam beberapa bulan ke depan saya akan kembali ke sini untuk memastikan berapa tepatnya (jumlah) investasi kami. Tapi yang pasti jumlahnya multi billion,” pungkas Adam.

Selanjutnya, pertengahan Februari 2020, atau satu bulan setelah Adam ke Jakarta. Luhut terbang ke AS untuk menemui Presiden Bank Dunia David Malpass, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dan Penasehat Gedung Putih Jared Kushner untuk mematangkan rencana investasi AS itu. (ind)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.