Alexa Metrics

Survei BPS Banten Triwulan II-2020, Demokrasi Anjlok dan Ekonomi Merosot

Survei BPS Banten Triwulan II-2020, Demokrasi Anjlok dan Ekonomi Merosot

indopos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mengungkapkan angka perkembangan demokrasi tahun 2019 yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya di Provinsi Banten. Begitu juga perekonomian di Banten pada triwulan II-2020 mengalami perlambatan.

Kepala BPS Banten Adhi Wiriana mengatakan IDI (Indeks Demokrasi Indonesia) Banten tahun 2019 mencapai angka 72,60 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan dengan angka IDI Banten tahun 2018 yang mencapai 73,78.

”Capaian kinerja demokrasi Banten itu berada pada kategori sedang,” katanya kepada INDOPOS, Kamis (6/8). Kata Adhi juga, perubahan angka IDI dari 2018-2019 dipengaruhi dua aspek demokrasi yaitu kebebasan sipil yang mengalami penurunan 2,76 poin dan lembaga-lembaga demokrasi yang juga turun sampai 1,38 poin.

Berbanding terbalik, hak-hak politik warga mengalami kenaikan sampai 0,18 poin. ”Kebebasan sipil turun dari 86,59 menjadi 83,83. Begitu juga lembaga-lembaga demokrasi dari 79,40 turun menjadi 78,01, sementara hak-hak politik naik beberapa poin dari 60,11 menjadi 60,29,” ujarnya juga.

Sementara itu, Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Banten Tuty Amalia mengatakan, capaian angka demkokrasi di Banten dari tahun 2009 sampai dengan 2019 mengalami fluktuatif.

”Pada awal mula dihitung tahun 2009, capaian IDI Banten sebesar 67,98. Angka ini terus mengalami perubahan hingga mencapai momen tertingginya pada tahun 2014 lalu, sebesar 75,50, walaupun kemudian turun drastis ke angka 68,46 di tahun 2015,” terangnya.

Lalu, katanya juga, angka itu meningkat kembali pada tahun 2018 sebesar 73,78, kemudian kembali turun pada tahun 2019 menjadi 72,60. Lanjut Tuty, fluktuasi angka IDI itu merupakan cerminan situasi dinamika demokrasi di Banten.

”IDI sebagai sebuah alat ukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia, memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi. IDI disusun secara cermat berdasarkan kejadian (evidence-based) sehingga potret yang dihasilkan merupakan refleksi realitas yang terjadi,” ujarnya juga.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Banten di triwulan II 2020 mengalami terkontraksi atau perlambatan mencapai 7,40 persen dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumya. Sedangkan, untuk triwulan II dibandingkan dengan triwulan III pada tahun 2020 juga mengalami perlambatan 8,55 persen.

”Perekonomian Banten berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp146,72 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp104,66 triliun,” terang Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Banten Budi Prawoto.

Budi juga juga mengatakan pertumbuhan negatif pada triwulan II 2020 dibandingkan tahun 2018 didorong hampir semua lapangan usaha.  ”Dengan pertumbuhan terendah dicapai lapangan usaha transportasi dan pergudangan minus 47,00 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan negatif terdalam terjadi pada komponen pengeluaran total net ekspor yang terkontraksi 49,12 persen,” ujarnya juga.

Lanjut Budi, ekonomi Banten triwulan II-2020 dibandingkan dengan triwulan I terkontraksi 8,55 persen. Hal itu terjadi karena pertumbuhan terendah pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang minus 43,94 persen.  ”Sementara dari sisi pengeluaran penurunan terdalam pada komponen pengeluaran total net ekspor yang terkontraksi 54,03 persen,” ungkapnya.

Budi juga mengatakan pada triwulan I 2020 pertumbuhan ekonomi Bangen juga terkontraksi 2,15 persen. Saat itu, pertumbuhan terendah pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan minus 25,54 persen.

”Dari sisi pengeluaran, terutama disebabkan oleh komponen pengeluaran total net ekspor yang terkontraksi 25,37 persen,” tukasnya. (lib)



Apa Pendapatmu?