Alexa Metrics

Menilik Candi Borobudur sebagai Cagar Budaya

Menilik Candi Borobudur sebagai Cagar Budaya Wisatawan berada di zona 1 kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (8/7). (Foto: ANTARA/Anis Efizudin/aww)

indopos.co.id – Memandang Candi Borobudur banyak perspektif. Tidak sekadar secara ragawi. Hal itu, bakal membawa setiap orang menjadi lebih empati, produktif, dan kreatif.

Tidak sedikit orang melukis atau memotret Candi Borobudur. Candi sebagai warisan budaya dunia dibangun sekitar abad ke-8 Masehi, masa Dinasti Syailendra itu terletak di antara Kali Elo dan Progo Kabupaten Magelang, Provinsi Jateng.

”Lebih produktif kalau melihat Borobudur sebagai subjek bukan sekadar objek,” tutur Pengamat Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Profesor M. Dwi Maryanto, di Magelang, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (6/8).

Mendekati Borobudur sebagai objek berupa bangunan candi besar. Kalau subjek sebagai sumber ide, inspirasi, dan pengetahuan. ”Nah, melihat karya seni sebagai subjek karya seni sumber ide, inspirasi, dan pengetahuan. Seni ini kita ganti dengan Borobudur,” bebernya.

Kalau memandang Borobudur sebagai objek, akan terpukau pada bangunan. Salah satu pelukis muda kawasan Candi Borobudur Wawan Geni, melihat candi sebagai subjek. Pelukis autodidak itu, bukan sekadar melihat bentuk Borobudur, tetapi belajar, menjadikan sebagai rumah, tempat mendapatkan ide, dan kehidupan.

Akhir Juni lalu, ia menyusuri Borobudur di tengah Pandemi Covid-19. Ia mendapat suasana unik. Candi sunyi karena pengunjung sedikit dan tanpa gangguan aktivitas pedagang. Merasakan secara unik Borobudur, bisa melihat dan menafsirkan candi megah itu dari kata awalan trans.

Pendiri Borobudur pada masa lalu mentranspor batu-batu dari kaki Gunung Merapi ke Borobudur. Batu-batu kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bernilai spiritual, estektik, dan bercita rasa. Setelah batu menjadi arca dan diletakkan dalam suatu konteks bangunan spiritual, ditransfigurasi menjadi nilai lebih tinggi, mengagumkan, dan mulia. Padal konteks Borobudur, semua itu menjadi transendental, keluar dari kebiasaan normal.

Pengkaji BKB Hari Setyawan menyebut Candi Borobudur sebagai puncak karya seni klasik Indonesia (zaman Hindu-Buddha) abad 8-10 M. Seni rupa dan pahat Indonesia, berkembang dengan puncaknya Candi Borobudur. Antara lain berupa pahatan proporsional dan penggambaran komponen-komponen lingkungan secara detail.

”Pohon sampai buah, daun, sampai para peneliti LIPI geleng-geleng kepala karena bisa menganalisis sampai spesies. Hewan juga bisa diidentifikasikan sampai tingkat spesies. Itu salah satu yang menjadi kemajuan kita,” tegas Hari.

Ia menambahkan para seniman memiliki sudut pandang lebih luas atas Borobudur, tidak sebatas fisik candi. ”Ini hasil karya seni, lebih dari sekadar bangunan. Itu menunjukkan sebuah bangsa sudah meningkat ke arah lebih maju. Karya seni itu sangat dihargai, dikembangkan, dan termanifestasikan dalam objek-objek penting bagi sebuah peradaban. Borobudur dengan seni seperti itu ada makna,” ucapnya. (ant)



Apa Pendapatmu?