Alexa Metrics

Penelitian Dikti Menjawab Penanganan Covid-19

Penelitian Dikti Menjawab Penanganan Covid-19 Foto: Istimewa

indopos.co.id – Sejumlah fasilitas untuk penanganan Covid-19 telah didistribusikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ke rumah sakit pendidikan (RSP) dan fakultas kedokteran (FK). Seperti: alat pelindung diri (APD), reagen hingga alat deteksi Covid-19 dengan RT PCR. Namun, sejumlah RSP dan FK masih mengeluhkan minimnya peralatan hingga akhir 2020 mendatang.

Direktur RS Universitas Udayana (Unud) Dr. dr. Dewa Putu Gede Purwa Samatra, Sp.S(K) menuturkan, telah menerima lima kali kiriman APD dan satu unit alat PCR. Namun, ia khawatir dengan keterbatasan Reagen untuk melayani pasien Covid-19. “Untuk penanganan pasien 4 bulan ke depan kami kekurangan reagen. Ini harus kami antisipasi, agar penanganan bisa kontinyu,” ujar Purwa dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (8/8/2020).

Hal yang sama diungkapkan Prof Arief Budiyanto dari RS Universitas Gajah Mada (UGM). Ia menuturkan, RS UGM saat ini kekurangan reagen untuk penanganan pasien Covid-19. Selain ada keterbatasan pada anggaran dan peralatan RT PCR. Apalagi, kondisi RS UGM saat ini mengalami penurunan jumlah pasien biasa.

“Ini kemudian menyebabkan masalah pada pembiayaan rumah sakit. Dengan bantuan dana tersebut, kami masih bisa berjuang untuk turut dalam penanganan pandemi Covid-19,” katanya.

Kendala lainnya, menurut Arief, dengan terbatasnya jumlah sumber daya manusia (SDM). Apalagi mulai Juli lalu kasus Covid-19 mengalami peningkatan. “Mungkin bulan Juni lalu menurun, tapi sekarang di Jogyakarta ada kecenderungan kasus naik. Apalagi kami masih melakukan screening. Dan ini yang menyebabkan kami kekurangan SDM,” ujarnya.

Menjawab hal itu, Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Paristiyanti Nurwardani mengatakan, distribusi fasilitas dan peralatan penanganan Covid-19 menjawab kebutuhan rumah sakit pendidikan (RSP) dan fakultas kedokteran (FK) dalam mengatasi pandemi Covid-19.

“Ini untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas RS pendidikan dan fakultas kedokteran. Selain peralatan kami juga memberikan insentif bagi 15 ribu relawan dan 13 ribu mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS),” ujarnya.

Ia menyebutkan, distribusi peralatan penanganan Covid-19 menyasar 6 persen ke RS pendidikan atau 15 RSP, rumah sakit gigi dan mulut (RSGM) sebesar 4 persen atau 10 RSGM, fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri (PTN) sebesar 11 persen atau 25 FK, fakultas kedokteran di perguruan tinggi swasta (PTS) sebesar 4 persen atau 8 FK dan ikatan dokter Indonesia (IDI) sebesar 3 persen. Peralatan tersebut berupa APD, reagen, RT PCR.

“Terbesar distribusi ke 169 RSUD/ RSUP atau 72 persen,” bebernya.

Lebih jauh ia menjelaskan, sedikitnya ada 15 RSP di bawah Kemdikbud yang membantu melayani tes swab hingga layanan kesehatan bagi penderita Covid-19. Mereka di antaranya RS UI, RS UGM, RS UNS, RS UB, RS ND, RS Universitas Udayana hingga RS Unhas. Total anggaran penanganan Covid-19 di Dikti sebesar Rp405 miliar dengan rincian Rp199 miliar untuk pengadaan di pusat dan Rp205 realokasi ke PTN.

“Total anggaran pengadaan di pusat sebesar Rp199 miliar dengan rincian Rp145 miliar untuk pengadaan alat kesehatan dan Rp54 miliar untuk insentif para relawan,” ungkapnya.

Terkait pemenuhan SDM, masih ujar Paristiyanti, pihaknya menambah insentif bagi relawan senilai Rp78 miliar.
Bahwa relawan PPDS tersebut, menurut Paristiyanti bisa bekerja langsung di RS pendidikannya. Sehingga, mereka bisa belajar sekaligus turut dalam penanganan pandemi Covid-19.

“Untuk memenuhi kekurangan SDM kami melakukan pelatihan-pelatihan bagi para relawan dengan standar kualitas yang sudah ditentukan,” katanya.

Lebih jauh ia mengungkapkan, untuk mempercepat penanganan Covid-19 pihaknya terus melakukan penelitian. Hingga saat ini sedikitnya ada 1300 penelitian sudah dilakukan. Penelitian lebih banyak dilakukan berkaitan dengan swab, harmonisasi peralatan dan fentilator hingga robot yang bisa membantu penanganan pasien Covid-19.

“Kami juga melakukan penelitian dampak pandemi Covid-19 terhadap pembelajaran di pendidikan tinggi,” bebernya.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Debby Kurniawan mengingatkan, pentingnya pelayanan kesehatan bagi pasien Covid-19. Oleh karena itu, peran RSP dan fakultas kedokteran sangat dibutuhkan untuk memutus mata rantai virus Corona. “Kita berharap dengan pemenuhan SDM dari pendidikan tinggi pada layanan kesehatan bisa membantu penanganan pasien Covid-19,” ujarnya.

Debby menuturkan, peran penelitian dari pendidikan tinggi sangat besar, selain pemenuhan SDM profesional di bidang layanan kesehatan. Salah satunya mengatasi dampak pandemi Covid-19 pada pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Lalu dari penelitian oleh Dikti, menurutnya bisa menjanjikan solusi mengatasi pandemi di Indonesia.

“Dengan temuan peralatan yang membantu para medis ini tentu solusi cepat penanganan pasien. Dan kita berharap juga dari penelitian Dikti ini bisa menemukan vaksi Covid-19 yang sudah kita nanti-nantikan,” katanya.

Debby berharap, dengan peningkatan anggaran penanganan Covid-19 melalui Dikti bisa mendorong dunia pendidikan tinggi pada penanganan virus Corona di Indonesia. Apalagi anggaran tersebut didukung oleh SDM yang kompeten di bidang sains dan teknologi. “Dunia pendidikan tinggi kita tahu semua. Mereka sangat profesional dan kompeten dalam bidang ilmu. Kita harapkan ada solusi besar agar bangsa Indonesia bisa melalui pandemi ini dengan cepat,” ungkapnya. (mdo)



Apa Pendapatmu?