Kasus Kecanduan Gadget Meningkat, Efek Domino COVID-19 terhadap Kesehatan Mental

Indopos.co.id – Proses belajar mengajar di masa Pandemi COVID-19 membutuhkan peran serta guru dan orang tua. Anak dituntut untuk lebih mandiri. Tapi, suasana belajar yang menyenangkan juga dibutuhkan agar anak tidak jenuh. Di tengah Pandemi COVID-19, gangguan psikososial menghantui anak dan orang tua saat belajar daring.

Sebab, kondisi belajar secara daring (dalam jaringan) atau secara online, merupakan hal yang tidak biasa. Bahkan, sulit dilakukan di sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan jaringan internet maupun mereka yang tidak memiliki fasilitas digital. Akibatnya, menimbulkan gangguan psikososial, mulai dari yang ringan hingga berat. Bahkan, perilaku negatif menggunakan fisik pun berisiko terjadi saat anak sekolah di rumah.

Baca Juga :

Jaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi COVID-19

”Orang tua dan anak sama-sama tidak siap. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya kekerasan orang tua kepada anak,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI Dr dr Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, dalam webinar Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, baru-baru ini.

Dari hasil survei menunjukkan, terdapat 11 persen kasus kekerasan fisik dan ada 62 persen kekerasan verbal selama belajar daring di masaPandemi COVID-19.  Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan fisik dan verbal pada anak saat melakukan belajar online.

Baca Juga :

Kematangan Psikologis Kunci Pernikahan Bahagia

Salah satunya faktor psikologi orang tua yang bekerja. Kesibukan dan beban psikis pekerjaan membuat orang tua tidak bisa memberikan pengajaran maksimal kepada anak. Ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni anak ditinggalkan di rumah atau dititipkan di tempat pengasuhan anak.

”Masalahnya, apakah tempat pengasuhan anak sudah menjalankan protokol COVID-19? Di situ tentu ada dampak atau kekhawatiran. Kalau pun di rumah, dia (anak) dengan siapa (dibimbing saat sekolah di rumah)?’’ paparnya.

Selain itu, ada juga pertimbangan lainnya, yakni apabila anak dirawat oleh pengasuh. Apakah pengasuh si anak itu telah mendapatkan penjelasan mengenai potensi penyebaran COVID-19 melalui asimtomatik atau OTG (orang tanpa gejala), dan sebagainya.

”Apalagi kalau tidak ada pengasuh, tentu ini yang akhirnya menimbulkan dampak. Termasuk orang tua tidak bisa meninggalkan pekerjaan karena butuh,” ulasnya.

Dampak negatif lain yang bisa ditimbulkan dari pengajaran secara online adalah anak menjadi tidak tertib. Perhatian anak belajar juga mudah teralihkan dengan adanya penggunaan gadget. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Siloam Hospitals Lippo Village, dr Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ, melakukan sejumlah penelitian kepada 2.933 remaja dan 4.734 orang dewasa berusia 20-40 tahun di 33 provinsi Indonesia.

Dia pun menemukan kecanduan internet pada remaja meningkat hingga 19,3 persen dengan rata-rata durasi bermain internet selama 11,6 jam per hari di masa pandemi ini. Selain itu, kecanduan internet pada orang dewasa juga meningkat dari 3 persen sebelum pandemi menjadi 14,4 persen selama pandemi.

”Jadi ada lima kali lipat peningkatan kecanduan internet,’’ ujarnya dalam webinar bersama Kementrian Kesehatan, baru-baru ini.

Dari segi kognitif, lanjutnya, kecanduan internet seperti terlalu lama bermain game online itu bisa berdampak pada aspek kognitif. Salah satunya adalah penurunan fungsi eksekutif yang berperan dalam kemampuan berpikir. Sedangkan secara psikologis juga bisa dirasakan, seperti daya ingat dan konsentrasi yang menurun.

‘’Secara psikologis ada namanya gangguan depresi dan gangguan tidur,’’ terangnya. (dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.