Alexa Metrics

Tangkal Resesi, Desa Didorong Aktifkan Digitalisasi

Tangkal Resesi, Desa Didorong Aktifkan Digitalisasi webinar

indopos.co.id – Desa punya potensi besar untuk terus bertumbuh. Indonesia yang kini memiliki 74.517 desa, separuh penduduknya tinggal disana.

Namun, di tengah masa Pandemi COVID-19, desa menghadapi pula dampaknya. Sehingga diperlukan strategi menghadapi kemungkinan resesi ekonomi.

“Indonesia pernah menghadapi krisis saat reformasi 1998 lalu. Tapi saat itu desa tidak terdampak. Tapi di masa Pandemi Corona ini, desa terdampak dan menjadi benteng terakhir. Banyak orang kota lebih baik pulang ke desa asal bisa makan,” ujar mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Andrinof Chaniago di webinar bertajuk ‘Strategi Hadapi Resesi Ekonomi, Prioritas Dibangun Desa atau Kota?, Minggu (9/8/2020).

Hal inilah yang dikatakannya perlu agar terus bisa menjadi benteng terakhir melawan krisis akibat pandemi ini.

“Strategi khusus guna membangun desa itu harus diakselerasi. Agar mendukung pertumbuhan ekonomi. Mengingat penduduk miskin lebih banyak berada di pedesaan,” ujar Andrinof.

Sementara itu, Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengawas Koperasi Satelit Desa Indonesia (KSDI) Budiman Sudjatmiko, yang juga jadi pembicara menyebut strategi mengikis krisis ini bisa dilakukan dengan sebuah syarat.

“Sumbatan digitalnya harus dibuka dulu, agar arus informasi bisa lancar,” ujar Budiman.

Menurutnya, saat ini pemerintahan Jokowi telah menyediakan Palapa Ring yang menjadi jalan tol komunikasi dari Sabang sampai Merauke.

“Tapi “kan jalan kampung di sekitarnya belum di aspal. Inilah yang kini akan kita kolaborasikan. Bumdes (badan usaha milik desa) kita sambungkan dengan perusahaan-perusahaan penyedia jasa internet untuk bikin kolaborasi digital,” papar Budiman.

Hal ini sudah mulai dicoba di Tanah Datar, Sumatera Barat. Sebelum Pandemi COVID-19 saja, tiap desa di wilayah itu sudah meraup untung Rp16 juta perbulan dari penyediaan akses internet.

“Tahun depan kita akan coba ke 25 ribu desa di Indonesia. Masyarakat beli kuota ke Bumdes. Nanti keuntungannya buat desa,” ujar Budiman.

Dia menyebut, secara teknologi pelaksanaan hal tersebut tidak sulit. Apalagi ada dana desa.

Digitalisasi atau yang dikatakan Budiman sebagai rangkai data, merupakan satu dari pendekatan Trisakti ABC yang efektif untuk diterapkan di masa normal baru ini, selain asasi, abadi, berkelanjutan (sustainable), berdana, berdaya, dan cinta tanah air serta punya cita-cita.

“Kami mendorong pemerintah di tingkat desa agar aktif melakukan digitalisasi di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.

Indonesia dinilainya punya comparative advantage yang harus didorong untuk terus ditingkatkan.

Hal ini diamini pula oleh Andrinof. Ia sepakat jika masyarakat di desa harus terus ditanamkan mental kewirausahaan.

“Jadi kalau ditanya apakah di desa atau kota yang penting, dua-duanya penting. Tapi di desa perlu akselarasi dan tata kelola yang lebih baik,” pungkas Andrinof.

Sebagai penutup, pembicara lainnya di webinar ini, Angela Simatupang dari International Contact Partner RSM Indonesia menyebut, digitalisasi desa sudah mutlak dilakukan. Namun harus digarap dengan tata kelola yang baik agar pembangunan di desa bisa berkelanjutan.

“Digitalisasi di desa sudah pasti bisa, tinggal masalah kemauan dan komitmen. Tapi mindset masyarakat juga harus ditata dan jangan lupa harus dibenahi juga public goverment-nya,” pungkasnya.(mdo)



Apa Pendapatmu?