Alexa Metrics

Kerepotan Guru-guru di Tengah Tugas yang Diemban, Harus Urusi Siswa dan Anak Belajar Daring di Waktu yang Bersamaan

Kerepotan Guru-guru di Tengah Tugas yang Diemban, Harus Urusi Siswa dan Anak Belajar Daring di Waktu yang Bersamaan Sistem pembelajaran jarak jauh membuat orang tua, khususnya ibu, memiliki beban berlebih. Apalagi jika ibu itu seorang guru. Namun bukan hanya orang tua dan guru yang harus beradaptasi. Para siswa pun harus menyesuaikan diri. (Foto: ANTARA/Yusron Ucang)

indopos.co.id – Bagi seorang wanita yang bersuami dan berprofesi sebagai guru di saat pendemi COVID-19 harus memiliki kesabaran yang cukup esktra. Itu karena mereka harus membagi tanggungjawab atas pendidikan siswa dan anak mereka. Terlebih pemerintah menerapkan belajar secara online dari rumah.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, memang bukan selogan semata. Ditengah serangan virus Corona mereka harus berjibaku menunaikan kewajiban mereka sebagai istri, ibu rumah tangga dan guru. Tugas itu harus diselesaikan di saat bersamaan.

Pukul 06.00 WIB, Rabu (05/08), Risma Uli, 40, sudah bersiap diri untuk mengajar siswa di sekolah dasar (SD) swasta yang tak jauh dari rumahnya di Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel). Dia pun segera mengecek laptop dan HP untuk memberikan materi kepada siswanya. Maklum saja belajar tatap muka belum diperbolehkan oleh pemerintah. Sehingga segala materi pun harus dipersiapkan seorang diri.

“Hari ini saya mau mengajar materi matematika sama siswa. Kebetulan saya wali kelas IV di SD swasta. Ya setiap hari mengajar dari rumah untuk siswa,” katanya sasat ditemui dikediamannya yang sederhana di Pondok Aren.

Dari pengakuan Risma, menjadi guru ditengah pendemi Covid-19 seperti saat ini harus memiliki kesabaran yang sangat besar. Dia beralasan karena tugas guru saat ini berat. Selain harus mengurusi rumah tangga, dirinya harus dihadapkan dengan dua pekerjaan lain. Yakni mengajar siswa dan anaknya secara bersamaan.

“Harus punya kesabaran ekstra besar, soalnya tugas semakin berat. Pagi buta harus bebenah rumah dan masak. Habis itu ngajar siswa sama anak secara bersamaan. Ya kalau tidak bisa bagi waktu dan punya kesabaran pasti akan berantakan semua,” celotehnya.

Yang paling dirasakan Risma menjadi seorang guru plus sebagai seorang ibu adalah mengajar siswa serta anaknya secara bersamaan. Dimana dirinya harus menjelaskan materi pelajaran bagi siswa untuk dikerjakan. Di saat bersamaan pula dia harus membantu anaknya belajar daring.

“Ya tidak semua anak paham dan mengerti akan materi yang diberikan guru melalui daring. Jadi harus pelan-pelan dan itu yang saya lakukan. Konsentrasi kadang buyar kalau seperti ini. Apalagi anak saya yang botot itu TK besar sekarang,” ungkapnya.

Risma mengaku, kerap menahan amarah kepada anaknya yang tak paham dengan materi yang diberikan guru melalui daring. Sementara dia pun harus memberikan materi kepada 35 siswanya agar dapat dikerjakan. Dan untuk menghilangkan itu memiliki cara jitu yakni mengajar dengan cara pelan dan tersenyum.

“Kita ini kan bukan malaikat yang tidak punya amarah. Siapa juga kesal pasti kalau anaknya tidak mengerti pelajaran. Tetapi mau bagaimana lagi harus dihadapi dengan senyuman saja. Kan tidak mungkin karena saya emosi pelampiasannya ke anak sama siswa,” jelasnya.

Bagi Risma, pemberian materi secara daring tidak dapat meningkatkan daya tangkap siswa untuk memahami materi pelajaran. Sebab, ketersediaan waktu dan paket internet tidak sama dengan belajar secara tatap muka. Artinya materi pelajaran tidak mampu diulang sebanyak mungkin agar siswa paham.

“Pastilah berbeda, dan tidak sama. Bagaimana jika siswa punya daya tangkap rendah, apa dia mampu menyelesaikan itu sendiri. Ini yang kadang jadi bahan pertimbangan saya dalam memahami kondisi sekarang ini,” imbuhnya.

Berbeda lagi dengan Melisa Ardianti, 38, yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak. Wanita dua anak yang tinggal di Cinere, Kota Depok ini setiap hari kerepotan membantu anaknya yang duduk di kelas VI SD belajar daring. Itu dikarenakan, dirinya harus membantu dua anaknya belajar secara daring ketika dia harus mengajar siswanya.

“Mereka saya bawa ke sekolah, anak saya diruang guru. Sambil mengajar, sesekali saya cek mereka ke ruangan buat bantu kerjain tugas. Bolak balik aja setiap hari biar semua tidak ketinggalan pelajaran,” tegasnya.

Melisa masih ingat beberapa kali sempat emosinya meluap kepada salah satu anaknya yangb tak memahami pelajaran yang diberikan. Namun saat itu dia sadar jika tugasnya sebagai ibu sekaligus guru harus memiliki kesabaran tingkat tinggi dalam menyelesaikan tugas yan diemban. Apalagi tujuannya saat ini adalah membantu anak dan siswanya memahami materi pelajaran yang diberikan.

“Sempat saya mau marahin, tapi saya ingat profesi saya seperti apa. Memang tidak cukup banyak waktu mengajar siswa sembari mengajari anak juga. Tetapi saya harus menikmati itu semua dengan lapang dada,” tuturnya.

Hampir setiap hari lakon Melisa untuk mengajar dan mengajari anaknya belajar terjadi. Dia pun merasa beruntung mendapatkan kesempatan ditengah Covid-19 ini menyelesaikan tugas berat yang diemban dan bertambah banyak. Karena dari sana dirinya mendapatkan ilmu kesabaran yang cukup besar dalam menghadapi situasi terberat dalam menjalani kehidupan ditengah pendemi Virus Corona ini. (cok)



Apa Pendapatmu?