Alexa Metrics

Kisah Seorang Guru, Berbagi Waktu dengan Anak dan Siswa

Kisah Seorang Guru, Berbagi Waktu dengan Anak dan Siswa Sistem pembelajaran jarak jauh membuat orang tua, khususnya ibu, memiliki beban berlebih. Apalagi jika ibu itu seorang guru. Namun bukan hanya orang tua dan guru yang harus beradaptasi. Para siswa pun harus menyesuaikan diri. (Foto: Tumpak Tampubolon/INDOPOS)

indopos.co.id – Matahari sudah beranjak naik. Namun Fuad Ma’ruf Nur masih belum beranjak dari rumahnya. Pria genap berusia 33 tahun ini mengajak kedua anaknya untuk menunaikan salat Dhuha. Padahal, selama sepuluh tahun terakhir, setiap pagi Fuad panggilan sehari-hari Fuad Ma’ruf Nur selalu berangkat ke sekolah untuk mengajar.

“Ayo ambil air wudhu terus salat Dhuha. Selesai salat baru mengerjakan tugas sekolah,” kata Fuad sembari memanggil kedua anaknya.

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, pria yang memiliki profesi sebagi guru mata pelajaran (Mapel) agama di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kramatjati 18, Jakarta Timur ini banyak menghabiskan waktu di rumah. Ia mengajar siswa siswinya melalui online (daring). Dan ia juga menjadi guru pendamping di rumah untuk anak-anaknya.

“Ya mau gimana lagi. Pandemi ini memaksa kita belajar dari rumah. Setiap hari murid-murid saya kasih tugas. Dan di rumah saya juga mendampingi anak saya yang kelas 1 SD untuk mengerjakan tugas,” ungkapnya.

Ia menuturkan, belajar berbasis daring kerap membuat siswa bosan. Maka, setiap penugasan, ia tidak pernah memberi di luar batas kemampuan siswa. Seperti siswa kelas 1 SD, paling banyak diberikan tugas 2 hingga 5 soal. Itu pun yang menyenangkan.

“Siswa jangan sampai bosan dengan tugas setiap hari. Ini saya melihat dari anak saya sendiri, ketika tugas itu banyak dia akan mengeluh. Jadi saya untuk siswa kelas 1 SD paling saya memberikan tugas 2 soal, paling banyak 5 itu pun tugas-tugas yang menyenangkan,” katanya.

Ia mencontohkan, penugasan hari Selasa (4/8) lalu, siswa diajarkan bagaimana keteladanan Nabi Muhammad SAW terhadap anak yatim. Pada cerita tersebut, ia juga memberikan kesimpulan agar mempermudah dicerna oleh siswa. Kemudian siswa diberikan soal essai, seperti “bagaimana perasaan anak-anak yatim setelah berkunjung dari rumah Nabi Muhammad SAW?”. “Saya perhatikan anak-anak menjawab senang semua,” bebernya.

Menjadi guru sekaligus orang tua bukan masalah yang mudah. Apalagi di tengah pembelajaran jarak jauh yang menuntut peran aktif orang tua sebagai pendamping anak belajar di rumah. Menurut pria kelahiran Jakarta, 8 November 1987 ini, ia rela berbagi waktu untuk anak dan para siswanya.

“Setiap malam biasanya saya sudah membuat dan menyelesaikan tugas untuk murid-murid saya. Pagi harinya, mulai jam 07.00 WIB, tugas sudah saya share ke classroom,” bebernya.

Banyak kendala dirasakan para siswa saat mengikuti belajar dari rumah. Begitu juga dirasakan oleh para muridnya. Selain keterbatasan kuota, masalah kelangkaan gawai kerap menjadi masalah utama siswa terlambat menyelesaikan tugasnya. Seperti gawai harus berbagi dengan orang tua salah satunya.

“Sering sekali beberapa siswa terlambat mengumpulkan tugasnya, karena HP dibawa orangtuanya untuk bekerja. Ini saya maklumi. Karena waktu untuk ngumpulin tugas dari jam 07.00 WIB sampai tengah malam atau jam 00. Jadi masih ada waktu untuk orangtua membantu anak-anak belajar dan menyelesaikan tugasnya,” ujarnya.

Ayah dua orang anak ini menjelaskan, ia berbagi waktu setiap hari untuk anak dan para siswanya. Karena, usai mengirim tugas kepada murid-muridnya, ia masih harus menjawab setiap kendala dan masalah dari para orang tua dan para siswanya dalam menyelesaikan tugas pekerjaan rumah.

“Habis posting tugas ke murid-murid bukan berarti HP kemudian kita non aktifkan. Tetap saja harus aktif, sembari mendampingi anak mengerjakan tugas, kita aktif juga menjelaskan setiap kesulitan orangtua dan siswa dalam mengerjakan tugasnya,” terang Fuad.

Berbagi waktu untuk para siswanya, bukan berarti Fuad tidak memperhatikan waktu belajar anaknya. Biasanya, ia akan memberikan pemahaman kepada anaknya, setiap kali para siswa menemukan masalah dalam mengerjakan tugas. Meskipun kerap momen tersebut datang bersama.

“Ya sering banget, anak yang pertama kan kelas 1 SD sering ngeluhin tugasnya dan waktunya berbareng sama siswa atau orang tua siswa yang menanyakan kesulitan tugasnya. Biasanya, anak saya kasih pengertian,”Nak bapak balas pertanyaan murid-murid bapak dulu ya? Nanti baru bapak bantu menyelesaikan PR kamu”. Dan alhamdulilah anak saya mengerti,” ucapnya.

Pria yang sudah sepuluh tahun mengabdi sebagai guru ini menuturkan, rasa bosan belajar daring tidak hanya dirasakan oleh para siswa saja. Tetapi selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) banyak guru yang merasakan bosan dan jenuh. “Bagaimana ya? Lebih enak mengajar tatap muka dari pada daring. Kalau kita ketemu siswa itu rasanya menyenangkan, beda dengan daring. Kita paling senyum-senyum sendiri kalau melihat tulisan siswa sudah baik dan benar. Itu pun hanya di depan layar HP,” katanya.

Fuad berharap pandemi Covid-19 segera berlalu. Dan pria yang dikaruniai dua orang anak dari perkawinannya dengan Hurul bisa kembali mengajar para siswanya secara tatap muka. “Siapa sih yang mau pandemi terus. Semoga wabah ini segera selesai dan pendidikan bisa normal lagi,” ucap Fuad berharap. (nas)



Apa Pendapatmu?