Alexa Metrics

Harimau Sumatera Memprihatinkan

Harimau Sumatera Memprihatinkan

indopos.co.id – Dulu kita pernah mendengar ada harimau jawa. Satwa itu kini sudah punah. Dulu juga kita pernah mendengar ada harimau bali. Satwa itu pun kini sudah punah. Satu-satunya yang masih tersisa adalah harimau sumatera. Namun, kondisinya semakin memperihatinkan. Populasinya terus berkurang. Saat ini diperkirakan tidak lebih dari 400 ekor.

Terancam punahnya harimau disebabkan habitat spesies ini semakin tidak terkendali, berkurangnya spesies mangsa, hingga perburuan. Padahal, berdasarkan UU  Nomor 5 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwa dengan nama latin panthera tigris sumatrae ini binatang dilindungi.

Berbagai cara perburuan harimau dilakukan. Mulai menjerat dengan tali sling, ditembak, dimasukkan perangkap, hingga diberi makan beracun. Pada peringatan Hari Konservasi Alam Nasional dan Global Tiger Day (Hari Harimau Sedunia) di Hutan Madapi, Rejang Lebong, Bengkulu, akhir pekan lalu, polisi kehutanan menampilkan hasil sitaan tali-tali sling yang dipakai untuk menjerat satwa yang habitatnya di hutan hujan tropis itu.

’’Harimau di dunia ini hanya ada sembilan subspesies. Kita dari sembilan itu ada tiga subspesies. Ada di Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Sumatera. Dua spesies sudah punah. Tinggal harimau sumatera. Itu pun berdasarkan survei 2020 jumlahnya sekitar 400 se-Sumatera,’’ kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Donal Hutasoit kepada INDOPOS saat ditemui di sela-sela acara Hari Konservasi Alam Nasional dan Global Tiger Day di Kota Bengkulu.

Paling banyak memang perburuan yang menyebabkan harimau sumatera ini populasinya semakin berkurang. Pihak BKSDA sering melakukan penangkapan terhadap perburuan. ’’Kita bekerja sama dengan banyak pihak ya. Untuk menghentikan perburuan terhadap satu-satunya spesies harimau di Indonesia ini. Ada dari pemda, LSM pemerhati satwa liar baik lokal maupun internasional,’’ ungkap Donal.

Di Bengkulu sendiri tidak diketahui pasti berapa jumlah pastinya harimau sumatera. Tapi berdasarkan data di lapangan, satwa sepanjang 158 hingga 250 cm itu pernah ada singgungan dengan manusia. Itu artinya satwa dilindungi ini masih ada dan habitatnya terganggu sehingga sampai ke masyarakat.

’’Dari kita, dari 2007 sudah 14 (harimau sumatera) yang berhasil diselamatkan. Baik karena ia dijerat, keluar dari habitatnya atau masuk ke pemukiman masyarakat. Karena khawatir mengganggu kehidupan masyarakat, maka kita selamatkan,’’ cerita Donal.

Di Bengkulu ada dua lanskap. Satu lanskap Seblat di utara. Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Daerah Muko-Muko dan Bengkulu Utara itu satu lanskap. Di sini populasinya masih bagus karena menyatu dengan TNKS yang berada di ketinggian.  Ada juga di Rejang Selatan, Batu Raja. Itu satu lanskap. Populasinya juga masih terjaga.

Donal menjelaskan, paling bagus memang turun ke lapangan. Membersihkan jerat-jerat harimau. Ini jadi perhatian karena banyak sekali tali-tali jerat. ’’Terakhir ini ada enam harimau yang berhasil kita selamatkan dari jerat. Kita punya dokter hewan juga. Setelah itu kita lepaskan lagi. Dan pelakunya kita lakukan penegakan hukum,’’ ungkap Donal.

Memang tidak mudah menghentikan perburuan ini. Karena selama ini banyak orang memperjualbelikan. Kulitnya dijual mahal. Selama ada permintaan maka perburuan ini akan terus ada. ’’Ini sangat memprihatinkan. Karena itu penegakan hukum dan edukasi ini akan terus kita lakukan,’’ tekad Donal.

Donal menjelaskan, berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 harimau itu termasuk hewan dilindungi. Sanksinya cukup berat. ’’Pada 2019 itu ada pemburu yang kena penjara tiga tahun. Yang di Muko-Muko kena tiga tahun enam bulan. Lumayan juga itu. Terakhir itu di Bengkulu Utara. Ada pemburu yang mengajak saudaranya. Mereka rata-rata kena dua tahun lebih. Gara-gara uang semua sumber daya alam ini kita musnahkan,’’ Donal prihatin.

Harimau sebagai predator puncak ini sangat bermanfaat. Sebagai top predator, jumlahnya memang tidak banyak. Rata-rata anaknya satu dua. Kalau predator puncaknya terganggu, pasti hama-hama populasinya akan naik. ’’Jadi harimau itu bisa menjaga hama sehingga manusia bisa bertani dengan baik. Karena itu, menjaga ekosistem itu mutlak,’’ pungkas Donal.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengimbau masyarakat Aceh Tengah untuk tidak melepaskan hewan ternaknya di kawasan hutan menyusul adanya gangguan harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) di wilayah itu.

“Selain tidak melepaskan ternak di kawasan hutan, kami juga mengimbau masyarakat untuk sementara waktu membatasi aktivitas di kawasan hutan karena ada gangguan harimau,” kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto di Banda Aceh, Jumat.

Sebelumnya, tiga ekor harimau dilaporkan mendekati permukiman masyarakat Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah. Harimau tersebut juga dilaporkan memangsa ternak masyarakat.

Agus Arianto menyebutkan tim BKSDA Aceh sudah dikirim ke wilayah tersebut untuk mengecek dan mengatasi laporan masyarakat terkait adanya gangguan harimau tersebut.

“Dari hasil pengecekan di lapang, posisi gangguan berada di kawasan hutan lindung. Jadi, kami imbau masyarakat tidak menggembalakan ternak dengan melepaskannya ke kawasan hutan. Ini mengundang konflik dengan satwa tersebut,” kata Agus Arianto.

Kepada masyarakat, Agus Arianto mengimbau untuk segera menghubungi BKSDA jika ada gangguan harimau, sehingga bisa ditangani dengan baik. BKSDA Aceh akan segera mengirimkan tim apabila ada ancaman dan gangguan satwa dilindungi tersebut.

Agus Arianto menegaskan harimau sumatra merupakan satwa dilindungi. Satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera tersebut masuk dalam spesies terancam dan berisiko tinggi punah di alam liar.
“Kami mengajak masyarakat menjaga kelestarian harimau sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat alami. Serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa dilindungi tersebut,” kata Agus Arianto.
BKSDA edarkan brosur daftar satwa dilindungi cegah perdagangan ilegal

Sedangkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Sumatera Barat kembali mengedarkan brosur daftar satwa dilindungi guna mencegah kasus perdagangan satwa tersebut di daerah itu.

“Kami mengedarkan 3.000 brosur satwa dilindungi di pusat keramaian, kelompok pencinta burung, sekolah dan lainnya di lingkup wilayah kerja BKSDA Resor Agam. Sebelumnya kami mengedarkan 5.000 lembar brosur itu pada 2018,” kata Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Sumbar Ade Putra di Lubukbasung, Senin.

Dia mengatakan, brosur yang diedarkan itu dilengkapi dengan gambar satwa dilindungi Undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Jenis-jenis tumbuhan dan satwa dilindungi di Sumbar terbagi empat kelompok yakni mamalia, burung, tumbuhan dan amphibi atau reptil.

Kelompok mamalia berupa harimau, orangutan, gajah, kijang, rusa, kambing hutan, beruang, kukang, binturung, siamang, ungko, kancil, kelinci, kucing hutan atau bakau, kucing merah, kucing emas, macan dahan, trenggiling, tapir, badak, barang-barang, sigung, musang lingsang, musang air dan bajing terbang.

Sedangkan kelompok burung berupa elang, rangkong, beo, kuau, merak hijau, bangau bluwok, kakatua, nuri, raja udang, murai daun, kenari melayu, sepah raja, paok dan serindit.

Sementara kelompok tumbuhan berupa bunga bangkai, rafflesia dan kantong semar.
Selain itu, kelompok amfibi atau reptil berupa buaya, penyu, bening, labi-labi bintang, paus, lumba-lumba, duyung dan belangkas.

“Seluruh satwa dilindungi itu ada di wilayah Sumbar,” katanya.
Menurut dia, brosur itu disebarkan karena kasus perdagangan satwa dilindungi sangat tinggi di daerah itu satu bulan terakhir.

BKSDA dan pihak kepolisian berhasil mengungkap kasus perdagangan sisik trenggiling di Pasaman pada 30 Juni 2020, pengungkapan perdagangan burung beo dan nuri kalung unggu di Agam pada 17 Juli 2020 dan pegungkapan sisik trenggiling di Pasaman Barat pada 30 Juli 2020.

“Kasus perdagangan sisik trenggiling di Pasaman Barat merupakan yang terbesar selama 2020 dengan barang bukti sisik trenggiling 22 kilogram. Selama 2020 kita mengungkap empat kasus, karena sebelumnya kita juga menangkap warga Agam yang menyimpang rangka rangkong Sabtu (4/1),” katanya.

Ade berharap dengan disebar brosur itu masyarakat dapat mengetahui jenis apa saja satwa dilindungi dan termasuk sanksi hukum yang dilanggarnya.
Dengan kondisi itu, kasus perdagangan satwa dilindungi akan berkurang di daerah tersebut.

Bela yang Lemah

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno di hadapan jajarannya dan masyarakat di Hutan Madapi dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional dan Hari Harimau Sedunia mengajak bersama-sama melestarikan lingkungan.

’’Kita harus membela yang lemah. Yang lemah itu ya satwa-satwa itu, yang tidak bisa berbicara. Itu yang kita bela. Habitatnya kita selamatkan,’’ kata Wiratno yang pada kesempatan itu memberikan penghargaan kepada jajarannya dan masyarakat yang telah menyelamatkan satwa langka seperti harimau dan melakukan upaya konservasi lingkungan.

Wiratno menyebutkan Provinsi Bengkulu harus memiliki strategi mengembangkan daerah berbasis hutan. Bengkulu dengan kondisinya 43 persen lebih hutan harus memiliki strategi berbasis hutan, kopi, hutan konservasi, hutan sosial itu saling membantu dengan pelestarian lingkungan.

Dia menambahkan Provinsi Bengkulu sebagai barometer nasional kedua setelah Provinsi Lampung harus bisa menjadikan hutan dan masyarakatnya bisa bekerja sama dan memberikan manfaat serta sekaligus untuk kelestarian alam.
Daerah ini, kata dia, juga bisa menjadi contoh provinsi lain termasuk Aceh dan lain-lain dalam pemanfaatan hutan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional dan peringatan Hari Harimau Sedunia Provinsi Bengkulu yang dipusatkan di Hutan Madapi Desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya, Kabupaten Rejang Lebong tersebut merupakan upaya konservasi terhadap kawasan hutan.
Peringatan itu juga untuk menjaga kelestarian flora dan fauna langka dalam hal ini Harimau Sumatera.

“Pelestarian alam maupun flora serta fauna tidak semata-mata jangan hilang keberadaannya di alam, tetapi jangan sampai mengganggu keseimbangan alam yang ada karena akan merugikan kita manusia,” ujar dia.

Ia menambahkan upaya pelestarian flora dan fauna akan berjalan jika ada keseimbangan antara aspek pelestarian serta manfaat ekonomi, sosial secara optimal.
Ketiga sektor itu harus berjalan dengan baik sehingga bisa memberikan manfaat, tidak bisa hanya konsentrasi pada upaya pelestarian saja, namun pemberdayaan ekonominya tidak diperhatikan atau sebaliknya maka tidak akan berhasil.

Sejauh ini upaya pelestarian dari sisi ekologi masyarakat Bengkulu saat ini dinilainya sudah sangat peduli dengan banyaknya relawan, pemerhati lingkungan dan masyarakat perduli dengan pelestarian itu, serta di sisi lainnya masyarakat dapat menerima manfaat melalui produksi hasil hutan non kayu.

Jadi, harimau sumatera yang menjadi satu-satunya spesies di Indonesia harus kita jaga bersama-sama. Jika tidak, harimau sumatera akan menjadi harimau terakhir yang akan punah setelah harimau jawa dan harimau Bali. (nas/ant/cok)



Apa Pendapatmu?