Alexa Metrics

Pemerintah Belum Serius Dorong Kegiatan Riset Inovasi Teknologi

Pemerintah Belum Serius Dorong Kegiatan Riset Inovasi Teknologi Tim riset kesehatan menjadi harapan penanganan Covid-19 di Indonesia.

indopos.co.id – Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR Mulyanto mengatakan, peringatan Hakteknas harus dijadikan momentum evaluasi terhadap pencapaian riset dan inovasi nasional. Dengan membuat berbagai terobosan baru agar penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan riset dan inovasi terus berkembang. Namun sayangnya, pemerintah dianggap masih belum memprioritasnya program riset dan inovasi dalam penganggaran di APBN.

“Kita patut bangga dengan beragam pencapaian hasil riset dan inovasi, apalagi secara kualitas terbukti mampu bersaing di kancah internasional,” katanya.

Untuk merealisasikan hal tersebut, menurut Mulyanto, perlu dukungan yang konsisten dari pemerintah agar keberhasilan yang sudah diraih dapat dikembangkan. Namun belakangan, dia melihat, pemerintah tidak serius membangun program inovasi teknologi nasional sebagai dasar keunggulan kompetitif bangsa, baik dari aspek pendanaan maupun kelembagaannya.

“Bentuk kelembagaan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sampai saat ini saja masih belum jelas. Padahal pemerintah berjanji akan menerbit Perpres tentang Kelembagaan BRIN di akhir tahun 2019. Tapi sampai memasuki semester II tahun 2020 pun, Perpres itu belum juga muncul,” bebernya.

Ia menegaskan, Perpres terkait BRIN sudah sangat mendesak. Karena, tanpa ada kejelasan bentuk kelembagaan dikhawatirkan akan menggangu kegiatan riset yang selama ini berjalan. Program riset dan inovasi yang sudah direncanakan terancam tidak terlaksana karena tidak jelasnya aspek kelembagaan. Penundaan tersebut mencerminkan pemerintah tidak punya political will untuk membangun inovasi nasional.

“Semestinya sesuai fatsun yang ada, pemerintah tidak menundanya. Ini kan menghambat kerja pembangunan riset dan inovasi nasional,” ujarnya.

Sebab itu, lanjut dia ta Mulyanto, muncul kegamangan mengenai ketidakjelasan eksistensi lembaga mereka di kalangan peneliti senior. Sementara terkait anggaran litbang, menurut Mulyanto jumlahnya sangat minim. Untuk riset vaksin Covid-19, misalnya, melalui Konsorsium Riset Nasional, ternyata hanya dialokasikan dana litbang sekitar Rp20-an miliar.

“Jumlah ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dana pengembangan vaksin Covid-19 dari Sinovac. Karenanya jangan heran kalau akhirnya nanti bangsa ini merogoh kocek triliunan rupiah untuk membeli vaksin impor dari Cina itu,” tegasnya.

Anggota Komisi VII DPR ini menjelaskan, tantangan pembangunan Indonesia semakin lama semakin berat dan peran riset-inovasi menjadi semakin vital. Menurutnya, Medan kompetisi produksi telah bergeser dari keunggulan SDA (comparative advantage) menuju pada keunggulan bersaing (competitive advantage).

“Nilai tambah dan daya saing produk sangat dipengaruhi oleh sentuhan teknologi dan inovasi. Karena itu jangan heran kalau yang terjadi adalah de-industrialisasi dini. Hal ini disebabkan sektor industri kita terus merosot, kalah bersaing untuk ekspor,” katanya.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan sinergi antara akademisi atau peneliti, industri, dan pemerintah atau dikenal dengan istilah triple-helix menjadi kunci penting dalam penguatan inovasi di dalam negeri.

“Kunci utama penguatan inovasi adalah adanya sinergi triple-helix yang baik antara pihak-pihak terkait dalam inovasi, seperti peneliti, inovator, dunia akademisi, dunia usaha, komunitas inovator, komunitas pengguna teknologi, dan tentunya Pemerintah,” kata Ma’ruf Amin saat membuka acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25 di Jakarta, Senin.

Menurut dia, sinergisme tersebut mendukung pelaksanaan riset, serta menghasilkan produk-produk inovatif yang secara bertahap dapat menjadikan bangsa Indonesia mandiri dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di tengah kondisi pandemi, Wapres berharap inovasi dan riset yang dilakukan para peneliti dalam negeri dapat membawa solusi bagi persoalan yang muncul akibat COVID-19, khususnya di bidang kesehatan, ekonomi, dan pendidikan.

“Saya berharap ini (riset, red.) dapat menjadi jawaban dalam kemandirian bangsa dalam menghadapi tantangan yang ada, khususnya di tengah masa pandemi COVID-19. Saat ini diperlukan inovasi-inovasi baru dalam bidang kesehatan, ekonomi, dan pendidikan,” katanya.

Sinergi triple-helix itu juga diterapkan dalam upaya menangani COVID-19. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi Penanganan COVID-19.

Ma’ruf Amin mengapresiasi atas kinerja Konsorsium yang telah menghasilkan sedikitnya 57 produk inovatif yang bermanfaat dalam menangani pandemi COVID-19 dan berbagai persoalannya di dalam negeri. (nas/ant)



Apa Pendapatmu?