Alexa Metrics

Aktivitas Mantan Prajurit Kostrad yang Menjabat PLt Ketua RW, Sadarkan Warga Lewat Operasi Wajib Masker

Aktivitas Mantan Prajurit Kostrad yang Menjabat PLt Ketua RW, Sadarkan Warga Lewat Operasi Wajib Masker Ngadiyo

indopos.co.id – Pensiun bukan berarti berhenti total. Selagi masih hidup, masih bisa memberikan manfaatnya bagi masyarakat. Itulah ngadiyo, 70, Purn. TnI yang sebelumnya bertugas di Kostrad.  Sejak 2005, dirinya pensiun. Kini, dipercaya memimpin wilayah untuk mengabdikan diri di tengah masyarakat sebagai Pelaksana Harian rw 07 Komplek Kostrad. Bagaimana kisahnya?

Momentum Hari Kemerdekaan, Kompleks Kostrad, RT 11, RW 07, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, selalu bersolek. “Biasanya ramai pas hari H peringatan kemerdekaan. Semua mengadakan lomba buat remaja. Seperti pertandingan volley futsal, dan mengadakan lomba juga untuk anak-anak.

“Bagi anak-anak, perlombaan itu bagus sebagai latihan mereka untuk berjuang menang kepada dirinya sendiri. Kalau kita gerak jalan santai biar ada motivasi berjuangnya,” ujar dia. Dia mengatakan, untuk para Veteran suka mengadakan upacara di pusat. Biasanya dapat undangan.

“Yang datang pasti sudah sepuh semuanya. Kini, sudah banyak yang berpulang (meninggal dunia-red) duluan. Veteran bisa dihitung jari di sini,” ungkap Ngadiyo.

Meski demikian, ungkap dia, hampir semua kegiatan vakum sejak pandemi Covid-19. Termasuk berpengaruh terhadap usaha ekonomi warga.

“Dengan adanya anak-anak tidak sekolah berpengaruh. Usaha pun berpengaruh menurun. Biasanya dulu anak-anak sekolah mendukung usaha kecil. Sekarang takut keluar. Jadinya usaha kecil ini otomatis juga menurun. Itu lingkup kecil saja, seperti di Komplek Kostrad ini,” beber Ngadiyo.

Masih di masa PSBB Transisi, menurut dia, warga Jakarta itu kurang memperhatikan atau peduli kesehatan. Padahal, Virus Corona tidak kelihatan dan berbahaya. Terlebih, seseorang bisa terjangkit meski kelihatan kondisi jasmaninya sehat.

“Saat lockdown ya lockdown. Satu pintu keluar masuk. Tapi suruh pake masker saja susah. Kemarin kita operasi masker dan untuk mendidik kesadaran warga. Harapan kami setelah pandemi selesai ekonomi bergeliat lagi,” tandas dia.

Suami dari Nani, 65, itu kini sudah dikarunia 4 anak dan 7 cucu. Dia bahagia karena anak dan cucunya sudah kuliah. Sebelumnya, dia mengajar Ilmu beladiri Taekwondo sejak tahun 1970-2013. Sempat mengajar di Cilodong, Batalyon 328, dilengkapi Jujistsu, Merpati Putih, mengajar di Karawang di Batalyon 305 Kostrad.

Sampai Batalyon itu ditugaskan ke Lebanon, 2006. Tetapi sejak dirinya terkena serangan jantung dan stroke ringan, aktivitas mengajar Taekwondo terpaksa berhenti.

“Kalau untuk kebugaran hanya buat sendiri saja. Kemudian, saya teruskan aktif di Club Jantung sehat. Kata Dokter, saya disuruh olahraga ringan,” tutur pria  yang pernah bertugas di Timor Timur pada 1976 itu.

“Mengisi kekosongan lainnya, untuk di lingkungan RW 07 ini kita tanami sayuran kangkung, sawi, terong, cabe, dan tanaman toga. Kita RW andalan DKI, PKK kita berjalan sekali. Sampai lomba Posyandu raih tingkat nasional, Kampung Iklim juga meliputi kebersihan, penghijauan, banyak oksigen. Kita punya 50 sumur resapan di masing-masing RT,” terang dia.
Ngadiyo menambahkan, dirinya bersama warga RW 07 ikut membudidayakan ikan lele dan ikan nila.

“Jadi, di kantor RW 07 ini lengkap ada budidaya ikannya dan berkebunnya juga ada,” beber dia.  Memaknai Kemerdekaan RI, kata Ngadiyo, hal itu sangatlah sakral bagi Bangsa Indonesia. “Kalau orang dulu, pahlawan mengorbankan nyawanya, dan hartanya. Pahlawan itu tak hanya tentara, guru juga ada,” tambah dia.

Ia juga berharap agar generasi penerus bangsa melanjutkan perjuangan para pahlawan.

“Jangan sampai anak sekarang kurang menjiwai. Dulu saya merinding ketika (bendera) merah putih bisa berkibar. Dulu di Tim-Tim mengibarkan bendera merah putih saja susah,” imbuh dia mengingat masa bertugas.

Ngadiyo juga menyinggung perihal pemberitaan soal adanya pihak yang ingin merubah ideologi Pancasila. “Terkadang saya miris, mengelus dada, jika mendengar isu pemberitaan ada orang yang ‘sok pintar’ mau merubah Ideologi Pancasila,” tandas dia. (*)



Apa Pendapatmu?