Alexa Metrics

Jelang Perempat Final Liga Champions, Saatnya Atalanta Habisi PSG

Jelang Perempat Final Liga Champions, Saatnya Atalanta Habisi PSG

indopos.co.id – La Dea (sang dewi) Atalanta coba-coba merajut mimpi. Mimpinya tidaklah muluk-muluk. Mereka coba-coba mengalahkan tim Crazy Rich Paris Saint Germain dalam partai perempat final Liga Champions di Estadio da Luz, Lisbon. Pelatih La Dea Gian Piero Gasperini sudah terbang langsung bersama anak asuhannya ke Lisbon, Portugal, Senin (10/8), kemarin.

Hal yang sama juga dilakukan Paris Saint Germain. Mereka juga terbang ke Portugal, Minggu (8/8). Dasar tim kaya raya, mereka memilih tidak ke Lisbon. PSG memilih markas mereka di Faro. Jarak Lisbon ke Faro hanya selemparan batu kalau dengan pesawat. Jaraknya sekitar 2 jam 40 menit bermobil atau 279 km. Faro adalah sebuah kota pelabuhan di selatan Lisbon. PSG tentu punya pesawat khusus yang menerbangkan tim crazy rich ini dari Faro ke Lisbon.

Bayangkan saja,  gaji Neymar bisa menutupi seluruh tagihan gaji untuk skuad Atalanta. Neymar mendapatkan penghasilan sebanyak yang dikumpulkan seluruh tim Atalanta. Pemain Brasil itu memiliki gaji senilai 36 juta Euro per tahun. Gaji tertinggi di skuat Atalanta adalah Papu Gomez, Josip Ilicic,  dan Duvan Zapata masing-masing menerima upah € 1.2 juta Euro per tahun plus bonus terkait performa.

Sang Dewi datang dengan membawa pasukan berani mati. Atalanta adalah prototipe tim yang bermain kolektif. Ketika tim dalam kondisi prima, gemulai tarian sang dewi bisa meninabobokan tim mana pun, tidak terkecuali PSG. Belakangan pelatih Thomas Tuchel harus putar otak agar mereka bisa terbuai jeratan permainan sang Dewi. Dalam rangking UEFA, meski sudah tersisih, Real Madrid menempati rangking tertinggi. PSG menempati ranking tujuh dengan nilai 105.000. Bandingkan dengan Atalanta yang menempati rangking 51 dengan nilai 32.500.

Kenapa Tuchel harus memeras otak? PSG datang dengan membawa seribu satu masalah.  Tim ini compang-camping. Tidak utuh. Bahkan Tuchel sendiri cedera. Tidak usah banyak-banyak, sebut saja dua masalahnya. Pertama, lini tengah. Playmaker Marco Veratti terkapar cedera. Veratti sudah mengucapkan au revoir La Ligue des Champions atau selamat tinggal Liga Champions.  Kedua, calon superstarnya Kylian Mbappe juga belum 100 persen fit.

Kylian Mbappé memang sudah ikut latihan bersama rekan satu timnya untuk pertama kalinya sejak cedera pergelangan kakinya, kemarin.  Nongolnya Mbappe itu tentu saja membuka peluangnya tampil menghadapi La Dea Atalanta semakin kuat.

Mbappé semula diperkirakan harus absen dari pertandingan ini setelah pergelangan kakinya terkilir parah usai Final Coupe de France melawan Saint-Etienne pada 24 Juli. Namun, ia masuk dalam skuad yang berangkat ke Portugal untuk turnamen Delapan Besar Liga Champions.

Latihan dimulai di Faro kemarin. Suhu udaranya tidak terlalu panas untuk sesi pagi. Mereka juga akan berlatih pada malam harinya. Laporan terakhir mengklaim Mbappé berpartisipasi dalam sebagian sesi latihan Senin, namun ia absen di bagian tengah, tetapi kembali bekerja dengan rekan satu timnya di akhir sesi.

Menurut laporan media di Prancis, Marco Verratti tidak hanya akan absen di pertandingan Atalanta, tetapi juga di seluruh Liga Champions, jika PSG maju.  Pemain internasional Italia itu mengalami cedera betis selama sesi latihan awal pekan ini, itu rumor saat bertabrakan dengan rekan setimnya Eric Choupo-Moting.

Verratti memang berada dalam skuad ke pergi Portugal, namun kondisinya diyakini cukup serius. RMC Sport mengklaim tes terbaru tidak meyakinkan, dan Verratti tidak hanya akan tersingkir dari perempat final hari Rabu dengan Atalanta, tetapi dia mungkin tidak bisa bermain bahkan jika PSG mencapai Final. Cedera menumpuk untuk Paris Saint-Germain, karena Kylian Mbappé juga sangat diragukan karena pergelangan kaki terkilir, sementara Layvin Kurzawa juga tidak fit sepenuhnya.

Thomas Meunier telah mengundurkan diri, Edinson Cavani meninggalkan klub di akhir kontraknya, sementara Angel Di Maria diskors. Dalam putaran yang aneh, bahkan pelatih Thomas Tuchel mengalami cedera saat sesi latihan Kamis pekan lalu, pergelangan kakinya terkilir dan metatarsal kelima di kakinya patah.

Mimpi Jadi Polisi, Nyasar ke Sepak Bola

Nyaris semua tokoh tokoh kunci La Dea belakangan memilih jauh dari pers. Namun ada satu pemain yang justru berapi-api memberikan komentar. Dialah Robin Gosens. Gosens adalah salah satu motor Atalanta. Ia paling sering terlibat dalam gol-gol La Dea belakangan ini. Gosens sejatinya adalah pemain campuran Belanda Jerman. Ia lahir di Emmerich Am Rheim. Ia bisa bermain di be kiri, tetapi bisa juga sebagai gelandang. Semuanya tergantung dari kebutuhan tim, termasuk prototipe lawannya.

Robin Gosens mengungkap rahasia sukses Atalanta dalam metode latihan intensif mereka dan keunggulan Liga Champions atas PSG. “Mereka bukan unit tim,’’ kata Gosens  “Kami memiliki keunggulan ganda dalam pertandingan ini,” kata Gosens kepada majalah Sportweek La Gazzetta dello Sport. “Yang pertama adalah kebugaran pertandingan, karena di Italia musim dilanjutkan dan sampai pada kesimpulan, sedangkan di Prancis tidak demikian. Terlepas dari dua Final Piala, mereka belum bermain dalam empat atau lima bulan.

Keunggulan kedua adalah kami bergerak sebagai sebuah tim. PSG memiliki banyak pemain top yang bisa menentukan permainan dengan satu gerakan individu, tapi mereka bukan satu kesatuan tim. ”

Kolektivitas telah membawa La Dea melesat hingga perempat final. Fase-fase setelah babak knock out adalah fase mimpi buat Atalanta. Mereka kini sudah melewati fase pertama.  “Kerja keras yang kami lakukan selama sepekan ini luar biasa. Sejujurnya, saya bermain reguler di Belanda, tapi saya berkeringat tiga kali lebih banyak dengan Atalanta. Jika kami tidak memiliki permainan selama seminggu, kami melakukan latihan kekuatan.

“Jika Anda tidak memiliki banyak udara di paru-paru, Anda tidak bisa memainkan gaya sepak bola kami, yang merupakan kerja keras dan berisiko pada saat yang bersamaan. Tapi tidak ada satu hari pun yang berlalu ketika kami juga tidak melatih bola dalam latihan. “Gasperini selalu memberi tahu kami: ‘Jika kami tidak mampu memainkan bola, kami tidak akan dapat memasukkannya ke dalam gawang.'”

Gosens menyumbangkan 10 gol dan delapan asis di semua kompetisi musim ini, tetapi apakah secara teknis dia masih menjadi bek dalam formasi 3-5-2 Gasperini? “Itu pertanyaan yang bagus… Peran saya adalah menutupi seluruh sayap kiri. Dalam sistem Gasperini, saya harus menyerang dan bertahan. Saya bukan hanya seorang pemain sayap menyerang. Jadi, untuk menjawab pertanyaan Anda, saya adalah pemain menyerang, tetapi juga seorang bek. ”

Gosens memiliki kewarganegaraan ganda Jerman dan Belanda, dengan laporan bahwa dia akan dipanggil tim nasional Jerman. “Hati saya terbagi dua. Saya punya banyak teman Belanda, saya bermain di Belanda, tapi akhirnya saya tumbuh besar di Jerman. Jadi, katakanlah 51 persen dari saya adalah orang Jerman. ”

Pemain berusia 26 tahun itu juga tegah mengincar gelar sarjana psikologi dan meyakinkan masa depannya akan membuka klinik untuk membantu atlet profesional menghadapi tekanan olahraga di level tertinggi. “Saya dulu bermimpi menjadi polisi, karena kakek saya di polisi. Ayah saya bermain sepak bola, tetapi dia berhenti di level amatir, karena pada titik tertentu bir pasca-pertandingan mulai menjadi lebih penting baginya daripada pertandingan itu sendiri! “Saya bermain di liga amatir juga, sampai usia 19 tahun.” (*)



Apa Pendapatmu?