Alexa Metrics

Pendidikan di Zona Kuning Boleh Dibuka

Pendidikan di Zona Kuning Boleh Dibuka Siswa membuat pelindung wajah (face shield) dengan dibantu guru di halaman SMP Negeri 13 Solo, Jawa Tengah, Jumat (12/6/2020). Foto: ANTARA/Maulana Surya

indopos.co.id – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdikbud Ainun Na’im menuturkan, penyesuaian SKB Empat Menteri memberikan penyesuaian bagi daerah di zona kuning untuk membuka kembali satuan pendidikan. Pemerintah pusat mempersilakan sekolah dibuka namun semua keputusan ada di tangan pemerintah daerah. “Ini bukan paksaan atau kewajiban. Keputusan tetap ada di pemerintah daerah, kepala sekolah, komite sekolah dan orang tua,” tegasnya.

Ia meminta penerapan SKB Empat menteri harus mengikuti prosedur dan protokol kesehatan. Oleh karena itu sekolah harus melaksanakan persiapan, sehingga kesehatan siswa tetap terjaga. “Kami meminta pemerintah daerah untuk mengawasi bagaimana perjalanan siswa dari rumah ke sekolah, proses pembela- jaran di kelas dan jumlah siswa di kelas,” ujarnya.

Dengan adanya kebijakan relaksasi ini maka diharapkan 43 persen peserta didik dan pendidik yang saat ini berada di zona kuning dan hijau bisa memulai pembelajaran tatap muka. Namun untuk peserta didik dan pendidik yang berada di zona oranye dan merah harus tetap melaksanakan pembelajaran dari rumah.

“Khusus bagi peserta didik pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memerlukan pembelajaran praktik, maka diizinkan untuk datang ke sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” katanya.

Ia menjelaskan, pembukaan kem- bali satuan pendidikan untuk pelak- sanaan tatap muka harus dilakukan secara bertahap. Untuk satuan pendidikan umum dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan SMK, tatap muka dilaksanakan dengan jumlah peserta didik sebanyak 30-50 persen dari kapasitas kelas.

Sementara itu untuk Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Pendi- dikan Anak Usia Dini (PAUD)/Taman Kanak-kanak (TK) jumlah maksi- mal di dalam satu kelas sebanyak 5 peserta didik.

Lalu untuk Madrasah dan sekolah berasrama di zona hijau dan zona kuning dapat membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka sejak masa transisi. Kapasitas asrama dengan jumlah peserta didik kurang dari atau sama dengan 100 orang pada masa transisi bulan pertama adalah 50 persen, bulan kedua 100 persen, kemudian terus dilanjutkan 100 persen pada masa kebiasaan baru.

Untuk kapasitas asrama dengan jumlah peserta didik lebih dari 100 orang, pada masa transisi bulan pertama 25 persen, dan bulan kedua 50 persen, kemudian memasuki masa kebiasaan baru pada bulan ketiga 75 persen, dan bulan keempat 100 persen. (nas)



Apa Pendapatmu?